Jerit Pedagang Plastik di Kuningan

Jerit Pedagang Plastik di Kuningan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Kamis, 09 Apr 2026 12:30 WIB
Toko plastik Nashirin di Kuningan.
Toko plastik Nashirin di Kuningan. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Lonjakan harga plastik di pasaran mulai memukul daya beli masyarakat di Kabupaten Kuningan. Fenomena ini dikeluhkan Nashirin (43), seorang pemilik toko plastik yang merasakan langsung merosotnya jumlah pembeli akibat kenaikan harga tersebut.

Saat ditemui di kiosnya yang berlokasi di tepi Jalan RE Martadinata, Ciporang, Kabupaten Kuningan, Nashirin tampak sedang menanti pelanggan. Ia mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini telah berlangsung selama sepekan terakhir. Rata-rata kenaikan harga produk plastik yang ia jual cukup signifikan, yakni berkisar antara Rp4.000 hingga Rp5.000 per pak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Naiknya yang kalau plastik yang biasa kita jual Rp9.000, itu sekarang di harga Rp13.000 sampai Rp14.000 per pak. Untuk plastik kresek itu yang biasa saya jual Rp17.000 per pak, sekarang dijual Rp 22.000. Naiknya bisa sampai Rp 5.000," tutur Nashirin, Kamis (9/4/2024).

Nashirin menjelaskan kenaikan harga tersebut dipicu kebijakan distributor tempatnya memasok barang. Ia menduga kondisi ini merupakan dampak dari melambungnya harga bahan baku pembuatan plastik di tingkat produsen global.

ADVERTISEMENT

"Dari sananya segitu. Saya tinggal ngikutin kan. Untuk penyebabnya, karena perang Iran-Israel Amerika, saya juga nggak terlalu paham. Mungkin bahannya pembuatnya juga emang lagi sulit," tutur Nashirin.

Kenaikan harga ini berimbas langsung pada volume penjualan. Nashirin memaparkan, banyak pelanggan yang akhirnya urung bertransaksi setelah mengetahui harga plastik melonjak tajam. Meski begitu, ia menganggap reaksi pasar tersebut sebagai hal yang lumrah di tengah ketidakpastian harga.

"Pengaruh. Karena yang tadinya mau beli, nggak jadi beli. Mungkin harapan dia bisa nyari di tempat lain yang lebih murah. Padahal ya nggak tahu juga, bisa jadi harganya sama," tutur Nashirin.

Meskipun harga meroket, Nashirin memastikan sejauh ini ketersediaan stok plastik di pasaran masih relatif aman dan mudah didapatkan oleh para pedagang atau masyarakat. Ke depan, ia berharap harga plastik kembali normal agar aktivitas ekonomi warga kembali bergairah.

"Kalau di sini masih, soalnya kebutuhan saya masih sedikit, jadi masih bisa didapat. Paling ya keluhan dari pedagang saja karena harganya naik. Semoga saja harganya bisa stabil lagi, " tutur Nashirin.

Dilema Pedagang

Selain berjualan plastik, Nashirin juga menjajakan aneka jenis kue di samping tokonya. Di tengah tekanan harga plastik kemasan yang meningkat, ia memilih tidak menaikkan harga jual kuenya. Meski margin keuntungan yang didapatkan berkurang, ia lebih khawatir kebijakan menaikkan harga justru akan membuat lapaknya ditinggalkan pelanggan.

"Bahan pembuatan kue yang ada plastiknya juga naik. Kayak kertas nasi tadinya jual Rp22.000 per pak, sekarang Rp28.000. Tapi untuk harga kue, kita ngikut ke yang lain sih. Jadi walaupun harga produksinya sudah naik, belum bisa naikin. Soalnya takut perang harga aja sama konsumen," tutur Nashirin.

Kondisi serupa dirasakan oleh Husein, seorang penjual hucap (tahu kecap) di Kuningan. Ia memilih bertahan dengan harga lama meski biaya operasional untuk plastik dan kertas nasi naik drastis. Husein khawatir kenaikan harga per porsi akan memicu keluhan konsumen dan menyebabkan lapaknya sepi pembeli.

"Plastik naiknya sampai Rp 4.000 sampai Rp 6.000. Apalagi yang kresek. Tapi untuk harga hucap sendiri masih normal, nggak naik. Masih Rp 17.000 per porsi. Soalnya kalau naik, takut pelanggannya pada nggak mau," pungkas Husein.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads