Kota Bandung memang tak ada habisnya menawarkan tempat-tempat estetik yang memanjakan mata. Mulai dari kawasan kuliner hingga kedai kopi atau coffee shop yang berulang kali viral dan memantik sorotan di media sosial.
Alhasil, setiap akhir pekan, tempat-tempat tersebut kerap diburu dan nyaris selalu ramai oleh wisatawan. Mereka terkadang tak hanya ingin mencicipi kuliner yang ditawarkan, melainkan juga merasakan suasana baru di lokasi yang tengah viral.
Namun di balik unggahan sejumlah tempat kuliner hingga coffee shop yang viral, masih ada kalangan yang memilih berjualan dengan cara tradisional. Sudiran (50) salah satunya, pedagang kopi yang setia berkeliling mencari pelanggan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehari-hari, Diran, begitu ia akrab disapa, biasanya mangkal di kawasan Masjid Istiqamah, Kota Bandung. Namun pada pagi hari, dia kerap melipir sebentar ke Pengadilan Negeri (PN) Bandung untuk menjemput pelanggan.
Kepada detikJabar, Diran bercerita ia sudah menekuni usaha tersebut sejak tahun 2000-an. Dari rumahnya di Sindanglaya, Diran mengawali langkah kaki hingga ke Masjid Istiqamah untuk mencari nafkah demi keluarga kecilnya.
"Kalau jualan mah sehari-hari nongkrong di sini. Paling melipir ke pengadilan, ke Gedung Sate, tapi biasanya paling lama di Istiqamah aja," demikian kata Diran mengawali perbincangannya dengan detikJabar belum lama ini.
Diran merupakan pendatang di Kota Bandung sejak 1995 setelah memutuskan merantau dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebagai seorang pria, ia memegang prinsip kuat untuk hidup berkelana dan menjemput sendiri kesuksesannya.
Lantaran puluhan tahun hidup jauh dari keluarga, Diran sudah merasakan betul pahit manisnya kehidupan. Namun, semua itu ia lalui dengan senyuman karena yakin bahwa Sang Pencipta telah menyiapkan rezeki untuk masing-masing umat-Nya.
Di tanah rantauan, Diran dipertemukan dengan pasangannya, seorang perempuan yang berasal dari Lampung. Ia kini sudah menikah dan dikaruniai dua anak, perempuan dan laki-laki.
"Yang perempuan udah lulus SMK dan udah kerja sekarang, kalau yang laki-laki masih SD," ucapnya.
Selama berjualan kopi keliling, Diran tampak tak pernah mengeluhkan kondisinya. Berapapun hasil jualan yang ia peroleh hari itu, selalu ia syukuri untuk menafkahi keluarga kecilnya.
Bicara soal coffee shop alias kedai kopi yang kian viral di Bandung, Diran mengaku tak mempermasalahkan hal itu. Sebab dalam pandangannya, setiap pedagang sudah memiliki pelanggan masing-masing sesuai dengan tempat ngopi yang diinginkan.
Diran misalnya, menjual secangkir kopi dengan harga Rp 5.000. Harga tersebut tentu jauh lebih murah dari harga di kedai kopi, yang baginya diperuntukkan bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.
"Intinya mah gini, semua orang pasti suka ngopi. Saya, ya ngejual kopi dengan harga yang murah biar terjangkau sama banyak orang. Enggak apa-apa sekarang banyak coffee shop yang viral, namanya rezeki mah udah ada yang ngatur," ungkapnya.
"Yang penting harus disyukuri berapapun nilainya. Intinya mah selagi ada buat nafkah keluarga, itu semua harus kita syukuri," kata Diran menutup perbincangannya bersama detikJabar.
(ral/orb)










































