Pesona Nyawang Bulan, Wisata Budaya di Kasepuhan Bunisari

Pesona Nyawang Bulan, Wisata Budaya di Kasepuhan Bunisari

Yuga Hassani - detikJabar
Selasa, 29 Sep 2026 20:56 WIB
Kondisi Nyawang Bulan di Kasepuhan Bunisari, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026).
Kondisi Nyawang Bulan di Kasepuhan Bunisari, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Matahari mulai terbenam, bergantian dengan deretan lampu kuning yang mulai menyala. Deru langkah manusia berbondong-bondong menuju tempat sejuk berkonsep tradisional tersebut.

Deretan manusia dengan antusias memadati kegiatan "Nyawang Bulan" yang dilaksanakan di Kasepuhan Bunisari, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan tersebut kerap dilaksanakan setiap bulan purnama.

Kegiatan tersebut diramaikan dengan adanya pertunjukan seni di bawah pohon pinus yang rindang. Deretan lampu berwarna kuning membuat suasana semakin syahdu dan romantis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan Nyawang Bulan juga menghadirkan pasar kuliner tradisional. Makanan dan minuman khas Sunda menjadi daya tarik yang paling diburu para pengunjung.

ADVERTISEMENT

Makanan dan minuman saat perayaan Nyawang Bulan menerapkan alat pembayaran berupa koin kayu. Masyarakat yang datang bisa menukarkan uang rupiah dengan koin kayu saat memasuki area pasar kuliner.

Gelaran tersebut telah dilakukan sejak empat tahun lalu. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda unggulan di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Kegiatan tersebut didukung secara penuh oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung. Dalam setiap bulannya, kegiatan tersebut kerap dipadati masyarakat.

Kepala Disparbud Jabar, Iendra Sofyan, mengungkapkan Nyawang Bulan merupakan salah satu warisan budaya yang harus tetap dilestarikan. Kegiatan tersebut merepresentasikan cara masyarakat Sunda memaknai hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

"Tradisi ini bukan sekadar kegiatan menikmati keindahan bulan, tetapi juga ruang untuk merenung, bersyukur, mempererat silaturahmi, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat," ucap Iendra.

Iendra menyebutkan tradisi Nyawang Bulan memiliki nilai yang semakin relevan di tengah perkembangan zaman yang serba digital. Menurutnya, tradisi tersebut mengingatkan masyarakat untuk sejenak berhenti dari rutinitas dan kembali membangun kedekatan dengan alam.

"Kemudian menjaga identitas budaya lokal agar tidak tergerus oleh perubahan. Pelestarian Nyawang Bulan juga menjadi bentuk upaya mempertahankan kekayaan budaya Jawa Barat sebagai bagian dari warisan yang memiliki nilai edukasi, spiritual, sosial, dan potensi pengembangan pariwisata berbasis budaya," kata Iendra.

Dia menginginkan kegiatan Nyawang Bulan dapat terus diselenggarakan secara konsisten sebagai agenda budaya, sehingga tidak hanya lestari, tetapi juga berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai-nilai autentiknya.

"Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan mencintai tradisi leluhurnya, sekaligus menjadi media edukasi budaya yang hidup di tengah masyarakat," bebernya.

Dia menambahkan, kegiatan Nyawang Bulan diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata budaya Jawa Barat sekaligus memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan.

"Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan masyarakat, tradisi ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Mulai dari penguatan identitas budaya, peningkatan partisipasi masyarakat, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pariwisata yang berkelanjutan," ungkapnya.

Kondisi Nyawang Bulan di Kasepuhan Bunisari, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026).Kondisi Nyawang Bulan di Kasepuhan Bunisari, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/9/2026). Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekraf Kabupaten Bandung, Imaduddin, menilai kegiatan Nyawang Bulan penting untuk terus dilaksanakan. Pasalnya, kegiatan tersebut merupakan tradisi dan gagasan yang lahir dari masyarakat yang mampu tumbuh serta bertahan hingga sekarang.

"Saya mengikuti perjalanannya sejak awal, dan yang saya lihat bukan hanya sebuah kegiatan rutin setiap bulan, tetapi ada nilai kebersamaan, budaya, kesenian, kuliner tradisional, dan kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Kasepuhan Bunisari," ungkap Imaduddin.

Menurutnya, kegiatan tersebut harus terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman digitalisasi. Kata dia, hal tersebut menjadi identitas yang membedakan satu daerah dengan daerah lainnya.

"Bagi saya, Nyawang Bulan adalah salah satu contoh bagaimana masyarakat Girimekar mampu mengemas kekayaan budayanya menjadi bagian dari daya tarik Desa Wisata Girimekar," jelas Imaduddin.

Dia berharap Nyawang Bulan tetap tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Menurutnya, Desa Girimekar memiliki karakter dan potensi wisata yang kuat.

"Ke depan saya berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat, semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat, dan nilai-nilai yang ada di dalamnya tetap dipertahankan," kata Imaduddin.

"Jadi bukan sekadar ramai acaranya, tetapi Nyawang Bulan tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga budaya, mengembangkan potensi ekonomi lokal, sekaligus memperkenalkan Desa Girimekar dan Kabupaten Bandung kepada masyarakat yang lebih luas," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Girimekar, Wahyudi, mengatakan kegiatan Nyawang Bulan adalah salah satu upaya membangkitkan kearifan lokal sehingga masyarakat bisa mempunyai rasa kebersamaan dan gotong royong yang tinggi.

"Iya dengan adanya "Nyawang Bulan" adalah membangkitkan kearifan lokal yang ada di daerah kami, yaitu di Desa Girimekar," ujar Wahyudi, saat ditemui belum lama ini.

Pihaknya mengungkapkan kegiatan Nyawang Bulan pun diselenggarakan sebagai salah satu kegiatan yang membangkitkan perekonomian masyarakat melalui pasar kuliner dengan konsep tradisional.

"Kita bisa jualan dengan hasil produk atau hasil karya daripada warga masyarakat, dengan hasil jerih payah masyarakat membuat istilahnya makanan dari masyarakat karena makanan tradisi yang harus kita galakkan," katanya.

Menurutnya, saat ini beberapa masyarakat memilih mengonsumsi makanan instan yang dilengkapi pengawet. Oleh karena itu, pasar tersebut menyuguhkan berbagai makanan dan minuman tradisional.

"Kita gunakan tradisi lama kita pakai daun, pakai piring istilahnya piring bambu. Terus minumnya istilahnya kalau bajigur kita pakai bambu. Jadi ayolah kearifan lokal kita giatkan lagi dengan adanya tradisi kegiatan angklung, pencak silat, jaipong, jangan sampai kita kalah dengan kemoderenan orang lain," jelasnya.

Dalam pasar kuliner tersebut, pengunjung hanya bisa bertransaksi dengan menggunakan koin kayu. Masyarakat yang datang bisa menukarkan uang rupiah dengan koin kayu.

"Iya di sini tuh pembayarannya pakai koin, kita enggak enggak pakai uang rupiah langsung. Tapi uang tersebut beli dulu koin, nanti sebagai bayarnya ya itu kita kepada masyarakat bayarnya pakai koin," ucapnya.

Makanan yang dijual berupa minuman tradisional, bajigur, hingga bandrek. Kemudian makanan tradisionalnya berupa lotek, rujak, sate, hingga nasi liwet.

"Semua pokoknya hasil dari warga. Jadi di sini tidak boleh sama dagangnya. Semuanya harus beda-beda lah jualannya," bebernya.

Kegiatan Nyawang Bulan tersebut kerap dilaksanakan satu bulan sekali saat bulan purnama. Masyarakat pun antusias datang ke lokasi tersebut untuk menikmati pemandangan alam, pertunjukan seni, hingga kuliner tradisional.

"Mereka yang datang ke sini itu rata-rata pengen tahu kesenian tradisi sunda. Terus makanan-makanan khas sunda zaman dahulu. Mereka yang datang tidak hanya dari Bandung, dari Jakarta, dan warga negara asing (WNA) pun turut pernah datang ke sini," kata Wahyudi.

Meski telah berjalan empat tahun, Wahyudi menjelaskan Kasepuhan Bunisari telah ada sejak nenek moyangnya berada di lokasi tersebut. Menurutnya, kasepuhan tersebut adalah tempat penyebaran agama Islam pada zaman dahulu kala.

"Kalau kesepuhan Bunisari menurut orang tua kami dulu di sini teh tempatnya penyebaran agama Islam. Kita sebagai keturunan bagaimana kita menjaga kelestarian budayanya, kearifan lokalnya, Nah, kita jaga ini, kita rawat dengan tempat yang indah ini," katanya.

Wahyudi menyebutkan salah satu amanatnya adalah jangan melakukan pemotongan kayu sedikit pun. Kemudian terus melestarikan dan menjaga alam yang ada di sekitar.

"Itu kami lakukan karena orang tua itu selalu menjaga alam, melestarikan istilahnya menjaga pohon-pohonan, Jangan sampai ada yang ditebang, itu aja," kata Wahyudi.

"Jadi, kalau hari Jumat kita adakan dengan ada rutinitas tawasulan apa di sini. Di masjid ini, jadi warga masyarakat tuh tawasulan, bukan warga masyarakat aja yang di sini, tapi dari luar juga pada hadir datang. Jadi intinya bagaimana kita terus menyebarkan syiar-syiar," tambahnya.

Kegiatan Nyawang Bulan telah dilaksanakan di Kasepuhan Bunisari sepanjang tahun 2026. Di antaranya 31 Januari, 4 April, 2 Mei, 30 Mei, 27 Juni, 25 Juli, 29 Agustus, dan 26 September. Kegiatan tersebut akan kembali diselenggarakan pada 24 Oktober, 21 November, dan 26 Desember mendatang.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads