Selain memiliki beragam destinasi wisata alam, Kabupaten Kuningan juga menyimpan banyak situs bersejarah yang menarik untuk dikunjungi saat libur akhir pekan. Di lokasi-lokasi tersebut, pengunjung dapat berwisata sekaligus mempelajari sejarah secara langsung.
Lebih jelasnya, berikut adalah rekomendasi tempat bersejarah di Kabupaten Kuningan:
Situs Makam Pangeran Arya Kemuning
Situs petilasan Pangeran Arya Kemuning. Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
Salah satu tokoh krusial dalam sejarah Kabupaten Kuningan adalah Pangeran Arya Kemuning. Ia merupakan Adipati pertama Kuningan yang memerintah pada abad ke-15 Masehi. Guna mencapai lokasi makam, pengunjung harus melewati kawasan permukiman penduduk di Blok Cipicung, Kecamatan Kuningan, kemudian menyusuri gang kecil hingga menemukan gapura candi bentar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melewati gapura, pengunjung akan disuguhi bangunan yang di dalamnya terdapat empat makam keramat. Keempat makam tersebut diyakini sebagai peristirahatan terakhir Pangeran Arya Kemuning, istrinya yang bernama Nyi Mas Manawati, Syekh Maulana Arifin (putra Syekh Maulana Akbar), serta Pangeran Putih yang merupakan kerabat dekat sang Adipati.
Di lokasi ini, pengunjung dapat berziarah atau sekadar bersantai di gazebo yang dikelilingi pepohonan rindang. Pengunjung juga dapat mempelajari sejarah Pangeran Arya Kemuning. Konon, nama Kemuning berasal dari julukan sang Pangeran yang memiliki kulit kekuningan, serupa dengan kulit ibunya, Putri Ong Tien. Tidak ada biaya tiket masuk untuk berziarah, pengunjung hanya diimbau untuk menjaga kebersihan dan ketenangan suasana makam.
Rumah Adat Eyang Hasan Maolani
Rumah adat Eyang Hasan Maolani di Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
Destinasi bersejarah selanjutnya adalah Rumah Eyang Hasan Maolani yang berlokasi di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Berbeda dengan hunian pada umumnya, bangunan ini berbentuk rumah panggung yang dikonstruksi menggunakan susunan kayu.
Eyang Hasan Maolani merupakan seorang ulama sekaligus pejuang asal Kuningan yang hidup sekitar abad ke-19 Masehi. Karena keberanian dan konsistensinya dalam menentang penjajahan Belanda, pada tahun 1843, ia diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara, hingga wafat di sana pada tahun 1874 Masehi.
Meski wafat dan dimakamkan di Manado, rumah peninggalannya saat menetap di Kuningan masih terjaga dengan baik. Di dalamnya tersimpan berbagai benda bersejarah milik Eyang Hasan Maolani, seperti terompah, jubah, kitab, dan artefak lainnya.
Tidak jauh dari rumah adat tersebut, terdapat situs yang dikenal sebagai "makam rambut". Konon, di dalam makam itu tersimpan rambut Eyang Hasan Maolani yang dikirimkan langsung dari Manado. Keberadaan makam rambut ini bertujuan agar keturunan dan masyarakat setempat tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke Manado untuk berziarah.
Taman Purbakala Cipari
Museum Taman Purbakala Cipari Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
Bagi Anda yang ingin mempelajari kehidupan manusia purba, Taman Purbakala Cipari di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, adalah pilihan yang tepat. Panorama susunan bebatuan peninggalan zaman megalitikum akan langsung menyambut pengunjung saat memasuki kawasan ini.
Di sini, pengunjung dapat melihat langsung artefak peninggalan manusia purba seperti dolmen, menhir, gerabah, serta kubur batu. Berbagai batuan tersebut tertata rapi di area taman yang asri. Selain koleksi luar ruangan, pengunjung juga dapat mengeksplorasi benda-benda bersejarah di dalam museum.
Di dalam museum, tersedia replika manusia purba serta aneka perkakas yang digunakan pada masa lampau. Pengunjung juga dapat mendalami sejarah Taman Purbakala Cipari melalui catatan yang tersedia. Dalam catatan tersebut menyebutkan bahwa lokasi ini dulunya merupakan permukiman manusia purba dari zaman Neolitikum hingga zaman Perunggu.
Pengunjung yang tertarik berkunjung cukup membayar tiket masuk sebesar Rp2.000. Untuk penjelasan lebih mendalam, tersedia buku panduan seharga Rp3.000. Jam operasional taman Purbakala Cipari dimulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.
Gedung Perundingan Linggarjati
Gedung Linggarjati Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
Gedung Perundingan Linggarjati merupakan salah satu situs sejarah paling ikonik di Kuningan. Gedung ini menjadi saksi bisu diplomasi antara Indonesia dan Belanda pada 11 hingga 13 November 1946.
Sebelum menjadi lokasi perundingan, bangunan ini awalnya merupakan gubuk milik warga lokal bernama Jasitem. Bangunan tersebut kemudian direnovasi oleh warga Belanda bernama Mr. Jacob pada tahun 1930 untuk dijadikan hunian bergaya kolonial. Pada tahun 1935, fungsinya beralih menjadi hotel hingga masa pendudukan Jepang.
Di dalam gedung, pengunjung dapat melihat berbagai artefak asli yang digunakan saat perundingan, seperti meja, kursi, hingga kamar tidur para delegasi. Dinding gedung juga dihiasi dengan berbagai foto dokumentasi sejarah yang autentik.
Selain nilai sejarahnya, lokasi gedung yang berada di kaki Gunung Ciremai menawarkan udara sejuk dan pemandangan Taman Linggarjati yang asri. Gedung Perundingan Linggarjati beroperasi mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB dengan harga tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak.
Itulah 4 Rekomendasi tempat bersejarah di Kabupaten Kuningan. Semoga bermanfaat.




