Antara Hemat dan Lelah, Fila Tembus Aspal Pantura Mudik ke Wonogiri

Antara Hemat dan Lelah, Fila Tembus Aspal Pantura Mudik ke Wonogiri

Burhanuddin - detikJabar
Kamis, 19 Mar 2026 12:00 WIB
Seorang pemudik, Fila, sedang beristirahat di Rest Area UPPKB Losarang Indramayu
Seorang pemudik, Fila, sedang beristirahat di Rest Area UPPKB Losarang Indramayu (Foto: Burhanuddin/detikJabar)
Indramayu -

Deru kendaraan di Jalur Arteri Pantura tak hanya membawa orang-orang pulang ke kampung halaman, tetapi juga menyimpan cerita tentang pilihan, perhitungan, dan ketahanan. Di salah satu sudut Rest Area Losarang, Fila (40) tampak melepas penat setelah perjalanan panjang yang ia tempuh bersama keluarganya.

Perempuan asal Bekasi itu bukan sekadar sedang mudik. Ia tengah menjalani strategi yang menurutnya paling masuk akal, menekan biaya perjalanan dengan mengandalkan dua sepeda motor. Bersama suami, dua anak yang masih kecil, dan seorang sepupu, Fila menembus ratusan kilometer menuju Wonogiri, Jawa Tengah.

Baginya, keputusan ini bukan tanpa alasan. "Bisa dibilang juga untuk menghemat pengeluaran," kata Fila, Rabu (18/3/2026) sore.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia pun punya hitung-hitungan sendiri. Jika memilih kereta api, biaya yang harus dikeluarkan jauh lebih besar. Dalam bayangannya, satu tiket dihargai sekitar Rp 300 ribu. Untuk empat orang saja, jumlahnya sudah menyentuh Rp 1,2 juta.

ADVERTISEMENT

Belum lagi perjalanan yang belum selesai setelah turun di stasiun. Dari Solo, ia masih harus melanjutkan perjalanan menuju Wonogiri kota, lalu ke rumah mertua yang berada di wilayah pedesaan. Ongkos tambahan dan kebutuhan makan selama perjalanan pun ikut menambah beban.

Sebaliknya, pengalaman mudik sebelumnya memberi gambaran berbeda. Dengan sepeda motor, pengeluaran bisa ditekan jauh lebih rendah.

"Perbandingannya jauh banget, ibaratkannya mudik sekeluarga itu cuma seharga satu tiket kereta doang," ujarnya.

Dalam perjalanannya tahun ini, Fila memperkirakan biaya yang dikeluarkan hanya berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu untuk bensin dan konsumsi.

Sebenarnya, opsi lain sempat terlintas. Ia pernah menumpang mobil saudara pada mudik sebelumnya. Namun, perbedaan jadwal membuat rencana itu tak bisa diulang. Kereta api pun sempat menjadi alternatif, tetapi waktu yang sempit membuat tiket sulit didapat.

"Ada tiket yang tersedia juga tidak memungkinkan soalnya bentrok, masih ada kerjaan, saya baru bisa pulang hari ini, ya udah mudiknya naik motor saja," tambahnya.

Selain soal biaya dan waktu, ada pertimbangan lain yang tak kalah penting: mobilitas saat tiba di kampung halaman. Dengan membawa kendaraan sendiri, Fila merasa lebih leluasa bepergian tanpa harus bergantung pada transportasi umum.

Namun perjalanan ini jelas bukan tanpa konsekuensi. Tubuh yang lelah menjadi harga yang harus dibayar. Jarak jauh dan waktu tempuh yang lebih lama menuntut stamina ekstra, apalagi dengan anak-anak yang ikut serta.

Meski demikian, Fila mengaku perjalanan dari Bekasi hingga Indramayu relatif lancar. Ia berangkat sekitar pukul 10.00 WIB dan tiba di Losarang pada sore hari. Sepanjang perjalanan, ia memilih berkendara santai, tidak terburu-buru.

Di tengah kelelahan itu, kehadiran Rest Area Losarang menjadi semacam jeda yang menyelamatkan.

"Makanya adanya posko rest area ini sangat membantu sekali," ujarnya.

Bagi Fila, tempat beristirahat yang aman dan nyaman adalah kebutuhan utama, terutama saat membawa anak kecil. Di lokasi tersebut, ia memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia; mulai dari kursi pijat hingga makanan dan minuman gratis.

Sementara itu, suaminya merebahkan badan di tempat tidur lipat, dan kedua anaknya larut dalam permainan di arena yang disediakan. Sejenak, perjalanan panjang terasa lebih ringan.

"Saya istirahat baru di sini sih, paling tadi di jalan cuma istirahat sebentar buat makan minum anak-anak, yang lamanya baru di sini," tutupnya.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads