Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai revitalisasi Gedung Rumentang Siang, Kosambi, Kota Bandung. Bangunan cagar budaya yang telah lama menjadi ruang berkesenian itu bakal ditata ulang agar lebih nyaman digunakan tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Iendra Sofyan mengatakan, revitalisasi Rumentang Siang sudah dimulai setelah proses lelangnya selesai pada Juli 2026. Gedung kesenian ini akan direhab menyusul pemugaran Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Naripan.
"Alhamdulillah tahun ini kita diberi kesempatan anggaran untuk melakukan rehabilitasi Gedung Rumentang Siang seperti halnya Gedung Pusat Kebudayaan. Jadi setelah berbagai proses, minggu-minggu ini kita sedang tahap persiapan untuk pelaksanaan pembangunan konstruksinya," katanya, Senin (3/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumentang Siang sedari dulu sudah dikenal sebagai gedung pusat pertunjukan teater di Bandung. Salah satu kelompok yang waktu itu populer adalah Studiklub Teater Bandung (STB), yang namanya tidak bisa dipisahkan dengan Rumentang Siang.
Awalnya, sebelum menjadi gedung kesenian, Rumentang Siang merupakan gedung bioskop. Gedung bergaya art deco ini sudah berdiri sejak 1935 dengan nama awal bioskop Rivoli. Setelah Indonesia merdeka, nama bioskop ini lalu dirubah menjadi Bioskop Fajar.
Kemudian, melalui tangan dingin mantan Gubernur Jawa Barat Solihin GP, bioskop Fajar disulap menjadi gedung kesenian. Seorang penyair kenamaan di Kota Kembang saat itu, Wahyu Wibisana, lalu memberikan nama Rumentang Siang, yang memiliki arti samar (rentang) dan nyata (siang). Filosofinya pun begitu dalam karena ada harapan kebudayaan di Jabar bisa makin dikenal setelah adanya gedung pertunjukan Rumentang Siang.
Menurut Iendra, berdasarkan kajian detail detailed engineering design (DED), ada sejumlah bagian di Rumentang Siang yang bakal direvitalisasi. Mulai dari halaman depan, area resepsionis dan aula pertunjukan.
"Kami punya konsep seperti halnya Gedung Pusat Kebudayaan, jadi kembali ke zaman Belanda begitu. Kalau ceritanya dulu itu kan bioskop, tetapi sekitar 70-an dirubah menjadi gedung pertunjukan. Nah, kita akan kembalikannya ke tahun 70 yaitu adalah gedung pertunjukan," ungkapnya.
Siteplane revitalisasi Gedung Rumentang Siang Foto: Istimewa |
Karena merupakan gedung cagar budaya, revitalisasi Rumentang Siang tidak bisa dilakukan sembarangan. Disparbud bahkan menggandeng sejumlah instansi mulai dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bandung, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Target proyeknya itu selama 6 bulan. Jadi harapan kami, Desember itu sudah selesai dan bisa diresmikan," ucapnya.
Selama proses revitalisasi, Iendra memohon maaf jika aktivitas para seniman dan budayawan di Rumentang Siang harus terganggu. Namun ia memastikan, proses revitalisasi itu dilaksanakan untuk memberikan kenyamanan dan rasa kebanggaan untuk para pelaku kesenian.
"Rumentang Siang ini sudah terkenal dari dulu dan sudah banyak digunakan. Tentunya, revitalisasi ini untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pelestarian kebudayaan. Kita mencoba untuk memberikan yang terbaik, di antaranya merehab gedung pertunjukan ini," katanya.
"Karena ini nanti bangunannya direhab dulu, jadi mungkin baru bisa berfungsi lagi tahun depan. Dan tentunya tahun depan Insyaallah pertunjukannya akan lebih banyak lagi, lebih nyaman lagi dan tentunya akan lebih lagi meningkatkan pelestarian kebudayaan kita," pungkasnya.

