Wacana pengambilalihan pengelolaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mendapat tanggapan dari Ketua Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah PDI Perjuangan Jawa Barat, Sutrisno.
Bagi mantan Bupati Majalengka itu, BIJB Kertajati bukan sekadar bandara, melainkan hasil perjuangan panjang yang dibangun dengan harapan mengubah wajah perekonomian masyarakat 'Kota Angin'.
Sutrisno masih mengingat betul proses saat pembangunan bandara dimulai. Ketika itu, warga di Kecamatan Kertajati, khususnya pemilik lahan, banyak yang menolak melepas tanahnya. Penolakan muncul karena lahan pertanian tersebut menjadi satu-satunya sumber penghidupan masyarakat.
Sebagai kepala daerah saat itu, Sutrisno mengaku turun langsung menemui warga bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ia berupaya meyakinkan masyarakat bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia karena kehadiran bandara diyakini akan memunculkan pusat-pusat ekonomi baru di Majalengka.
"Yang kami sampaikan kepada masyarakat waktu itu, lahan pertanian memang berubah menjadi bandara. Tapi tujuannya agar kehidupan masyarakat juga berubah menjadi lebih baik melalui aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya," kata Sutrisno kepada detikJabar, Minggu (28/6/2026).
"Saya juga memberikan contoh bagaimana Jakarta berkembang. Dahulu daerah itu masih didominasi pohon-pohon, tetapi kini menjadi pusat ekonomi nasional. Orang dari berbagai daerah datang ke Jakarta mencari pekerjaan untuk memperoleh penghasilan," sambungnya.
Menurutnya, pembangunan BIJB juga bukan keputusan yang lahir dalam waktu singkat. Penentuan lokasinya melalui berbagai kajian dan sempat mempertimbangkan sejumlah daerah lain di Jawa Barat sebelum akhirnya Kertajati dipilih.
Simak Video "Video AHY Soroti Bandara Kertajati: Bagus tapi Lokasinya Antah Berantah"
(mso/mso)