Di bawah terik matahari Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Indramayu, Selasa (5/5/2026), Budi (42) setia mendorong gerobak siomay dan batagornya. Sesekali ia berhenti menyapa calon pembeli dengan ramah, menawarkan dagangan yang sudah ia tekuni sejak 2021 di 'Bumi Wiralodra'.
Budi bukan warga Indramayu. Ia berasal dari Kabupaten Majalengka. Demi mencari nafkah, ia memilih merantau dan tinggal di sebuah kamar kos sederhana di sekitar Bundaran Mangga.
Sementara itu, anak dan istrinya menetap di kampung halaman. "Kalau pulang kampung biasanya setiap tiga minggu sekali," ujarnya, saat ditemui pada Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan hidup sebagai pedagang keliling tidak selalu mudah. Penghasilan Budi naik turun. Jika dagangannya ludes, ia bisa membawa pulang hingga Rp 400 ribu dalam sehari. Namun, jika sepi, pendapatannya bahkan tidak mencapai Rp 100 ribu.
Cuaca menjadi salah satu faktor penentu. Jika hujan deras turun seharian, sering kali membuat dagangannya tak banyak dilirik.
"Yang ramai itu biasanya kalau Minggu pagi pas car free day, malamnya car free night, atau kalau ada acara seperti konser," katanya.
Meski demikian, Budi tetap bertahan. Ia menjalani pekerjaannya dengan penuh rasa syukur. Baginya, setiap rupiah yang didapat adalah hasil usaha yang harus disyukuri demi keluarga di rumah.
Budi,penjual siomay dan batagor di Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar) |
Di balik kesederhanaan gerobaknya, Budi menjaga kualitas dagangannya. Dalam sehari, ia membutuhkan setidaknya satu kilogram daging ayam, terutama bagian dada untuk membuat siomay.
Ia memastikan adonan selalu segar dan langsung diolah. "Harus adonan yang baru jadi, langsung diproses, dan langsung dimakan, itu pasti enak," ujarnya.
Ia juga memiliki prinsip sederhana, yaitu tidak menyisakan adonan. "Pokoknya gimana caranya adonan siomay saya di hari ini habis, jangan ada sisa, bikinnya dikira-kira aja jangan sampai sisa," tuturnya.
Namun, bagi Budi, kelezatan siomaynya bukan hanya soal bahan atau teknik memasak. Ia percaya ada kekuatan lain yang membuat dagangannya terasa istimewa. "Kalau resep siomay, sama saja seperti yang lain. Tapi yang dahsyat itu doa istri," ucapnya.
Sebelum mulai membuat adonan, ia selalu mengucapkan basmallah. Ia juga rutin mengirim pesan kepada istrinya melalui WhatsApp sebelum berangkat berjualan. "Saya bilang, 'Bu, ayah mau berangkat jualan dulu, doain, ya'. Makanya saya selalu didoakan setiap hari," tuturnya.
Budi adalah ayah dari dua anak, yaitu seorang putra kelas 8 SMP dan seorang putri kelas 3 SD. Jarak tidak mengurangi perhatiannya sebagai kepala keluarga. Ia bekerja keras agar kebutuhan anak-anaknya tetap terpenuhi.
Di tengah ketidakpastian penghasilan dan kerasnya hidup di perantauan, Budi terus melangkah. Dengan gerobak sederhana, adonan segar, dan doa yang tak pernah putus dari sang istri, ia percaya rezeki akan selalu menemukan jalannya.

