Cirebon Raya Sepekan: Wasiat TKW Indramayu yang Tewas di Arab

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 15 Mar 2026 14:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: Dok.Detikcom)
Bandung -

Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Cirebon Raya (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) pekan ini. Mulai dari pesan terakhir TKW yang ditemukan tewas mengenaskan di Arab Saudi hingga amukan puting beliung yang merusak ratusan rumah di Cirebon.

Berikut rangkuman berita Cirebon Raya pekan ini.

Pesan Terakhir TKW yang Ditemukan Tewas Mengenaskan di Arab

Cerita tentang Watirih, seorang TKW asal Blok Bedug, Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, yang ditemukan tewas mengenaskan di Arab Saudi mulai terkuak satu per satu.

Maghfuroh (29), adik almarhumah, mengenang percakapan kakaknya dengan seorang teman beberapa bulan lalu. Saat itu, sang teman berniat menyusul bekerja ke Arab Saudi dan mencari cara tercepat untuk berangkat.

"Jadi, temannya itu sempat nanya ke almarhumah kan lewat WA, nanya kalau mau ke Arab Saudi lewat apa yang cepat? Tapi kata kakak saya itu kalau mau ke luar negeri jangan lewat ilegal, yang resmi-resmi saja. Jangan kayak saya, cukup saya saja," kata Maghfuroh menirukan percakapan Watirih dengan temannya, Minggu (8/3/2026).

Percakapan itu terjadi sekitar lima bulan sebelum kabar duka datang. Dalam obrolan tersebut, Watirih disebut sempat memperingatkan bahwa risiko kekerasan terhadap pekerja migran di Arab Saudi cukup tinggi.

Ia khawatir temannya akan menghadapi bahaya yang sama, terlebih jika berangkat melalui jalur tidak resmi, yang membuat perlindungan hukum menjadi minim.

Menurut Maghfuroh, kakaknya bahkan mengucapkan kalimat yang kini terasa seperti firasat.

"Sebelum berangkat, dia bilang ini terakhir terus sudah nggak balik lagi. Nah, balik lagi, tuh, maksudnya bagaimana, apakah memang nggak balik lagi ke rumah, atau nggak kerja ke Arab lagi setelah itu," tutur Maghfuroh dengan nada sedih.

Pesan Watirih kepada temannya baru terungkap setelah keluarga berusaha menelusuri keberadaan Watirih yang sempat hilang kontak selama dua tahun ketika bekerja di Arab Saudi. Sayangnya, bukti percakapan yang sempat disampaikan temannya itu kini sudah tidak tersedia lantaran fitur pesan sementara di aplikasi WhatsApp (WA) secara otomatis menghapusnya.

"Temannya itu masih orang Segeran juga. Cuma pas saya minta boleh nggak percakapannya di-screenshoot, kata dianya sudah hilang soalnya WA-nya ada timer pesan yang 24 jam terus hilang," ucap Maghfuroh.

Kabar duka akhirnya datang pada 15 Februari 2026. Watirih diketahui tewas pada 9 Februari 2026 di tangan majikan perempuannya. Berdasarkan konfirmasi keluarga kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh melalui petugas pemandi jenazah, tubuh Watirih ditemukan dengan luka tusuk dan sayatan benda tajam di bagian wajah.

Kondisinya disebut sangat mengenaskan. Wajah korban bahkan sulit dikenali karena rusak parah yang diduga akibat penganiayaan. Keluarga semakin terpukul ketika mengetahui bahwa jasad Watirih sempat dibuang di samping tong sampah, di depan apartemen tempat ia bekerja.

"Kami keluarga cuma minta keadilan, berharap pelaku dihukum qisas, nyawa dibayar nyawa," tegas Maghfuroh.

Nelayan Indramayu yang Hilang di Pulau Biawak Ditemukan Tewas di Jepara

Jenazah seorang nelayan asal Kabupaten Indramayu yang sebelumnya dilaporkan hilang akibat kecelakaan laut di perairan Pulau Biawak akhirnya ditemukan di perairan Jepara, Jawa Tengah.

Kasat Polairud Polres Indramayu AKP Asep Suryana mengatakan bahwa jenazah tersebut ditemukan pada Senin (9/3/2026) di perairan Jepara oleh nelayan setempat yang kemudian melapor ke pihak kepolisian.

Petugas gabungan yang terdiri dari nelayan, kepolisian, serta Basarnas Jawa Tengah mengevakuasi jenazah tersebut ke RSUD Kartini Jepara. "Setelah dilakukan koordinasi dengan Basarnas Jawa Tengah, Sat Polairud Polres Jepara serta pihak RSUD Kartini Jepara, jenazah tersebut dikenali oleh pihak keluarga dari ciri-ciri yang ada pada tubuh korban," kata Asep dalam keterangannya kepada detikJabar, Rabu (11/3/2026).

Korban diketahui bernama Ari Wibowo (23), nelayan yang berdomisili di Kelurahan Margadadi Blok Kalenyamin, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu. Identifikasi diperkuat dengan temuan ciri khusus berupa tato di tangan kiri, gelang di tangan kanan, serta pakaian yang dikenakan korban.

Asep menjelaskan Ari Wibowo merupakan salah satu dari empat nelayan yang hilang setelah perahu KM Almujib 6 GT yang mereka tumpangi tertabrak kapal tongkang di perairan Pulau Biawak, Indramayu, pada Sabtu malam, 28 Februari 2026 sekitar pukul 22.00 WIB.

Dalam peristiwa tersebut, perahu nelayan itu mengangkut delapan orang kru. Dua orang berhasil selamat, dua orang ditemukan meninggal dunia, dan empat lainnya dilaporkan hilang, termasuk Ari Wibowo.

Tim SAR sebelumnya telah melakukan pencarian selama tujuh hari di perairan Pulau Biawak hingga perbatasan Cirebon dan Jawa Tengah. Namun, korban tak kunjung ditemukan hingga akhirnya Basarnas Cirebon menerima informasi penemuan jenazah tanpa identitas di perairan Jawa Tengah yang kemudian dievakuasi ke RSUD Kartini Jepara.

"Kondisi jenazah masih dapat dikenali oleh keluarga dari tato, gelang, serta pakaian yang dikenakan korban," ujar Asep.

Saat ini personel Sat Polairud Polres Indramayu mendampingi keluarga korban dalam proses pengambilan jenazah di RSUD Kartini Jepara untuk dibawa ke rumah duka di Kabupaten Indramayu.

Pasar Tegalgubug Jadi Titik Macet Mudik, Polisi Tutup U-Turn di Pantura

Aktivitas di Pasar Sandang Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, berpotensi menjadi salah satu titik kemacetan di jalur Pantura saat arus mudik Lebaran 2026. Pasalnya, pasar yang berada tepat di sisi jalur utama Pantura ini selalu dipadati pengunjung, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.

Pantauan detikJabar di lokasi pada Selasa (10/3/2026) menunjukkan peningkatan jumlah pengunjung yang datang untuk berburu pakaian Lebaran. Kepadatan tidak hanya terjadi di area dalam pasar, tetapi juga meluas hingga ke badan jalan. Banyak kendaraan pengunjung yang terpaksa diparkir di bahu jalan karena keterbatasan lahan parkir.

Selain itu, sebagian pedagang juga memanfaatkan bahu jalan sebagai tempat berjualan. Kondisi tersebut membuat ruang gerak kendaraan di jalur Pantura menjadi lebih sempit dan memicu perlambatan arus lintas.

Salah satu pengunjung Pasar Tegalgubug, Ratna (32), warga Kota Cirebon, mengaku sengaja datang ke pasar tersebut untuk membeli pakaian Lebaran bagi keluarganya. "Iya sengaja ke sini mau beli baju sama celana Lebaran buat keluarga," ujarnya.

Ratna memilih berbelanja di Pasar Tegalgubug karena harga pakaian yang relatif terjangkau dengan pilihan model yang beragam. "Kebetulan baju yang mau dibeli banyak, jadi supaya nanti pas Lebaran bisa seragaman. Di sini murah dan pilihannya juga banyak," katanya.

Meski harus menghadapi kondisi parkir yang terbatas dan kepadatan lalu lintas di sekitar pasar, Ratna mengaku tidak keberatan.

"Memang parkirnya susah di sini, tapi enggak apa-apa. Yang penting harganya murah, jadi macet-macetan juga enggak masalah," tambahnya.

Sementara itu, Kanit Lantas Polsek Arjawinangun Iptu Yanto mengatakan bahwa aktivitas Pasar Tegalgubug yang digelar setiap hari Selasa dan Sabtu kerap menimbulkan kepadatan lalu lintas di jalur Pantura.




(bba/orb)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork