Batik Nyere: Inovasi Sapu Lidi yang Mulai Pudar

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Minggu, 27 Sep 2026 06:00 WIB
Siti Nurhaliza Safitri (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar).
Bandung -

Aroma malam yang dipanaskan di atas kompor sudah lama tidak menyapa indra penciuman Yeni. Di usianya yang senja, ia tak lagi sanggup melanjutkan napas kesenian batik yang kini kian terkikis zaman. Kini, yang tersisa hanyalah segenggam ilmu membatik yang ia simpan rapat, menunggu untuk diwariskan kepada generasi muda sebelum semuanya benar-benar hilang.

Batik nyere adalah salah satu mutiara kesenian asal Bandung yang digagas oleh M. Yahya pada awal 2010. Dinamakan 'nyere' karena proses pembuatannya tidak menggunakan canting seperti batik tradisional, melainkan memanfaatkan sapu lidi atau yang akrab disebut nyere oleh masyarakat Sunda.

Penggunaan sapu lidi ini sengaja dipilih untuk mempermudah proses pembuatan motif, dengan harapan generasi muda lebih tertarik untuk melestarikannya. Batik nyere sempat menjadi ikon kebanggaan Kota Bandung. Namun, pasca-kepergian M. Yahya, tak dapat dimungkiri kita kini tengah menyaksikan senjakala batik nyere.

Yeni (70), salah satu perajin batik nyere yang pernah berguru langsung kepada M. Yahya, merasa sangat kehilangan. Ia meyakini kesenian ini punya potensi besar menjadi ikon Bandung di mata dunia. Bagi Yeni, proses yang praktis dan fleksibilitas medium kain menjadi nilai tambah tersendiri bagi batik sapu lidi ini.

"Bahan dan alatnya relatif murah, proses pengerjaannya juga tidak memakan waktu yang lama, paling hanya butuh satu hingga dua hari saja. Selain menggunakan malam layaknya batik pada umumnya juga bisa dicampur dengan zat warna seperti indigo atau naptol," jelas Yeni beberapa waktu lalu.

Pembuatan batik nyere (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar).

Selain hemat biaya, motif batik nyere sangat bergantung pada kreativitas perajinnya. Yeni menyebutkan, berbagai benda di sekitar bisa disulap menjadi motif, mulai dari dedaunan, serpihan atap rumah, hingga obat nyamuk bakar.

"Kelebihan batik nyere itu bisa diaplikasikan pada bahan yang tebal dan diolah menjadi sepatu, gorden, jeans, bahkan hingga karpet sekalipun," ucapnya.

Akih (51), perajin batik nyere yang berguru pada M. Yahya pada 2017, memiliki pandangan serupa. Baginya, kebebasan berkreasi adalah daya tarik utama. Bahan-bahan untuk menciptakan motif pun sangat mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Akih sempat berbagi ilmu membatik nyere kepada sejumlah kelompok ibu-ibu. Berikut adalah tata cara membuat batik nyere berdasarkan wawancara detikJabar, Jumat (25/9):


(mso/mso)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork