Ekspor Cirebon Terus Melejit, Tembus 432 Juta Dolar AS di 2025

Ekspor Cirebon Terus Melejit, Tembus 432 Juta Dolar AS di 2025

Devteo Mahardika - detikJabar
Senin, 04 Mei 2026 00:05 WIB
Buruh perajin rotan di Kabupaten Cirebon
Buruh perajin rotan di Kabupaten Cirebon. (Foto: Devteo /detikJabar)
Cirebon -

Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, kinerja ekspor Kabupaten Cirebon justru menunjukkan sinyal positif. Dalam tiga tahun terakhir, nilai ekspor daerah ini terus meningkat, membuktikan sektor industri lokal mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah tantangan.

Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon mencatat nilai ekspor pada 2023 mencapai 354,59 juta dolar AS. Angka tersebut melonjak signifikan pada 2024 menjadi 423,89 juta dolar AS. Memasuki 2025, tren kenaikan berlanjut meski lebih moderat dengan capaian 432,05 juta dolar AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon, Suhartono, menyebut tren ini sebagai indikator kuatnya fondasi industri pengolahan di daerah tersebut.

"Secara umum kinerja ekspor kita menunjukkan tren yang terus menguat dalam tiga tahun terakhir," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (3/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, lonjakan ekspor ini dipicu oleh performa komoditas unggulan yang menjadi andalan Cirebon di pasar internasional. Sektor rotan dan furnitur masih menjadi penyumbang utama.

Pada 2023, nilai ekspor komoditas ini mencapai 102,79 juta dolar AS dan melonjak menjadi 156,97 juta dolar AS pada 2024. Meski sempat turun ke angka 126,84 juta dolar AS pada 2025, kontribusinya tetap signifikan terhadap total ekspor daerah.

Selain itu, sektor tekstil juga menunjukkan performa yang stabil dan cenderung meningkat. Nilai ekspor tekstil tercatat sebesar 63,15 juta dolar AS pada 2023, naik menjadi 93,22 juta dolar AS pada 2024, dan kembali meningkat tipis menjadi 93,59 juta dolar AS pada 2025.

Suhartono menjelaskan, fluktuasi pada beberapa komoditas merupakan hal wajar dalam dinamika perdagangan global. Salah satu tantangan, terutama di sektor rotan, adalah ketergantungan terhadap bahan baku impor untuk kebutuhan finishing seperti pernis berbasis minyak bumi.

"Memang ada dampak dari bahan baku impor, tetapi tidak terlalu signifikan terhadap kinerja ekspor," jelasnya.

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah pelaku industri juga menjadi faktor penting dalam mendorong kinerja ekspor. Baik industri kecil dan menengah (IKM) maupun industri besar menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Peningkatan jumlah pelaku usaha ini turut berdampak pada bertambahnya kapasitas produksi serta perbaikan kualitas produk, sehingga mampu bersaing di pasar global.

Dengan tren yang terus menguat, Disperdagin Kabupaten Cirebon optimistis kinerja ekspor daerah akan terus tumbuh ke depan. Berbagai upaya peningkatan efisiensi produksi, inovasi produk, serta penguatan daya saing industri diyakini menjadi kunci untuk menjaga momentum positif ini.

"Di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat, capaian ini menjadi sinyal bahwa industri lokal Cirebon tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus melangkah maju," pungkasnya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads