Doa dan Air Mata Iringi Pemakaman KH Adib Rofiuddin di Buntet Cirebon

Doa dan Air Mata Iringi Pemakaman KH Adib Rofiuddin di Buntet Cirebon

Devteo Mahardika - detikJabar
Senin, 01 Jun 2026 18:47 WIB
Ribuan orang mengantar almarhum KH Adib di tempat peristirahatan terakhir
Ribuan orang mengantar almarhum KH Adib di tempat peristirahatan terakhir. (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Jakarta -

Lantunan tahlil dan kalimat tauhid mengalun tanpa henti siang itu. Ribuan orang memadati gang-gang sempit di lingkungan Buntet Pesantren, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Senin (1/6/2026).

Mereka datang dari berbagai penjuru. Santri, alumni, warga sekitar, hingga para tokoh masyarakat berbaur menjadi satu dalam lautan manusia yang mengiringi perjalanan terakhir KH Adib Rofiuddin Izza, ulama kharismatik yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk pesantren dan masyarakat.

Keranda yang berhias ronce melati dan berselimut kain hijau bertuliskan kaligrafi Arab itu perlahan bergerak di atas pundak para pelayat. Beberapa warga mengabadikan momen tersebut melalui telepon genggam. Namun lebih banyak yang memilih menundukkan kepala, melafalkan doa dengan suara lirih, seolah enggan melepaskan sosok yang selama ini mereka hormati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mata-mata sembab tampak di berbagai sudut.

ADVERTISEMENT

Di halaman rumah duka yang penuh sesak, tak sedikit pelayat yang mengusap air mata saat keranda mulai meninggalkan kediaman almarhum. Gang-gang yang biasanya tenang berubah menjadi jalur panjang iring-iringan duka.

Di sepanjang perjalanan, bendera kuning berkibar perlahan diterpa angin. Di depan rumah-rumah warga, barisan ibu-ibu, anak-anak, hingga para lansia berdiri menyaksikan prosesi tersebut. Sebagian terdiam. Sebagian lagi tak kuasa menyembunyikan kesedihan ketika keranda melintas di hadapan mereka.

Yang terdengar hanyalah lantunan doa dan zikir yang terus mengalir mengiringi langkah para pelayat.

Keranda bergerak perlahan di tengah rapatnya barisan pria berpeci hitam dan berbaju koko putih. Mereka bergantian mengusung jenazah melewati jalan-jalan sempit menuju Masjid Agung Buntet Pesantren untuk disalatkan.

Di dalam masjid yang dipenuhi jemaah, keranda diletakkan di bagian depan. Saf-saf pelayat membentang hingga ke halaman. Sementara ribuan orang lainnya menunggu di luar, berharap bisa ikut memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka kenal sebagai guru, pengasuh, sekaligus panutan.

Usai salat jenazah, perjalanan berlanjut menuju kompleks pemakaman keluarga.

Dari kejauhan, iring-iringan pelayat tampak mengular membelah jalan desa. Hamparan lahan hijau dan deretan pohon kelapa di sepanjang jalur pemakaman menjadi saksi bisu perjalanan terakhir seorang ulama yang begitu dicintai masyarakat.

Keranda kembali diusung secara bergantian. Kain hijau bersulam kaligrafi emas yang menutupinya tampak mencolok di antara lautan manusia yang terus melangkah mengiringi.

Tak sedikit pelayat yang menengadahkan tangan saat keranda melintas. Sebagian memilih tetap mengikuti rombongan hingga ke area pemakaman, seakan belum rela berpisah.

Prosesi tersebut menjadi gambaran nyata besarnya kecintaan masyarakat terhadap KH Adib. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi ribuan santri dan alumni yang pernah merasakan sentuhan ilmu, nasihat, dan keteladanan darinya.

Suasana haru sebenarnya telah menyelimuti Buntet Pesantren sejak siang hari, ketika jenazah KH Adib tiba dari Jakarta sekitar pukul 13.47 WIB.

Sirene ambulans perlahan mereda saat kendaraan pembawa jenazah memasuki halaman rumah duka.

Ratusan bahkan ribuan pelayat yang sejak pagi menunggu kedatangan jenazah spontan mendekat. Seorang perempuan paruh baya tampak harus dipapah keluarganya karena tak mampu menahan kesedihan.

Adik almarhum, Kiai Aris Ni'matullah, mengaku keluarga masih sulit mempercayai wafatnya sosok yang selama ini menjadi panutan keluarga sekaligus ribuan santri. Menurutnya, kondisi KH Adib sempat membaik setelah menjalani perawatan sebelum Ramadan. Bahkan setelah bulan suci berakhir, sang kiai terlihat sehat dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

"Setelah Ramadan itu beliau sehat. Sehat sekali. Bahkan sudah olahraga, enggak ada apa-apa lagi. Dikontrol terus sama dokter juga rutin," ujarnya.

Meski belum pulih sepenuhnya, KH Adib memilih kembali ke pesantren karena ingin menjalani Ramadan bersama para santri. "Sebetulnya belum pulih, cuma pengen pulang karena pengen menyaksikan Ramadan di rumah dan bersama santri-santri," katanya.

Namun beberapa hari menjelang wafat, Kiai Aris melihat perubahan yang sulit dilupakannya. Menurut dia, sang kakak lebih sering menangis saat beribadah.

Air mata mengalir setiap kali mengingat istri dan anak-anaknya yang sedang berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.

"Di salat menangis enggak berhenti-berhenti. Dia ingat keluarganya yang ada di Saudi pada haji. Katanya, 'Ya, tua harusnya haji. Kenapa saya enggak bisa haji?," tuturnya.

Tak lama kemudian, kondisi KH Adib mendadak menurun.

Saat berbincang santai di lingkungan pesantren, ia tiba-tiba pingsan tanpa menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan sebelumnya.

"Enggak ada tanda-tanda apa. Malahan santri ada yang disuruh beli pisang, ada yang disuruh beli rujak. Tiba-tiba kemudian pingsan," kenangnya.

KH Adib kemudian menjalani perawatan hingga dirujuk ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Di rumah sakit itulah ulama yang dikenal rendah hati tersebut mengembuskan napas terakhirnya.

Ia merasa sang kakak seolah menunggu kepulangan istri dan anak-anaknya dari Tanah Suci sebelum pergi untuk selamanya.

"Saya sih pikirannya itu nunggu anak-anaknya yang lagi haji. Semalam istrinya dan anak-anaknya pulang, paginya sekarang wafat," ujarnya lirih.

Kini, KH Adib telah beristirahat di tempat yang pernah dipilihnya sendiri. Di kompleks pemakaman keluarga Buntet Pesantren, ia dimakamkan berdampingan dengan sosok yang sangat dicintainya semasa hidup, sang ibu.

Di tempat itu, ribuan doa terus mengalir. Dan di hati banyak orang, jejak pengabdian serta keteladanan KH Adib akan tetap hidup jauh melampaui usia.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads