Di sebuah sudut Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, hidup seorang pria bernama Nurkidin (47). Hari-harinya berjalan sederhana, bahkan cenderung penuh ketidakpastian. Ia bukan pegawai tetap, bukan pula pengusaha besar, melainkan pekerja serabutan yang menggantungkan hidup dari apa saja yang bisa dikerjakannya.
Kadang Nurkidin turun ke sawah menjadi buruh tani. Di hari lain, ia menerima pekerjaan apa pun yang datang. Upahnya pun tak menentu.
"Sehari saya dapat Rp100 ribu, kadang Rp75 ribu, kadang Rp50 ribu. Kadang lebih, tapi kadang juga tidak dapat sama sekali," ujarnya lirih, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (18/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Nurkidin, hidup adalah soal menerima dan mensyukuri apa yang ada. Namun, di tengah ketidakpastian itu, ada satu hal yang selalu ia jaga yaitu harapan.
Selain bekerja serabutan, Nurkidin juga memelihara 11 ekor kambing milik orang lain. Menjelang Iduladha, rutinitas ini menjadi sumber semangat tersendiri.
Dari hasil penjualan kambing, ia akan mendapatkan bagian sebesar 50 persen. Kambing-kambing itu rencananya dijual dengan harga antara Rp4 juta hingga Rp5 juta per ekor.
"Sekarang mau kurban, kambing akan ditawarkan ke petani dan pembeli lainnya," katanya.
Di rumah sederhana yang lantainya belum dilapisi semen, Nurkidin hidup bersama istri dan dua anak laki-lakinya. Anak sulungnya kini duduk di bangku SMP, sementara si bungsu baru berusia 15 bulan. Meski dalam keterbatasan, kehangatan keluarga menjadi kekuatan utama yang membuatnya terus melangkah.
Baginya, kebahagiaan tidak selalu datang dari banyaknya uang di tangan, tetapi dari kebersamaan dan kesehatan keluarga.
"Semoga anak-anak dan istri sehat, dan kehidupan ke depannya lebih baik," harapnya.
Kisah Nurkidin adalah potret nyata keteguhan hati. Di tengah kerasnya hidup, ia memilih untuk tetap bekerja, bersyukur, dan berharap. Sebab bagi orang seperti Nurkidin, harapan bukan sekadar angan, melainkan alasan untuk terus bertahan.
(dir/dir)
