Deru mesin kendaraan menjadi latar keseharian di Desa Jambak, RT 04/RW 15, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu. Di sebuah persimpangan dekat jembatan, berdiri rumah sederhana milik Suwarjo (56), pria yang akrab disapa Jeki.
Meski letak rumah itu strategis, bukan itu yang membuatnya istimewa. Dari tempat inilah Jeki menjalani hidup yang tak biasa, sebuah perjalanan yang ditempa kecelakaan, keterbatasan, namun dibalut keteguhan hati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga dekade silam, tepatnya pada 1993, hidup Jeki berubah total. Kala itu, ia merantau ke Tanah Abang, Jakarta, bersama rekan-rekannya. Namun, sebuah kelengahan berujung petaka. Ia tertabrak kereta api.
Akibat kecelakaan hebat itu, kedua kakinya patah. Ia sempat menjalani perawatan selama 49 hari di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Namun, jeratan biaya memaksanya pulang sebelum luka-lukanya benar-benar pulih.
Waktu memang membawa kesembuhan, tetapi tidak sepenuhnya mengembalikan keadaan. Jeki tak lagi bisa berjalan normal. Namun, di tengah keterbatasan fisik tersebut, tanggung jawab sebagai kepala keluarga tetap tegak menanti.
Alih-alih menyerah pada nasib, Jeki memilih terus bertahan. Di rumah sederhananya, ia mulai menata ulang puing-puing hidupnya.
Kini, ia beternak ayam jago dan membuka warung kecil. Dengan sepeda rakitan hasil kreasinya sendiri, ia melayani pembeli yang datang silih berganti. Sepeda modifikasi itu pula yang menjadi 'kakinya' untuk beraktivitas sehari-hari.
Ia tak berjuang sendirian. Sang istri, Sami, turut menjadi pilar ekonomi keluarga. Dari dapur kecil mereka, Sami menjajakan gorengan untuk menyambung napas dapur mereka.
Saat ditemui detikJabar pada Senin (13/4/2024), Jeki tampak tenang. Wajahnya menyiratkan keikhlasan yang telah ditempa oleh waktu.
"Sudah 30 tahun lebih (kakinya patah)," ujarnya saat mengingat kejadian yang mengubah hidupnya.
Ditanya soal penerimaan diri, jawabannya sederhana namun sarat makna. "Sudah berdamai," katanya singkat.
Bagi Jeki, kunci dari ketabahannya adalah tanggung jawab. "Saya punya istri, anak, cucu. Kalau saya tidak ada, bagaimana mereka?" ucapnya.
Namun, ia tak menampik bahwa kesedihan sesekali masih menyapa, terutama saat roda ekonomi sedang sulit berputar. "Kalau tidak ada uang, ya, sedih," katanya jujur diiringi tawa kecil.
Meski begitu, ia menolak untuk larut dalam duka. Baginya, selama raga masih bisa berusaha, harapan akan selalu ada. "Selama masih bisa jualan, masih bisa cari uang, ya, tinggal dijalani saja hidup yang seperti ini," tuturnya.
Sebelumnya, Jeki sempat mencoba peruntungan dengan berjualan kayu dan membuat kusen. Namun, karena usahanya berdiri di atas lahan pemerintah, aktivitas itu terhenti akibat adanya proyek irigasi di kawasan tersebut.
Kini, selain mengandalkan warung dan ternak ayam, ia bersama istrinya juga memelihara kambing sebagai tabungan tambahan untuk masa depan.
Di persimpangan jalan desa itu, Jeki tak sekadar menjual kebutuhan pokok. Ia sedang menunjukkan makna terdalam dari bertahan hidup: menerima kenyataan tanpa harus menyerah, dan terus melaju meski dengan langkah yang tak lagi sempurna.
(orb/orb)
