Penutupan sejumlah titik putar balik di jalur arteri Pantura wilayah Kabupaten Indramayu, selama periode arus mudik Lebaran 2026 mendorong warga Desa Larangan Blok Maja berinisiatif membuat jalur alternatif di kolong jembatan setempat.
Akses darurat tersebut dibuat agar masyarakat tetap dapat berputar arah tanpa harus mencari u-turn lain yang jaraknya mencapai lebih dari 100 meter dari lokasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan jalur alternatif itu dinilai membantu mobilitas warga sekitar yang kerap melintas di kawasan Pantura.
Bintang (23), warga setempat, mengapresiasi kreativitas sekaligus kekompakan masyarakat Blok Maja dalam menyediakan solusi, bagi kebutuhan warga selama rekayasa lalu lintas diberlakukan.
"Ini keren, sih. Hal seperti ini menjadi sangat penting di saat banyak u-turn ditutup demi kelancaran mudik," ujar Bintang (23), saat ditemui di sekitar lokasi, Senin (16/3/2026).
Ketika ditemui, Bintang baru saja melintasi jalur alternatif tersebut untuk menyeberangi Pantura melalui kolong jembatan yang dijadikan akses putar balik oleh warga.
"Saya biasa lewat sini untuk sekadar main ke rumah teman, dan lain sebagainya," kata dia.
Aktivitas di penyeberangan kolong jembatan yang ada di Desa Larangan Blok Maja, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Senin (16/3/2026). (Foto: Burhanuddin/detikJabar) |
Sementara itu, panitia pembangunan jalur darurat, Nono (60), mengatakan bahwa akses tersebut lahir dari kesepakatan bersama warga karena tidak tersedia jalur penyeberangan lain di sekitar lokasi selama median jalan ditutup.
"Ini murni inisiatif warga supaya aktivitas masyarakat tetap berjalan. Kalau u-turn (median jalan) ditutup, warga tidak punya akses putar balik yang dekat," ujar Nono.
Menurutnya, jalur alternatif tersebut hanya difungsikan sementara, yakni selama masa penutupan median jalan ketika arus mudik dan arus balik Lebaran berlangsung.
"Begitu jalur utama ditutup, motor bisa lewat sini untuk berputar arah. Rencananya dipakai sampai arus balik selesai," katanya.
Untuk membangun jalur darurat itu, warga mengumpulkan dana secara swadaya yang totalnya mencapai lebih dari Rp 20 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli material utama seperti bambu dan kayu penyangga.
"Biaya material sekitar Rp 20 juta lebih, semuanya hasil patungan warga dan bantuan dari para pengusaha," jelasnya.
Meski jalur tersebut dibangun secara mandiri oleh warga, pengendara yang melintas tidak dikenakan biaya tertentu.
"Tidak ada tarif khusus, seikhlasnya saja. Ada yang memberi Rp 1.000 atau Rp 2.000, kalau tidak memberi pun tidak masalah," tutur Nono.
Nono berharap keberadaan jalur darurat tersebut dapat membantu masyarakat tetap menjalankan aktivitas tanpa harus memutar jauh selama rekayasa arus mudik di Jalur Pantura berlangsung.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tampak beberapa warga memandu pengenda melintasi kolong jembatan. Pengendara diminta menundukkan kepalanya agar tidak terbentur jembatan.
Material lintasan ini terdiri dari kayu dolken dan kayu jati bekas. Kombinasi itu tersusun rapi dengan dolken di bagian paling bawah, kemudian kayu jati dipasang di atasnya.
(orb/orb)

