Stamp! Cap berwarna-warni memenuhi paspor museum milik Stefany. Hobi yang telah ia tekuni baru-baru ini sudah membawanya ke tempat-tempat bersejarah maupun lokasi wisata kekinian. Kisahnya dalam berburu stempel kerap dijadikan sebagai konten di media sosialnya.
"Dari awal memang suka main ke museum, waktu museum menyediakan stempel jadi lebih seru dan bisa untuk bahan koleksi," ungkap Stefany saat diwawancarai, belum lama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan wisata berburu stempel memang tengah digandrungi oleh sebagian besar generasi muda. Menanggapi hal tersebut, marak tempat rekreasi seperti museum yang kini menyediakan stempel dengan gambar menarik, bahkan tak jarang menyesuaikan dengan konteks sejarah. Stempel tersebut biasanya akan dipinjamkan kepada pengunjung yang kemudian menempelkannya di dalam buku khusus koleksi stempel.
Menyambut tren tersebut, tim detikJabar menyambangi sejumlah museum di Kota Bandung untuk mengumpulkan stempel sekaligus kembali mempelajari kisah di baliknya. Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadi destinasi pertama perburuan stempel.
Pengunjung akan langsung disuguhi tujuh stempel di samping meja registrasi museum. Uniknya, setiap stempel disesuaikan dengan dokumentasi yang berkaitan dengan peristiwa Konferensi Asia Afrika pada 1955 silam di Kota Bandung.
Stempel pertama berwarna kuning menggambarkan Wisma Tugu sebagai tempat pertemuan antara Kepala Perwakilan Indonesia di Asia, Afrika, dan Pasifik sehubungan dengan undangan yang dikirimkan Perdana Menteri Ceylon.
Stempel kedua menandakan momen kedatangan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan Delegasi Indonesia di Kolombo, Sri Lanka (dahulu Ceylon) pada 1954. Pertemuan tersebut menjadi titik awal tercetusnya gagasan mengenai Konferensi Asia Afrika sebagai wadah perundingan akan permasalahan yang terjadi di negara masing-masing.
Kota Bogor menjadi latar tempat stempel berikutnya yang menggambarkan lima perdana menteri negara sponsor Konferensi Asia Afrika yang terdiri dari U-Nu dari Burma, Mohammed Ali dari Pakistan, Ali Sastroamidjojo dari Indonesia, Sir John Kotelawala dari Ceylon, dan Jawaharlal Nehru dari India.
Kembali ke Kota Bandung pada 1955, dua stempel berikutnya menampilkan dokumentasi Gedung Merdeka ketika tengah direnovasi dan saat sidang pleno Konferensi Asia Afrika berlangsung di dalamnya. Setelah dibuka oleh Presiden Sukarno, konferensi terbagi menjadi tiga komite, salah satunya adalah Komite Politik yang dilaksanakan di Gedung Dwi Warna. Momen tersebut kembali dijadikan gambar pada stempel dengan nuansa cap berwarna biru.
Stempel terakhir di Museum KAA melambangkan perangko senilai 75 sen edisi Konferensi Asia Afrika yang dihiasi dengan gambar burung merpati dan globe sebagai lambang perdamaian dunia.
Melanjutkan misi perburuan stempel, tim detikJabar mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat sebagai destinasi kedua. Di sana tim mendapatkan satu cap bergambar monumen dengan warna merah. Petugas Monumen Perjuangan Rakyat, Ahda dan Ami mengonfirmasi bahwa belakangan ini banyak generasi muda yang mengumpulkan stempel di sana.
"Banyaknya mahasiswa dan orang dewasa yang sering pinjem stempel untuk dicap di buku masing-masing. Selain di sini ada juga di Museum Geologi, Gedung Sate, dan Sri Baduga," ujar Ami saat diwawancarai di lokasi.
Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat sendiri didominasi dengan arsip sejarah mengenai peristiwa Bandung Lautan Api. Selain itu, terdapat pula informasi administratif mengenai seluruh wilayah yang berada di Jawa Barat.
Berpindah ke kawasan Gasibu, tim detikJabar mengunjungi Museum Pos Indonesia yang menyediakan stempel berwarna ungu dengan gambar petugas pos lengkap dengan sepedanya. Sementara itu, Museum Gedung Sate pun turut menyediakan stempel yang tentunya dilambangkan dengan ikon Kota Bandung.
Museum Geologi menjadi lokasi terakhir perburuan stempel oleh tim detikJabar. Stempel yang ditawarkan berwarna merah menjadi penutup kisah pencarian cap hari itu.
Selain menjadi sarana rekreasi, hobi mengumpulkan stempel di museum dapat pula menambah wawasan generasi muda akan sejarah bangsa. Bukan hanya sekadar hobi, dari stempel generasi muda bisa kembali mengingat sejarah hingga bersosialisasi dengan orang yang memiliki minat serupa.
"Khususnya satu lembar stamp ini sangat berkesan karena saya merasa seorang introvert berani pergi dengan orang yang baru dikenal dalam satu komunitas demi dapetin stampel," tutup Stefany.
(orb/orb)
