Majalengka Siaga El Nino, Karhutla hingga Kekeringan Mengintai

Majalengka Siaga El Nino, Karhutla hingga Kekeringan Mengintai

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Jumat, 22 Mei 2026 20:00 WIB
Ilustrasi kekeringan sebagai dampak El Nino. (Freepik)
Foto: Ilustrasi kekeringan sebagai dampak El Nino. (Freepik)
Majalengka -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka tengah bersiap menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi berdampak pada kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Puncak cuaca ekstrem tersebut diperkirakan terjadi dari Juni hingga Agustus 2026.

"Berdasarkan informasi BMKG dan koordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Barat, ekstremnya itu diperkirakan sekitar Juni, Juli, Agustus. Tapi sebetulnya berdasarkan BMKG itu bisa berlangsung sampai enam bulan," kata Kepala Pelaksana BPBD Majalengka Agus Tamim, Jumat (22/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, karhutla berpotensi mengancam hampir seluruh desa di Majalengka. Wilayah rawan berada di kawasan kaki Gunung Ciremai, namun ancaman juga muncul di daerah lain yang memiliki banyak lahan kering dan ilalang.

"Kalau kebakaran hutan memang banyak di kaki Gunung Ciremai. Tapi ada juga wilayah lain yang banyak kebun dan ilalang kering, itu juga rawan terbakar," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Selain karhutla, BPBD juga memprediksi sekitar 30 desa di Majalengka berpotensi mengalami kekeringan yang berdampak pada kebutuhan air bersih warga.

"Kurang lebih tahun ini diprediksi ada 30 desa yang terancam kekeringan terkait kebutuhan air minum. Mudah-mudahan jangan sampai terjadi," ungkap Agus.

Sebagai langkah antisipasi, kata Agus, Bupati Majalengka Eman Suherman telah menginstruksikan BPBD untuk menyiapkan penanganan kekeringan dan berkoordinasi dengan PDAM terkait distribusi air bersih.

Agus mengakui ketersediaan tangki air milik BPBD masih terbatas. Karena itu, Pemkab Majalengka telah mengusulkan bantuan peminjaman tangki air ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kita memang terbatas tangki air. Kemarin Pak Bupati mengarahkan agar segera dibuat surat usulan ke provinsi untuk peminjaman tangki air sebagai antisipasi kebutuhan air bersih," katanya.

Saat ini BPBD Majalengka memiliki satu unit tangki air. Selain itu, bantuan distribusi air juga diharapkan datang dari PDAM dan perusahaan melalui program CSR.

"PDAM selama ini banyak membantu kita, terutama memberi kemudahan mengambil air dari sumber-sumber air yang ada. Perusahaan-perusahaan juga biasanya ikut membantu masyarakat sekitar," tutur Agus.

Agus juga mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi potensi kekeringan. Pemerintah disebut telah memetakan wilayah rawan berdasarkan pengalaman kejadian beberapa tahun terakhir.

"Masyarakat jangan panik. Pemerintah insyaallah hadir ketika ada kebutuhan masyarakat. Kita juga sudah memetakan daerah-daerah rawan berdasarkan pengalaman dua sampai tiga tahun terakhir," pungkasnya.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads