Menjemput Rezeki di Bahu Pantura, Kisah Yadi dan Usaha Tambal Ban

Menjemput Rezeki di Bahu Pantura, Kisah Yadi dan Usaha Tambal Ban

Burhanuddin - detikJabar
Rabu, 18 Mar 2026 10:00 WIB
Yadi dan usaha tambal ban di jalur Pantura
Yadi dan usaha tambal ban di jalur Pantura (Foto: Burhanuddin/detikJabar)
Indramayu -

Deru kendaraan tak henti melintas di Jalur Pantura, tepatnya di Desa Legok, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Di antara riuhnya arus mudik yang mengalir menuju kampung halaman, ada cerita-cerita kecil tentang harapan yang tumbuh di pinggir jalan. Salah satunya datang dari Supriyadi (32), atau yang akrab disapa Yadi.

Di bawah tenda sederhana, Yadi setia menunggu dengan kompresor angin dan peralatan tambal ban miliknya. Baginya, musim mudik bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan peluang untuk menambah penghasilan demi keluarga.

"Saya sudah 3 tahun berturut-turut bawa kompresor angin dan alat-alat tambal ban ke pinggir Pantura. Lumayan setiap hari ada saja motor yang berhenti," ujar Yadi, Selasa (17/3/2026) siang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mulai membuka jasa tambal ban sejak empat hari lalu. Sejak itu, waktunya hampir sepenuhnya dihabiskan di pinggir jalan. Tak ada jam kerja pasti, tak ada pula waktu istirahat yang benar-benar terjadwal.

ADVERTISEMENT

"Saya mulai buka jasa dari empat hari yang lalu, rencananya sampai malam takbiran. Full nonstop setiap hari di sini, pulang ke rumah sewaktu-waktu saja ngambil makan atau beli makan, beli rokok, mandi sebentar terus ke sini lagi," tuturnya.

Di balik kesibukannya, Yadi menyimpan tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga dengan dua anak dan seorang istri. Setiap kendaraan yang berhenti di lapaknya menjadi harapan kecil yang berarti.

"Saya punya anak dua dan istri. Kalau selain arus mudik, saya buka bengkel kecil-kecilan melanjutkan usaha dari almarhum mertua, karena ini lagi ramai makanya bengkel di rumah tutup dulu," katanya.

Hari-hari biasa, menurut Yadi, penghasilannya dari bengkel rumahan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun saat arus mudik tiba, ia melihat peluang yang tak ingin dilewatkan.

"Sehari-hari biasanya (selain arus mudik) cuma bisa buat makan, saya bersyukur seenggaknya tidak sampai ngutang. Tapi kalau arus mudik sehari bisa dapat Rp100 ribu. Semoga tahun ini lebih ramai dari biasanya," ucapnya dengan nada penuh harap.

Di tengah derasnya arus kendaraan dan hiruk pikuk perjalanan pulang, keberadaan Yadi menjadi bagian kecil namun penting. Ia bukan hanya menambal ban yang bocor, tetapi juga ikut menjaga perjalanan para pemudik tetap berlanjut -sambil diam-diam menambal harapan hidupnya sendiri.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads