Infografis: Berokan Indramayu, Ritual Tolak Bala di Pantura

Infografis: Berokan Indramayu, Ritual Tolak Bala di Pantura

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 02 Agu 2026 17:00 WIB
Ilustrasi infografis berokan.
Ilustrasi infografis berokan. (Foto: Dibuat menggunakan Notebooklm)
Indramayu -

Berokan merupakan salah satu tradisi khas Kabupaten Indramayu yang sejak lama dipercaya masyarakat sebagai bagian dari ritual ruwatan atau tolak bala. Dalam perkembangannya, kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi simbol pembersihan energi negatif, permohonan keselamatan, serta harapan akan datangnya keberkahan bagi rumah, lingkungan, dan masyarakat.

Secara bahasa, Berokan berasal dari kata barokahan yang bermakna mengundang berkah. Sementara dalam praktiknya, Berokan diwujudkan melalui kostum bertopeng dengan bentuk menyerupai makhluk mitologis yang dipercaya mampu mengusir penyakit, bala, dan kesialan. Tradisi ini menjadi bagian dari kekayaan budaya Indramayu yang diwariskan secara turun-temurun.

Seiring perubahan zaman, tradisi Berokan mulai jarang dipentaskan dalam bentuk ritual. Namun, sejumlah seniman terus melestarikannya melalui Tari Berokan. Salah satunya Sarah Bolushi Sya'ban El-Mahdi, penari asal Indramayu yang menjadi perempuan pertama membawakan Tari Berokan. Penampilannya di West Java Festival 2025 menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap dapat hidup melalui kreativitas generasi muda tanpa meninggalkan makna filosofisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seni Berokan dari Indramayu menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Jabar 2022Seni Berokan dari Indramayu menjadi salah satu warisan budaya tak benda di Jabar 2022 Foto: Repro Majalah Indramayu Seru

Dalam pertunjukan Tari Berokan, setiap unsur memiliki simbol tersendiri. Barong melambangkan pengusir energi negatif, sedangkan pecut digunakan sebagai simbol penetralisir sekaligus penguat semangat. Gerakan tari mengadaptasi pakem tradisional Berokan yang kemudian dipadukan dengan kreasi baru agar tetap relevan dan menarik bagi masyarakat modern.

Sejumlah kajian menyebut kesenian Berokan telah berkembang sejak sekitar abad ke-15 dan berakar pada tradisi Hindu-Buddha sebelum mengalami penyesuaian nilai saat Islam berkembang di wilayah pesisir utara Jawa. Meski mengalami transformasi, makna utamanya tetap sama, yakni sebagai simbol perlindungan, penolak bala, dan pelestarian warisan budaya yang masih bertahan hingga kini di Kabupaten Indramayu.

ADVERTISEMENT

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads