Rekomendasi 4 Tempat Bersejarah di Kuningan Untuk Libur Akhir Pekan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Sabtu, 30 Mei 2026 07:00 WIB
Suasana Museum Taman Purbakala Cipari Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib)
Kuningan -

Selain memiliki beragam destinasi wisata alam, Kabupaten Kuningan juga menyimpan banyak situs bersejarah yang menarik untuk dikunjungi saat libur akhir pekan. Di lokasi-lokasi tersebut, pengunjung dapat berwisata sekaligus mempelajari sejarah secara langsung.

Lebih jelasnya, berikut adalah rekomendasi tempat bersejarah di Kabupaten Kuningan:

Situs Makam Pangeran Arya Kemuning

Situs petilasan Pangeran Arya Kemuning. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Salah satu tokoh krusial dalam sejarah Kabupaten Kuningan adalah Pangeran Arya Kemuning. Ia merupakan Adipati pertama Kuningan yang memerintah pada abad ke-15 Masehi. Guna mencapai lokasi makam, pengunjung harus melewati kawasan permukiman penduduk di Blok Cipicung, Kecamatan Kuningan, kemudian menyusuri gang kecil hingga menemukan gapura candi bentar.

Setelah melewati gapura, pengunjung akan disuguhi bangunan yang di dalamnya terdapat empat makam keramat. Keempat makam tersebut diyakini sebagai peristirahatan terakhir Pangeran Arya Kemuning, istrinya yang bernama Nyi Mas Manawati, Syekh Maulana Arifin (putra Syekh Maulana Akbar), serta Pangeran Putih yang merupakan kerabat dekat sang Adipati.

Di lokasi ini, pengunjung dapat berziarah atau sekadar bersantai di gazebo yang dikelilingi pepohonan rindang. Pengunjung juga dapat mempelajari sejarah Pangeran Arya Kemuning. Konon, nama Kemuning berasal dari julukan sang Pangeran yang memiliki kulit kekuningan, serupa dengan kulit ibunya, Putri Ong Tien. Tidak ada biaya tiket masuk untuk berziarah, pengunjung hanya diimbau untuk menjaga kebersihan dan ketenangan suasana makam.

Rumah Adat Eyang Hasan Maolani

Rumah adat Eyang Hasan Maolani di Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Destinasi bersejarah selanjutnya adalah Rumah Eyang Hasan Maolani yang berlokasi di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Berbeda dengan hunian pada umumnya, bangunan ini berbentuk rumah panggung yang dikonstruksi menggunakan susunan kayu.

Eyang Hasan Maolani merupakan seorang ulama sekaligus pejuang asal Kuningan yang hidup sekitar abad ke-19 Masehi. Karena keberanian dan konsistensinya dalam menentang penjajahan Belanda, pada tahun 1843, ia diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara, hingga wafat di sana pada tahun 1874 Masehi.

Meski wafat dan dimakamkan di Manado, rumah peninggalannya saat menetap di Kuningan masih terjaga dengan baik. Di dalamnya tersimpan berbagai benda bersejarah milik Eyang Hasan Maolani, seperti terompah, jubah, kitab, dan artefak lainnya.

Tidak jauh dari rumah adat tersebut, terdapat situs yang dikenal sebagai "makam rambut". Konon, di dalam makam itu tersimpan rambut Eyang Hasan Maolani yang dikirimkan langsung dari Manado. Keberadaan makam rambut ini bertujuan agar keturunan dan masyarakat setempat tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke Manado untuk berziarah.




(yum/yum)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork