Mengintip Peluang Cuan dari Industri Voice Over di Indonesia

Mengintip Peluang Cuan dari Industri Voice Over di Indonesia

Yuga Hasani - detikJabar
Kamis, 15 Okt 2026 20:30 WIB
Kick Off Road to Wonderful Voice of Indonesia 2026
Kick Off Road to Wonderful Voice of Indonesia 2026 (Foto: Yuga Hasani/detikJabar).
Kabupten Bandung -

Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Indonesia terus berupaya mengembangkan ekosistem industri voice over (sulih suara) kepada generasi muda. Apalagi pada era saat ini industri tersebut banyak dibutuhkan untuk dunia digitalisasi.

Sulih suara saat ini kerap dibutuhkan di berbagai konten sosial media. Kemudian beberapa industri sulih suara itu pun kerap digunakan hingga dunia sineas atau film yang ada di Indonesia.

Pengembangan itu dilakukan melalui Voice Institute Indonesia (VII) bekerja sama dengan Telkom University untuk memberikan pengenalan mengenai dunia sulih suara. Para mahasiswa diberikan ilmu bagaimana karakter suara manusia, hingga membuka akses terhadap peluang pengembangan talenta di sektor ekonomi kreatif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menteri Ekonomi Kreatif atau Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya mengatakan, kegiatan tersebut merupakan dalam rangka Wonderful Voice of Indonesia 2026. Sehingga kegiatan tersebut sebagai sarana pengembangan industri sulih suara.

"Kegiatan ini adalah ruang untuk pengembangan talenta voice over ya, sulih suara, ekosistem industri kreatif di Indonesia," ujar Riefky, usai membuka Kick Off Road to Wonderful Voice of Indonesia 2026, di Auditorium Damar Telkom University, Kabupaten Bandung, Kamis (15/10/2026).

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan kegiatan tersebut sebagai upaya membuka peluang profesi voice over atau sulih suara kepada industri. Menurutnya industri tersebut memiliki potensi ekonomi yang lebih besar.

"Hal ini terbukti sejak WVI (Wonderful Voice of Indonesia) dipercaya untuk merekrut talenta-talenta, melatih talenta-talenta baru. Sekarang hasilnya itu sudah lebih ke 300 perusahaan. Ya, digunakan voice-nya itu untuk berbagai macam produk dan juga perusahaan," katanya.

Kementerian Ekraf telah mendorong ekosistem tersebut untuk memiliki sebuah asosiasi pada tahun 2025 lalu. Akhirnya saat ini telah terbentuk Asosiasi Pengisi Suara Indonesia (ASPESNASIA).

Riefky menyebutkan pemerintah pun telah menerbitkan Perpres (Peraturan Presiden) tentang Rindekraf (Rencana Induk Ekonomi Kreatif). Salah satu subsektor dalam Perpres tersebut adalah mengenai voice over.

"Saat ini ada 21 subsektor termasuk salah satu subsektornya adalah voice over. Jadi kan ada subsektor mulai fashion, kuliner, kriya, games aplikasi, musik, film, sekarang ada tambahannya adalah voice over," jelasnya.

Menurutnya sektor voice over atau sulih suara harus terus dilakukan pengembangan. Kata dia, kemampuan dalam mengolah suara bisa digunakan diberbagai pekerjaan di dunia digital.

"Kalau kita sendiri kita menggunakan suara itu, bisa jadi presenter, bisa menjadi untuk pengisi suara di radio, presenter radio, presenter TV, animasi, bisa juga untuk menjadi content creator, bisa menjadi afiliator," ucapnya.

Riefky mengaku dunia sulih suara bisa menjadi mata pencaharian tambahan di kondisi saat ini. Sehingga generasi muda yang memiliki kecerdasan dalam bidang tersebut bisa terus dikembangkan.

"Voice over ini juga mempunyai nilai ekonomi, artinya dalam untuk mencari dan mempunyai penghasilan yang layak," kata Riefky.

Riefky menyebutkan pada tahun 2025 terdapat adanya peningkatan generasi muda yang bekerja di industri kreatif. Kata dia, totalnya yang bekerja di industri kreatif sebanyak 27,4 juta orang.

"Nah, yang menarik, peminatnya yang bekerja di sektor ini 63 persen itu Gen Z dan milenial, dan 58 persen adalah perempuan. Artinya, sektor ini sustainable dan inklusif," bebernya.

Dia melihat sektor industri kreatif bisa mendukung penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Apalagi di zaman digitalisasi saat ini banyak yang bisa dikerjakan melalui industri kreatif.

"Kalau dulu mungkin membutuhkan investasi atau kos lebih tinggi, tetapi di zaman digital ini mereka bisa langsung mendapatkan penghasilan dengan cara ya tentu harus dilatih skill-nya, paling tidak salah satunya ya voice-nya," ungkapnya.

Sementara itu, Founder Voice Institute Indonesia (VII), Bimo Kusumo menyebutkan, peserta yang Wonderful Voice of Indonesia sempat sampai sekitar 7.200 peserta. Kemudian dari jumlah tersebut dikurasi menjadi 20 orang.

"Dari 20 orang itu adalah pemenangnya. Kariernya kami dipantau secara terus menerus," kata Bimo.

Bimo menyebutkan dari para peserta tersebut kini telah berkarier dengan baik di Jakarta. Bahkan mereka ada yang telah memiliki rumah produksi untuk drama Cina.

"Terus, dubbing studio, terus juga kerja sama dengan beberapa dubbing film-film. Terus terima orderan dan memberdayakan teman-teman yang lain karena membuka lapangan pekerjaan, membuka lapangan pekerjaan," bebernya.

"Alumninya pun salah satunya dubbing untuk di Netflix dan OTT-OTT lainnya. Terus ada juga pengisi suara game, itu juga pengisi suara game yang lokal maupun internasional, developer-developer luar," tambahnya.

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, Iis Kurnia Nurhayati mengaku, adanya kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan industri. Kata dia, mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk mengenal industri secara langsung, memahami kebutuhan profesional, sekaligus mengeksplorasi potensi dirinya.

"Voice over dan voice acting menjadi bidang yang relevan bagi mahasiswa komunikasi karena melibatkan keterampilan menyampaikan pesan, membangun karakter, mengolah emosi, dan menciptakan kedekatan dengan audiens," kata Iis.

Iis menjelaskan kegiatan tersebut memiliki tema "Authenticity in Uncertainty" dan menjadi relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan. Menurutnya teknologi akan terus berkembang setiap zamannya.

"Walau terus berkembang, tetapi kepekaan, interpretasi, dan ekspresi manusia tetap memiliki nilai penting dalam komunikasi," jelas Iis.

Dia meminta mahasiswa untuk bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar. Kemudian adanya kegiatan tersebut dapat melahirkan talenta-talenta baru yang mampu berkontribusi bagi perkembangan industri kreatif Indonesia.

"Kami juga berharap mahasiswa FKS dapat menjadi salah satu juara dalam kompetisi Wonder Voice of Indonesia 2026 dan sukses berkarier di industri ini," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: LPS Yakin Generasi Muda Bawa Perekonomian Indonesia Lebih Maju"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads