Fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada peningkatan suhu dan kekeringan, tetapi juga memicu gangguan ekologis yang lebih luas. Di Indonesia, kondisi ini berpotensi mengganggu habitat satwa liar hingga meningkatkan konflik antara manusia dan hewan.
Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino merupakan anomali iklim periodik yang terjadi setiap 3-7 tahun akibat kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Melansir detikEdu, Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Abdul Haris Mustari, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan, yang berujung pada lingkungan yang semakin kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakan dan Air Satwa Menurun
Mustari menuturkan, peningkatan suhu dan kekeringan berdampak langsung pada ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar.
"Secara langsung, peningkatan suhu lingkungan dan kekeringan menyebabkan berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi satwa liar," ujarnya.
Produktivitas tumbuhan sebagai sumber pakan-seperti buah, daun, dan vegetasi bawah hutan, ikut menurun selama kemarau panjang. Jika kondisi ini berlangsung lama, kesehatan, reproduksi, hingga kelangsungan populasi satwa dapat terancam.
Risiko Konflik dengan Manusia Meningkat
Ketika sumber makanan dan air di habitat alami menipis, satwa liar cenderung memperluas wilayah jelajahnya. Mereka dapat keluar dari kawasan hutan menuju area perkebunan, lahan pertanian, bahkan permukiman warga.
"Satwa dapat keluar dari habitat hutan menuju area perkebunan bahkan permukiman manusia untuk mencari makan dan air. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar," kata Mustari.
Situasi ini kerap memicu kerusakan tanaman, gangguan terhadap warga, hingga ancaman bagi keselamatan satwa itu sendiri.
Kebakaran Hutan Perparah Kondisi
Selain kekeringan, El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga merusak habitat satwa serta mengganggu rantai makanan.
"Ketika rantai makanan terganggu dan regenerasi hutan terhambat, maka keseimbangan ekosistem akan ikut terguncang," ujarnya.
Mustari menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui perlindungan habitat alami, pengawasan wilayah rawan kebakaran, serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Dengan menjaga kelestarian hutan, keberlangsungan hidup satwa liar dapat terjamin sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem yang berdampak langsung pada kehidupan manusia dalam jangka panjang.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
(rhr/dir)
