Tanpa Suara, Wa'e Hidupkan Asa di Bengkel Tambal Ban Indramayu

Tanpa Suara, Wa'e Hidupkan Asa di Bengkel Tambal Ban Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Sabtu, 02 Mei 2026 07:30 WIB
Wae, seorang penyandang tunawicara dan tunarungu yang memiliki keahlian memperbaiki motor.
Wa'e, seorang penyandang tunawicara dan tunarungu yang memiliki keahlian memperbaiki motor. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Di sebuah sudut Desa Pawidean, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, kehidupan berjalan tanpa banyak riuh. Lalu lintas warga sederhana, suara kendaraan sesekali melintas, dan di tepi jalan kecil itu, sebuah bengkel tambal ban berdiri apa adanya.

Di sanalah Wahidin yang akrab disapa Wa'e, menghabiskan hari-harinya.

Tak ada sapaan lantang atau percakapan panjang dari pria kelahiran 1972 ini. Sejak lahir, Wa'e hidup sebagai penyandang tunawicara dan tunarungu. Dunia baginya sunyi. Namun justru dari kesunyian itulah, ia membangun kehidupan yang tak kalah bising oleh makna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap pagi sejak pukul enam, Wa'e sudah berada di bengkelnya. Ia bekerja hingga larut malam, melayani siapa saja yang datang. Tangannya cekatan, matanya tajam membaca kerusakan motor di hadapannya. Tanpa perlu diminta, ia kerap langsung mengambil tindakan saat melihat ban bocor atau bagian kendaraan yang bermasalah.

ADVERTISEMENT

Bagi pelanggan, Wa'e bukan sekadar tukang tambal ban.

"Dia tidak mau mengecewakan orang. Kerjanya bagus, bahkan luar biasa. Banyak bengkel lain, tapi saya tetap ke sini. Siang atau malam, dia selalu siap," ujar Ratono, salah satu pelanggan setia, saat ditemui di bengkel milik Wa'e belum lama ini.

Ketekunan itu tidak datang begitu saja. Sejak kecil, Wa'e sudah akrab dengan kerja keras. Ia membantu orang tuanya yang berprofesi sebagai tukang bengkel sepeda. Ia juga sempat bekerja sebagai pemotong kayu, sebelum akhirnya menemukan tempatnya di bengkel kecil miliknya sendiri.

Usaha itu bermula dari bantuan sang ibu, Wasiyah, yang membelikannya kompresor sebagai modal awal. Dari situ, Wa'e perlahan belajar mandiri; tanpa pendidikan formal, tanpa kemampuan bicara, dan tanpa pendengaran.

"Dulu sudah dibawa ke mana-mana, ke dokter, ke orang pintar. Katanya bisa sembuh, tapi tidak. Ya sedih, kasihan. Tapi bagaimana lagi," kenang Wasiyah.

Kesedihan itu kini berganti dengan kebanggaan yang sederhana. Wa'e tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengurus dirinya sendiri. Ia bisa berbelanja, mencuci pakaian, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa bergantung pada orang lain.

Lebih dari itu, ia Wa'e juga mampu membangun hubungan sosial. Di bengkelnya, Wae tidak pernah benar-benar sendiri. Ada Budi, sahabatnya yang juga memiliki keterbatasan dalam berbicara. Persahabatan mereka terjalin bukan hanya karena kesamaan nasib, tetapi juga karena saling memahami dalam diam.

Menariknya, warga sekitar tidak merasa kesulitan berkomunikasi dengan Wa'e. Bahasa isyarat sederhana; gerakan tangan, dan ekspresi wajah menjadi jembatan yang cukup. Seiring waktu, komunikasi itu terasa alami, bahkan akrab.

"Kalau sudah sering ketemu, jadi paham. Seperti teman dekat saja," kata Ratono.

Bagi ibunya, Wa'e adalah sosok yang penurut dan baik hati. Ia selalu menurut jika diminta membantu, bahkan tidak pernah mengeluh. Dalam diamnya, ia menyimpan keteguhan yang jarang terlihat.

Di bengkel kecil itu, Wae mengajarkan satu hal sederhana: bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang bisa kita ucapkan, tetapi tentang apa yang bisa kita lakukan. Dan dari Desa Pawidean, seorang pria tanpa suara itu telah membuktikannya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads