Sebagian u-turn di jalur arteri Pantai Utara (Pantura) Indramayu yang ditutup saat arus mudik dan arus balik Lebaran membuat lalu lintas menjadi lancar. Di sisi lain warga setempat yang biasa memanfaatkan u-turn untuk aktivitas sehari-hari menjadi terhambat. Hal tersebut melahirkan jalur alternatif kolong jembatan.
Seperti halnya yang terlihat di Desa Larangan Blok Maja, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Kolong jembatan "disulap" menjadi jalan alternatif khususnya demi menopang aktivitas sehari-hari warga.
Saat ini, Jumat (27/3/2026), u-turn masih ditutup karena sedang berlangsung arus balik di Pantura Indramayu, ribuan kendaraan melaju ke Jabodetabek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan jalan alternatif kolong jembatan sangat menguntungkan warga, sebagaimana diungkapkan Ahmad Hadi (31), warga setempat, kepada detikJabar usai melintasi jalan tersebut.
"Mertua saya rumahnya berseberangan dengan rumah saya. Terpisahkan oleh jalan Pantura. Ini jelas sangat membantu saya terutama waktu saya berkunjung ke rumah mertua di momen Lebaran," kata Hadi.
Selain Hadi yang memanfaatkan kolong jembatan untuk mengunjungi rumah mertua, ada juga Sugiarto (26) yang memanfaatkan jalan tersebut hampir setiap hari.
"Sehari-hari juga saya sering nyebrang Pantura untuk sekadar main ke rumah teman dan lain sebagainya. Sekarang nggak bisa lewat Pantura, dan adanya jalan kolong jembatan ini sangat membantu aktivitas saya," katanya.
Di saat deru mesin kendaraan yang seolah terdengar tanpa henti dan roda-roda kendaraan melaju kencang di atas aspal Pantura, di bawahnya ada aktivitas yang lebih pelan; sebuah inisiatif dari warga agar pemudik dan warga setempat dapat beraktivitas tanpa menggangu perjalanan satu sama lain.
Di kolong jembatan, terpantau sejumlah kendaraan roda dua bergantian lalu-lalang melintasi jalan yang terbuat dari kayu dolken dan bambu tersebut.
Sementara itu, Damar (24), seorang relawan jalan kolong jembatan, mengaku berjaga dengan sistem shift. Ia biasanya berjaga dan membantu warga yang melintas selama 6 jam.
"Dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang, tapi nggak nentu, sih, orang-orangnya, tapi biasanya setiap 6 jam ada pergantian orang," kata Damar.
Aktivitas yang dilakukan Damar bersama teman-temannya adalah membantu warga yang melintas, seperti mendorong dan mengimbau pengendara agar kepalanya tidak terkena atap kolong jembatan. Selain itu, ia dan teman-temannya juga memastikan arus lalu lintas berlangsung lancar.
"Harus didorong karena ada jalan menanjak, terus juga ngingetin pengendara supaya nunduk karena jalan kolong jembatan kurang dari 3 meter tingginya, terus ini jalan dua arah lebarnya 2 meter makanya harus diatur lalu lintasnya biar lancar," pungkasnya.
