RSD Gunung Jati Catat 50 Kasus Campak, 2 Pasien Meninggal

RSD Gunung Jati Catat 50 Kasus Campak, 2 Pasien Meninggal

Ony Syahroni - detikJabar
Jumat, 17 Apr 2026 18:00 WIB
Ilustrasi campak
Ilustrasi campak (Foto: Getty Images/Natalya Maisheva)
Cirebon -

RSD Gunung Jati Cirebon mencatat puluhan pasien campak yang dirujuk ke rumah sakit tersebut sepanjang Januari hingga pertengahan April 2026. Sejumlah pasien mengalami komplikasi, dengan dua di antaranya meninggal dunia.

Direktur Utama RSD Gunung Jati, dr Katibi, mengatakan rumah sakit berperan sebagai penerima rujukan dari layanan kesehatan tingkat pertama.

"Rumah sakit berposisi sebagai penerima rujukan. Nah, rujukan yang datang ke Rumah Sakit Gunung Jati itu melalui dua pintu, yaitu pintu IGD atau Pelayanan Gawat Darurat dan pintu rawat jalan," kata dia, Jumat (17/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut, selama beberapa bulan terakhir rujukan campak dari rawat jalan tercatat lebih rendah. "Pada Januari ada 3 kasus, Februari 0 kasus, Maret 2 kasus, serta 1 kasus pada 1-16 April 2026, sehingga total sekitar 6 kasus," terang dia.

Sementara itu, kasus yang masuk melalui IGD lebih tinggi. Pada Januari tercatat 26 kasus, Februari 19 kasus, dan Maret 5 kasus.

ADVERTISEMENT

"Jadi kurang lebih sekitar 50 kasus sampai 31 Maret yang masuk ke ruang rawat inap di Rumah Sakit Daerah Gunung Jati," ujarnya.

Katibi mengatakan jumlah pasien yang sampai ke rumah sakit rujukan mengindikasikan kemungkinan kasus di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun di masyarakat bisa lebih besar.

"Nah, ini tentunya kalau sudah sampai ke rumah sakit rujukan saja sebesar itu, kemungkinan di puskesmas atau di FKTP atau di fasilitas pelayanan tingkat pertamanya banyak, dan mungkin juga di masyarakatnya mungkin lebih banyak lagi," katanya.

Pihak rumah sakit telah menyiapkan penanganan pasien campak, termasuk ruang isolasi di tiap gedung untuk mencegah penularan di lingkungan rumah sakit.

"Kami di rumah sakit sudah dalam posisi untuk menerima rujukan, untuk menyiapkan tata laksananya secara memadai, baik itu SDM maupun sarananya, baik itu yang di IGD, rawat jalan, maupun di rawat inap," kata dia.

"Di rawat inap, kami menyediakan ruang isolasi di tiap-tiap gedung supaya proses penularan intra rumah sakit itu menjadi minimal," sambung Katibi.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak RSD Gunung Jati, dr Suci menjelaskan sebagian pasien campak yang dirawat mengalami komplikasi seperti bronkopneumonia atau radang paru.

Ia mengatakan tidak semua pasien campak perlu rawat inap, namun terdapat kondisi tertentu yang membuat pasien harus dirawat. "Karena memang tidak semua campak harus dirawat," kata dr Suci.

Ia menyebutkan beberapa kondisi yang membuat pasien campak harus dirawat, seperti demam tinggi, dehidrasi, dan komplikasi.

"Jadi memang ada beberapa indikasi rawat yang beberapa campak itu harus dirawat. Misalnya anaknya demam tinggi, dehidrasi, kemudian ada komplikasi," ujarnya.

Menurutnya, komplikasi yang paling sering ditemukan adalah bronkopneumonia atau radang paru, infeksi telinga hingga infeksi berat.

"Komplikasi sering pada campak yang saat ini kami terima adalah di Bronkopneumonia atau radang paru. Radang paru, kemudian sakit telinga atau Otitis Media, dan bisa juga sampai sepsis atau infeksi berat," kata dia.

dr Suci menjelaskan, sebagian besar pasien campak yang dirawat merupakan anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap serta memiliki faktor risiko seperti gizi buruk atau penyakit bawaan.

"Saat ini gambaran yang terdapat di Rumah Sakit Gunung Jati paling banyak adalah yang dirawat karena Bronkopneumonia atau radang paru. Biasanya terjadi pada pasien-pasien yang pertama memang tidak diimunisasi. Tidak diimunisasi atau memang imunisasinya kurang lengkap," kata dia.

"Kemudian yang kedua, memang ada faktor risiko yang lain seperti misalnya gizi buruk atau ada kelainan bawaan," kata dia menambahkan.

Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat empat pasien yang membutuhkan perawatan intensif, dua di antaranya meninggal dunia.

"Kami mendapatkan pasien yang sampai gawat, yang sampai dari ruang isolasi biasa dipindahkan ke ruang intensif, itu ada empat pasien. Beberapa bulan ini ada empat pasien, yang meninggal ada dua. Yang satu dari Kabupaten, yang satu dari Kota Cirebon," ungkap dr Suci.

"Tapi memang yang meninggal ini ada kondisi yang berbeda dengan anak sehat yang lainnya, yang satu memang gizinya gizi buruk, yang satu memang ada kelainan jantung bawaan," ujarnya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads