Kisah dari Balik Jeruji, Kala Napi Lapas Narkotika Cirebon Asah Keahlian

Kisah dari Balik Jeruji, Kala Napi Lapas Narkotika Cirebon Asah Keahlian

Devteo Mahardika - detikJabar
Jumat, 17 Apr 2026 17:30 WIB
Kegiatan keterampilan yang dilakukan warga binaan di Lapas Narkotika Kelas II Cirebon
Kegiatan keterampilan yang dilakukan warga binaan di Lapas Narkotika Kelas II Cirebon. Foto: Devteo Mahardika/detikJabar
Cirebon -

Suasana berbeda tampak di salah satu sudut halaman Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II Cirebon. Di tengah suasana yang identik dengan pembatasan, justru tumbuh kreativitas dan harapan baru dari para warga binaan.

Seorang pria paruh baya terlihat duduk lesehan bersama beberapa rekannya. Di hadapannya, sebuah payung terbuka menjadi media lukis yang unik. Dengan tangan kekar, ia telaten menggoreskan kuas, sesekali memutar payung untuk memastikan detail gambar yang menghiasi hampir seluruh permukaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekilas, pria tersebut tampak seperti pelukis profesional. Namun, ia adalah Cecep Purnama (43), seorang warga binaan asal Cianjur yang tengah menjalani masa hukuman di Lapas Narkotika Cirebon.

Cecep mengaku, melukis payung awalnya hanya sekadar mengisi waktu. Namun seiring mengikuti pelatihan keterampilan yang difasilitasi pihak Lapas, aktivitas tersebut berkembang menjadi hobi sekaligus keahlian baru.

ADVERTISEMENT

"Selain hobi, ini juga untuk menambah pengalaman. Sekarang saya jadi punya keterampilan," ujar Cecep, Jumat (17/4/2026).

Selama dua tahun menjalani pembinaan, ia telah mengikuti berbagai pelatihan. Dari sekian banyak kegiatan, melukis payung menjadi yang paling ia tekuni. Meski prosesnya tidak mudah bahkan satu payung bisa memakan waktu hingga empat hari termasuk pengeringan namun Cecep tetap antusias mengasah kemampuannya.

Ia pun optimistis keahlian ini dapat menjadi bekal berharga saat kembali ke masyarakat. Dengan sisa masa hukuman sekitar tujuh tahun dari total vonis sembilan tahun, Cecep bertekad menjadikan seni lukis sebagai jalan hidup baru.

"Saya ingin lanjutkan setelah bebas nanti," katanya penuh harap.

Di sudut lain, semangat serupa juga terlihat dari Muhammad Nabil, warga binaan asal Medan. Bersama sembilan rekannya, ia tampak sibuk mengaduk adonan donat dan menggoreng risol.

Bakat memasaknya yang sudah ada sejak lama kini semakin terasah setelah mengikuti pelatihan kuliner selama dua bulan di dalam Lapas.

"Saya memang suka masak. Setelah ikut pelatihan, sekarang sudah bisa bikin donat," ujarnya.

Dalam sehari, Nabil dan timnya mampu memproduksi hingga 500 potong donat dan risol. Ia pun berencana membuka usaha kuliner setelah bebas nanti, memanfaatkan ilmu yang didapat selama masa pembinaan.

"Pengennya buka usaha donat. Ilmunya dari sini," tuturnya.

Kepala Lapas Narkotika Kelas II Cirebon, Machda Landasny, menjelaskan bahwa berbagai pelatihan keterampilan tersebut merupakan bagian dari komitmen pembinaan untuk menciptakan warga binaan yang mandiri dan produktif.

Program yang tersedia pun beragam, mulai dari ketahanan pangan, seni membatik payung dan mug, pengolahan makanan, hingga pembuatan sabun cair.

Menurutnya, banyak warga binaan yang telah merasakan manfaat nyata dari program tersebut. Mereka tidak hanya mengisi waktu selama menjalani hukuman, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat dengan keterampilan yang dapat menunjang kehidupan.

"Harapannya, mereka bisa mandiri dan tidak kembali ke kesalahan yang sama," ujarnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads