Cirebon Raya Sepekan: Heboh SD Rusak di Samping Dapur MBG Mentereng

Jabar Sepekan

Cirebon Raya Sepekan: Heboh SD Rusak di Samping Dapur MBG Mentereng

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 19 Apr 2026 16:30 WIB
Bangunan sekolah SDN Gandawesi II yang disorot publik karena jomplang dengan dapur MBG.
Bangunan sekolah SDN Gandawesi II yang disorot publik karena jomplang dengan dapur MBG. (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Beragam peristiwa terjadi di wilayah Cirebon Raya pekan ini, dari mulai bangunan dapur MBG di Majalengka yang lebih megah dibandingkan bangunan sekolah hingga lonjakan kasus campak di Cirebon yang membuat 2 pasien meninggal dunia.

Berikut rangkuman Cirebon Raya dalam sepekan:

Bangunan MBG Lebih Bagus Dibandingkan Sekolah di Majalalengka

Viral di media sosial sebuah bangunan sekolah dasar di Kabupaten Majalengka yang tampak jomplang dengan bangunan dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) menuai sorotan publik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekolah yang menjadi perhatian publik itu adalah SDN Gandawesi II yang berada di wilayah Kecamatan Ligung, Majalengka. Di tengah kondisi dapur yang terlihat bagus, bangunan sekolah tersebut justru tampak memprihatinkan.

ADVERTISEMENT

Menanggapi hal itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Majalengka memastikan segera melakukan penanganan terhadap sekolah tersebut. Bahkan, tahun ini sudah masuk dalam rencana perbaikan.

Kepala Disdik Majalengka Raden Muhammad Umar Ma'ruf menyampaikan jauh sebelum viral, pihaknya sudah melakukan pendataan dan pemetaan kondisi sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMP di seluruh Majalengka. Hal itu merupakan upaya bagian dari skema revitalisasi yang dimulai sejak 2025.

"Seluruh sekolah sudah kita mapping. Termasuk kejadian-kejadian seperti bangunan ambruk dan kerusakan lainnya. Jadi bukan karena viral baru ditangani," kata Umar kepada detikJabar, Kamis (16/4).

Umar menjelaskan, SDN Gandawesi II memang termasuk dalam kategori rusak berat. "Dari hasil survei, ada tiga ruang kelas yang rusak berat. Untuk kondisi seperti ini, alternatifnya memang harus diusulkan ke pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten," jelasnya.

Adapun untuk penanganannya, Disdik telah mengusulkan perbaikan melalui program revitalisasi ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Selain itu, proses administrasi juga telah dilengkapi, termasuk koordinasi terkait status lahan sekolah yang berada di tanah TNI AU.

Disdik memastikan, koordinasi dengan pihak TNI AU berjalan lancar.

"Alhamdulillah respon positif dari Pak Danlanud, kemarin pun sudah membuat surat keterangan bahwa Pak Danlanud juga tidak keberatan bahkan mendukung apabila SD Gandawesi 2 ini dilakukan rehabilitasi. Dan kami lampirkan ke Kementerian Dikdasmen," ucap Umar.

Di sisi lain, Ia menegaskan, keterbatasan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menjadi salah satu kendala dalam menangani kerusakan berat. "BOS itu maksimal hanya bisa 20 persen untuk pemeliharaan. Jadi tidak mungkin digunakan untuk perbaikan berat seperti ini," ujarnya.

Secara keseluruhan, Disdik Majalengka mengusulkan ratusan sekolah untuk mendapatkan program revitalisasi. Rinciannya, 221 SD, 63 SMP, dan 39 PAUD/TK.

"Total ada 323 sekolah yang kita usulkan. Termasuk Gandawesi 2 ini," ujarnya.

Umar pun memastikan, SDN Gandawesi 2 berpeluang besar mendapatkan penanganan tahun ini. "Insyaallah (revitalisasi tahun ini), karena seluruh persyaratan sudah kita lengkapi sampai tadi malam. Mudah-mudahan ada atensi dari pemerintah pusat dan bisa direalisasikan tahun ini," ucapnya.

Tak hanya itu, Pemkab Majalengka juga tetap mengalokasikan anggaran daerah untuk perbaikan sekolah, meski di tengah efisiensi.

"Tahun ini ada 22 sekolah yang ditangani, terdiri dari 17 SD dan 5 SMP. Tapi sifatnya hanya perbaikan sebagian, tidak menyeluruh," pungkasnya.

Mayat Telanjang dan Tanpa Identitas Ditemukan di Cirebon

Warga Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon digegerkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki di dekat laut, Kamis (16/4/2026). Jasad pria itu ditemukan dalam kondisi terlentang tanpa identitas.

Kapolsek Kapetakan, AKP Rudiana mengatakan mayat tersebut ditemukan di wilayah Desa Muara. Penemuan mayat bermula saat seorang warga mencium bau tidak sedap.

"Penemuan bermula saat seorang warga mencium bau menyengat, kemudian mencari sumber bau tersebut hingga menemukan tubuh seorang laki-laki dalam posisi terlentang di bibir laut," kata Rudiana.

Menurutnya, temuan itu langsung dilaporkan ke perangkat desa dan diteruskan ke pihak kepolisian. Mendapat laporan tersebut, polisi segera menuju lokasi untuk melakukan pengecekan awal.

"Petugas langsung mengamankan lokasi penemuan dan mengumpulkan keterangan dari warga sekitar," ujarnya.

Rudiana menambahkan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Cirebon Kota untuk penanganan lebih lanjut. Tim Inafis kemudian datang ke lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

"Tim Inafis melakukan identifikasi awal terhadap kondisi jenazah serta mencari petunjuk terkait identitas korban maupun penyebab kematian," katanya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut dia, mayat tersebut berjenis kelamin laki-laki dengan perkiraan usia sekitar 45 tahun. Saat ditemukan, korban tidak mengenakan baju dan belum diketahui identitasnya.

"Adapun ciri-ciri mayat yang ditemukan diketahui berjenis kelamin laki-laki dengan perkiraan usia sekitar 45 tahun, dalam kondisi tidak mengenakan baju, dan hingga saat ini belum diketahui identitasnya karena masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak terkait," kata dia.

Sementara itu, Kasi Humas Polres Cirebon Kota AKP M Aris Hermanto mengatakan, jenazah telah dievakuasi ke RSUD Gunung Jati Kota Cirebon untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ia mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri tersebut agar segera melapor ke kantor polisi terdekat atau melalui layanan 110.

"Kami akan terus melakukan upaya penyelidikan dan berharap adanya informasi dari masyarakat yang dapat membantu mengungkap identitas korban," ujarnya.

2 Pasien Dari 50 Kasus Campak di Cirebon Meninggal

RSD Gunung Jati Cirebon mencatat puluhan pasien campak yang dirujuk ke rumah sakit tersebut sepanjang Januari hingga pertengahan April 2026. Sejumlah pasien mengalami komplikasi, dengan dua di antaranya meninggal dunia.
Direktur Utama RSD Gunung Jati, dr Katibi, mengatakan rumah sakit berperan sebagai penerima rujukan dari layanan kesehatan tingkat pertama.

"Rumah sakit berposisi sebagai penerima rujukan. Nah, rujukan yang datang ke Rumah Sakit Gunung Jati itu melalui dua pintu, yaitu pintu IGD atau Pelayanan Gawat Darurat dan pintu rawat jalan," kata dia, Jumat (17/4).

Menurutnya selama beberapa bulan terakhir rujukan campak dari rawat jalan tercatat lebih rendah. "Pada Januari ada 3 kasus, Februari 0 kasus, Maret 2 kasus, serta 1 kasus pada 1-16 April 2026, sehingga total sekitar 6 kasus," terang dia.

Sementara itu, kasus yang masuk melalui IGD lebih tinggi. Pada Januari tercatat 26 kasus, Februari 19 kasus, dan Maret 5 kasus.

"Jadi kurang lebih sekitar 50 kasus sampai 31 Maret yang masuk ke ruang rawat inap di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati," ujarnya.

Katibi mengatakan jumlah pasien yang sampai ke rumah sakit rujukan mengindikasikan kemungkinan kasus di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun di masyarakat bisa lebih besar.

"Nah, ini tentunya kalau sudah sampai ke rumah sakit rujukan saja sebesar itu, kemungkinan di puskesmas atau di FKTP atau di fasilitas pelayanan tingkat pertamanya banyak, dan mungkin juga di masyarakatnya mungkin lebih banyak lagi," katanya.

Pihak rumah sakit telah menyiapkan penanganan pasien campak, termasuk ruang isolasi di tiap gedung untuk mencegah penularan di lingkungan rumah sakit.

"Kami di rumah sakit sudah dalam posisi untuk menerima rujukan, untuk menyiapkan tata laksananya secara memadai, baik itu SDM maupun sarananya, baik itu yang di IGD, rawat jalan, maupun di rawat inap," kata dia.

"Di rawat inap, kami menyediakan ruang isolasi di tiap-tiap gedung supaya proses penularan intra rumah sakit itu menjadi minimal," sambung Katibi.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSD Gunung Jati, dr Suci menjelaskan sebagian pasien campak yang dirawat mengalami komplikasi seperti bronkopneumonia atau radang paru.

Ia mengatakan tidak semua pasien campak perlu rawat inap, namun terdapat kondisi tertentu yang membuat pasien harus dirawat. "Karena memang tidak semua campak harus dirawat," kata dr Suci.

Ia menyebutkan beberapa kondisi yang membuat pasien campak harus dirawat, seperti demam tinggi, dehidrasi, dan komplikasi.

"Jadi memang ada beberapa indikasi rawat yang beberapa campak itu harus dirawat. Misalnya anaknya demam tinggi, dehidrasi, kemudian ada komplikasi," ujarnya.

Menurutnya, komplikasi yang paling sering ditemukan adalah bronkopneumonia atau radang paru, infeksi telinga hingga infeksi berat.

"Komplikasi sering pada campak yang saat ini kami terima adalah di Bronkopneumonia atau radang paru. Radang paru, kemudian sakit telinga atau Otitis Media, dan bisa juga sampai sepsis atau infeksi berat," kata dia.

dr Suci menjelaskan, sebagian besar pasien campak yang dirawat merupakan anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap serta memiliki faktor risiko seperti gizi buruk atau penyakit bawaan.

"Saat ini gambaran yang terdapat di Rumah Sakit Gunung Jati paling banyak adalah yang dirawat karena Bronkopneumonia atau radang paru. Biasanya terjadi pada pasien-pasien yang pertama memang tidak diimunisasi. Tidak diimunisasi atau memang imunisasinya kurang lengkap," kata dia.

"Kemudian yang kedua, memang ada faktor risiko yang lain seperti misalnya gizi buruk atau ada kelainan bawaan," kata dia menambahkan.

Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat empat pasien yang membutuhkan perawatan intensif, dua di antaranya meninggal dunia.

"Kami mendapatkan pasien yang sampai gawat, yang sampai dari ruang isolasi biasa dipindahkan ke ruang intensif, itu ada empat pasien. Beberapa bulan ini ada empat pasien, yang meninggal ada dua. Yang satu dari Kabupaten, yang satu dari Kota Cirebon," ungkap dr Suci.

"Tapi memang yang meninggal ini ada kondisi yang berbeda dengan anak sehat yang lainnya, yang satu memang gizinya gizi buruk, yang satu memang ada kelainan jantung bawaan," ujarnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads