Mengenal Tradisi Nyaneut, Minum Teh Ala Orang Sunda yang Sarat Makna

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Rabu, 14 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi teh (Foto: Getty Images/FabrikaCr)
Bandung -

Pernahkah membayangkan bahwa segelas teh hangat bisa menjadi jembatan antara manusia, alam, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan? Di tengah hamparan perkebunan teh Garut yang hijau dan udara pegunungan yang menusuk dingin, masyarakat Sunda rupanya menyimpan sebuah tradisi sederhana namun bermakna bernama nyaneut.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan menyeduh teh lalu menyesapnya pelan-pelan. Nyaneut adalah ritual kebersamaan, cara orang Sunda menjamu tamu, mempererat silaturahmi, sekaligus merawat identitas budaya yang telah hidup sejak lama di Jawa Barat.

Penelitian Putra, B. S. (2022), menyebut nyaneut sebagai budaya yang diwariskan turun-temurun dan menjadi pedoman masyarakat Sunda untuk saling menghormati serta bersilaturahmi melalui suguhan secangkir teh hangat.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, momen duduk bersama sambil menikmati teh hangat terasa semakin langka. Padahal, tradisi nyaneut mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting, melambat sejenak, menyapa orang di sekitar, dan menghadirkan kehangatan dalam relasi sosial.

Apa Itu Tradisi Nyaneut?

Nyaneut adalah tradisi minum teh khas masyarakat Sunda, terutama yang berkembang di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dalam praktiknya, teh yang disajikan umumnya berupa teh tawar atau teh tanpa gula, hangat, dan diminum bersama-sama dalam suasana santai.

Mengutip dari kajian Nurrubi dkk. (2022), nyaneut merupakan budaya minum teh yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Cigedug, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.

Tradisi ini sering dihadirkan pada pagi, sore, maupun malam hari, ketika warga berkumpul untuk bercakap-cakap, berbagi cerita, atau sekadar melepas lelah setelah bekerja.

Dalam Putra, B. S. (2022), nama nyaneut diyakini berasal dari kata Sunda nyandetkeun, yang berarti mendekatkan atau menghubungkan, serta cai haneut yang berarti air hangat. Makna tersebut sesuai dengan fungsi tradisi ini sebagai sarana untuk mendekatkan orang, baik yang sudah dekat maupun yang jauh, melalui silaturahmi.

Bahkan, disampaikan pula bahwa tuan rumah dipandang tidak sopan apabila tidak menyuguhkan teh kepada tamu, sementara tamu diharapkan menunjukkan tatakrama saat menerima dan menikmatinya.

Akar Sejarah di Perkebunan Teh Garut

Rupanya, kehadiran nyaneut tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkebunan teh di Garut. Tradisi ini berkembang di kawasan Cigedug dan Bayongbong, yang mulai dikenal sebagai kawasan perkebunan teh pada abad ke-19.

Penelitian Putra, B. S. (2022) menyebut bahwa Karel Frederik Holle sebagai tokoh yang membuka perkebunan teh di Cigedug dan Bayongbong pada abad ke-19. Sejak saat itu, kawasan dataran tinggi Garut dikenal menghasilkan teh berkualitas baik.

Masyarakat yang hidup di sekitar kebun teh kemudian mengenal teh bukan hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Teh kejek dari Cigedug disebut sebagai teh hijau khas Garut yang diolah secara tradisional melalui proses dikejek atau diinjak, sehingga memiliki rasa dan aroma khas.

Dari kebiasaan sederhana itulah nyaneut tumbuh. Para warga, terutama mereka yang bekerja di area perkebunan, membiasakan diri berkumpul dan menikmati teh hangat setelah lelah bekerja.

Dinginnya udara pegunungan membuat teh menjadi teman yang tepat, sementara kebersamaan dalam menikmatinya menjadikan aktivitas tersebut bermakna lebih dari sekadar memuaskan dahaga.

Cara Menikmati Teh dalam Nyaneut

Dalam kajian Nurrubi dkk. (2022) dijelaskan, prosesi nyaneut dimulai dengan memasak air di atas anglo atau tungku tanah liat menggunakan arang. Air yang telah mendidih kemudian dipindahkan ke poci tanah liat bersama satu sendok makan teh kejek khas Cigedug, lalu didiamkan beberapa saat.

Teh dalam nyaneut umumnya disajikan tawar, tanpa tambahan gula. Meski begitu, gula merah juga dapat digunakan sebagai pemanis teh atau dimakan bersama umbi-umbian yang dikukus.

Pilihan ini memberi kebebasan bagi setiap orang untuk menyesuaikan rasa manis sesuai selera masing-masing. Dalam budaya menjamu, menyajikan teh tawar dipandang sebagai bentuk menghargai preferensi tamu.

Terdapat pula cara khas dalam menikmati teh nyaneut. Cangkir teh diputar di atas telapak tangan sebanyak dua kali, kemudian aromanya dihirup sekitar tiga kali sebelum teh akhirnya diminum.

Gerakan tersebut dipercaya membawa makna filosofis, dua putaran dikaitkan dengan dua hal yang selalu berpasangan dalam kehidupan, sedangkan tiga kali menghirup aroma dikaitkan dengan niat, ucapan, dan perbuatan yang harus didasari kebaikan.

Lain hal jika dari sisi perspektif etnosains, Nurrubi dkk. (2022) menjelaskan bahwa memutar cangkir dapat membantu menurunkan suhu teh, sementara menghirup aromanya memberi pengalaman menenangkan sebelum teh diminum perlahan.

Gerakan sederhana ini menciptakan pengalaman yang lebih sadar akan seseorang yang tidak hanya minum teh, tetapi juga menghargai aroma, kehangatan, dan momen bersama yang menyertainya.

Sajian Pendamping yang Menghangatkan

Nyaneut biasanya tidak dinikmati sendirian. Di samping teh hangat, masyarakat menyajikan aneka kudapan tradisional berbahan umbi-umbian yang dalam bahasa Sunda disebut beubeutian. Biasanya dihidangkan bersama singkong, talas, kacang tanah, serta berbagai pangan lokal lainnya yang dimasak dengan cara dikukus di atas anglo.

Kombinasi teh tawar dan singkong rebus menciptakan rasa yang sederhana tetapi memuaskan. Rasa pahit lembut teh berpadu dengan tekstur lembut singkong atau ubi, menciptakan sensasi hangat yang cocok dinikmati di udara pegunungan.

Sajian ini juga mencerminkan kedekatan masyarakat Sunda dengan hasil bumi lokal, di mana makanan yang disajikan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kearifan hidup yang mengutamakan bahan yang tersedia di sekitar.

Nyaneut di Tengah Perubahan Zaman

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan menyajikan teh tawar kepada tamu mulai jarang dilakukan di beberapa rumah. Banyak orang kini lebih memilih menyajikan air putih. Putra, B. S. (2022) menyimpulkan bahwa eksistensi nyaneut memang menurun karena kurangnya kesadaran pelestarian, sehingga teh kerap hanya dipandang sebagai pendamping hidangan tanpa makna budaya.

Di Garut, nyaneut bahkan terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan budaya dan pariwisata. Festival Nyaneut menjadi salah satu agenda yang menampilkan tradisi minum teh dengan nuansa budaya Sunda.

Melansir dari laman resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Festival Nyaneut termasuk dalam kalender kegiatan nasional program Kementerian Pariwisata, dan digambarkan sebagai tradisi minum teh bersama khas Garut dengan nuansa budaya Sunda.

Festival terakhir digelar di Lapangan Situgede, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, pada 30 Juli 2026, dengan dibuka langsung oleh Bupati Garut Abdusy Syakur Amin.

Kehadiran festival semacam ini menunjukkan bahwa warisan lokal masih memiliki ruang untuk berkembang, sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat luas yang ingin mengenal budaya lebih dekat.

Setiap orang dapat ikut menjaganya dengan cara sederhana, misalnya dengan menyajikan teh hangat saat menerima tamu, mengajak keluarga duduk bersama tanpa terburu-buru, atau mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda. Dari gelas kecil berisi teh tawar, tersimpan pelajaran besar tentang kehangatan, kebersamaan, dan cara menghargai kehidupan.



Simak Video " Menghadapi Tantangan Uji Nyali di Makam Trunyan, Bali"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork