ITB Gelar Pameran Museum Mini Suyadi, Ada Boneka Asli Unyil

ITB Gelar Pameran Museum Mini Suyadi, Ada Boneka Asli Unyil

Wisma Putra - detikJabar
Sabtu, 22 Agu 2026 19:00 WIB
Pameran Mini Museum Suyadi.
Boneka Si Unyil yang ditampilkan di pameran Mini Museum Suyadi. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Ada rencana liburan ke Kota Bandung? Bagi Anda yang akan atau sedang berlibur di kota berjuluk Kota Kembang ini, yuk berkunjung ke Bumi Sawunggaling Hotel yang berada di kawasan Tamansari, Kota Bandung. Saat ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) sedang menggelar pameran Museum Mini Suyadi di hotel tersebut.

Acara yang melibatkan para relawan ini menyajikan rekam jejak serta karya peninggalan mendiang Suyadi, sosok seniman multitalenta yang dikenal sebagai dosen, pendongeng, penulis, ilustrator, animator, dalang, sekaligus pencipta karakter ikonik Pak Raden dan jajaran tokoh dalam serial Si Unyil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikJabar berkesempatan berkunjung ke pameran temporer ini. Pameran yang bersifat gratis dan berlangsung hingga Minggu, 30 Agustus tersebut terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama menyajikan zona interaktif luar ruangan yang dapat diakses pengunjung dengan memindai kode QR.

Melalui aplikasi game interaktif tersebut, pengunjung diajak menyusuri alur cerita bertema kucing, hewan kesayangan mendiang, yang diselingi narasi, pertanyaan, serta petunjuk. Pilihan yang diambil pengunjung di sepanjang alur cerita dan labirin pameran pada akhirnya akan memunculkan karakter unik yang mencerminkan kepribadian masing-masing.

ADVERTISEMENT

Selanjutnya, pengunjung diarahkan ke area dalam ruangan yang memamerkan perjalanan hidup dan portofolio karya mendiang Suyadi sejak masa kuliahnya di ITB pada tahun 1952. Koleksi yang ditampilkan mencakup karya sketsa, lukisan, buku-buku ilustrasi zaman dahulu, hingga versi digital animasi seperti cerita Timun Mas. Pengunjung juga dapat melihat rekaan suasana kerja sang maestro bersama kucing kesayangannya yang bernama Kacung, serta riwayat pendidikannya di Prancis yang banyak memengaruhi gaya berkaryanya.

Pameran Mini Museum Suyadi.Pameran Mini Museum Suyadi. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)

Pada bagian akhir pameran, pengunjung dapat menyaksikan langsung artefak fisik yang sangat berharga, termasuk deretan boneka asli karakter Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Usro, Melani, Ucrit, Bu Bariah, Nenek Ijah, hingga Engkong. Seluruh koleksi boneka bersejarah tersebut saat ini telah menjadi aset yang dijaga oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Penyelenggaraan pameran ini bertujuan untuk melestarikan budaya mendongeng di Indonesia sekaligus mengenalkan warisan karya Suyadi kepada generasi muda, seperti Gen Z dan Gen Alpha. Sosok yang wafat pada 30 Oktober 2015 di usia 82 tahun tersebut memiliki peran besar dalam dunia literasi anak, hingga hari kelahirannya pada 28 November kini diresmikan sebagai Hari Dongeng Nasional. Selain pameran dan zona interaktif, rangkaian acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai aktivasi pendukung seperti sesi pembacaan dongeng dan pemberian penghargaan.

Suyadi Pencipta Boneka Si Unyil

Wakil Dekan Akademik FSRD ITB, Banung Grahita mengatakan, pihaknya sangat senang dengan kegiatan tersebut.

"Jadi Pak Suyadi ini selain sebagai tokoh nasional yang legendaris. Ya mungkin di generasi saya masih terkenal banget dengan Unyil dan dulu kita tahu Pak Suyadi ini sebagai Pak Raden dan ternyata ke sini-sininya saya juga tahu bahwa sebenarnya orang yang ada di balik cerita Si Unyil adalah Pak Raden. Jadi otak kreatifnya adalah Pak Raden atau Pak Suyadi ini," kata Banung.

"Selain sebagai seorang tokoh nasional, ternyata jPak Raden ini sebagai alumnus, juga seorang pendidik. Yang kemudian membawa ilmu ilustrasi bahkan kalau nanti dari beberapa info ini termasuk juga salah satu orang yang apa namanya mempelopori dunia animasi di Indonesia," tambahnya.

Dia menyebutkan, perkembangan animasi Indonesia saat ini tidak lepas dari peran para pionir. Jika ditarik mundur, salah satu sosok yang mengawali kemajuan kreator-kreator canggih masa kini adalah Pak Raden.

"Kita melihat karya-karya beliau, saya sih berharap untuk generasi sekarang ini bisa semacam transfer ilmu juga. Artinya kita bisa belajar bagaimana maestro-maestro kita dulu berkarya, kemudian membuat cerita, sampai nanti kita bisa lihat passion-nya ya dalam dalam mengembangkan karya kreatifnya. Mudah-mudahan ini bisa ditiru oleh kreator-kreator sekarang," tuturnya.

Sosok Suyadi dan Sawunggaling

Sementara itu, KVMM FSRD ITB, Riama Maslan Sihombing menuturkan, pemilihan tempat di kawasan Sawunggaling tidak terlepas dari kisah Suyadi semasa muda dulu.

"Ini berawal dari Pak Pirous waktu itu bersama-sama dengan kami melihat pameran 5 Dekade di Galeri Soemardja. Lalu kami bertanya kepada Beliau tentang pengalaman bersama Pak Suyadi. Lalu di situ malah ketahuan bahwa Pak Suyadi itu pernah tinggal di Sawunggaling. Jadi waktu hari Minggu dia suka mendalang. Suaranya tuh bagus dan besar sekali sehingga menarik perhatian orang-orang di jalan di Tamansari. Nah, itu sebabnya kami ingin sekali mengenang Beliau di tempat yang sama, puluh-puluh tahun kemudian kami mengenang Beliau sebagai pencerita, pendalang, animator, pendongeng, juga pendidik dan dia juga adalah seorang ilustrator buku anak-anak," tuturnya.

Tak mudah untuk menggelar pameran ini. Dibutuhkan waktu tiga tahun untuk mengumpulkan karya Suyadi dan persiapan lainnya.

"Persiapannya tuh sebenarnya cukup lama, karena kami tahun 2023 itu pernah membuat pameran juga di Galeri Soemardja. Jadi dari situ kami selalu mengumpulkan karya-karya Beliau dan kami mendapatkan dana dari LPDP, Dana Indonesiana, dan sekitar 6 bulan kami mempersiapkan pameran ini. Termasuk bertemu dengan keluarga, meminta izin, mengumpulkan komunitas yang bisa bergerak bersama-sama," tuturnya.

Meski digelar oleh ITB, tim pameran ini didukung banyak pihak di luar ITB dan pameran ini terbuka untuk umum.

"Silakan. Kami tuh senang sekali jika semua, justru generasi muda yang belum mengenal Pak Suyadikalau kita kan sebenarnya masih ada kenangan Si Unyil, yamereka juga bisa bisa mengenal kembali sosok Pak Suyadi sebagai Pak Raden, dan juga sebagai pendongeng dan sebagai budayawan, ya. Yang pokoknya dia tuh sebenarnya multitalenta sekali," pungkasnya.

(wip/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads