Di tengah jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia yang memadati Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, kabar duka datang bagi masyarakat Kabupaten Cirebon. Hingga awal Juni 2026, sebanyak lima jemaah haji asal Kabupaten Cirebon dilaporkan meninggal dunia di Makkah saat menjalani rangkaian ibadah haji.
Kepergian para tamu Allah tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang menanti di kampung halaman. Namun di balik kabar tersebut, tersimpan kisah perjuangan para jemaah lanjut usia yang berupaya menuntaskan panggilan suci setelah menanti bertahun-tahun untuk berangkat ke Tanah Suci.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Seksi Bina Pengendalian Haji dan Umrah Kementerian Agama Kabupaten Cirebon Mufid menjelaskan seluruh jemaah yang wafat merupakan kelompok lanjut usia (lansia) yang tergabung dalam Kloter 5, 13, 19, dan 25. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan fisik yang menuntut ketahanan tubuh.
Bagi para lansia, tantangan tersebut menjadi lebih berat karena harus menghadapi aktivitas ibadah yang padat di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi. "Kelima jemaah yang meninggal dunia semuanya lansia. Mereka mengalami kelelahan dan harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang jauh berbeda dengan di Tanah Air," ujar Mufid, Selasa (2/6/2026).
Suhu udara yang dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius menjadi tantangan tersendiri bagi para jemaah, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. "Perjalanan dari satu lokasi ibadah ke lokasi lainnya, ditambah kepadatan jemaah dari berbagai negara, membuat stamina terkuras lebih cepat," bebernya.
Meski demikian, Mufid memastikan kondisi jemaah haji asal Kabupaten Cirebon secara umum masih terpantau baik. Petugas haji bersama tenaga kesehatan terus melakukan pemantauan intensif, khususnya terhadap jemaah lansia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit bawaan.
Upaya pendampingan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan para jemaah tetap dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
"Kami selalu berikan edukasi mengenai pentingnya menjaga asupan cairan, mengatur aktivitas fisik, serta memanfaatkan waktu istirahat terus diberikan kepada para jemaah," tuturnya.
Kabar wafatnya lima jemaah asal Kabupaten Cirebon ini menjadi tanda bahwa ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan fisik yang matang. Terlebih bagi jemaah lanjut usia yang harus menghadapi perbedaan cuaca, lingkungan, dan aktivitas yang jauh lebih berat dibandingkan keseharian mereka di Indonesia.
Di balik setiap langkah yang ditempuh menuju Masjidil Haram, tersimpan perjuangan panjang para jemaah untuk menyempurnakan rukun Islam kelima. Bagi mereka yang wafat di Tanah Suci, kepergian tersebut menjadi bagian dari perjalanan terakhir dalam memenuhi panggilan Allah SWT.
(sud/sud)
