Catatan Kecil soal 'Lilitan' Kawung dan Ungkapan 'Sateukteuk Heula'

Catatan Kecil soal 'Lilitan' Kawung dan Ungkapan 'Sateukteuk Heula'

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Selasa, 21 Jul 2026 07:00 WIB
Daun Kawung yang dipaud secara eksklusif dan belum dipotong (teukteuk). Daun kawung seperti ini sangat susah ditemukan di pasaran.
Daun Kawung yang 'dipaud' secara 'eksklusif' dan belum dipotong (teukteuk). Daun kawung seperti ini sangat susah ditemukan di pasaran. (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar)
Bandung -

Ada hal menarik dalam terjemahan kutipan sebuah paragraf dari naskah kuno Fragmen Carita Parahyangan. Di dalam paragraf itu, dikisahkan benda-benda apa saja yang wajib dikirimkan oleh wilayah vasal (bawahan) kepada Kerajaan Sunda di Pajajaran.

Di dalam paragraf itu, tertulis 'lilitan'. Boleh jadi, maksud dari nama benda ini bermakna kain. Tetapi, oleh Mamat Ruhimat (2024), sebagaimana dikutip dalam jurnal berjudul 'Sundanese Dendeng: Traditional Culinary Evidence of Spread of Coriander Spice in Banten Sultanate' oleh Jundi Ali Al-Ghifari S, dkk. (2025), 'lilitan' diterjemahkan sebagai rokok. Berikut ini kutipannya:

Lewa pamwat siya ka Pakwan: boΓ©h salawΓ©, uyah salawΓ© kΓ©lΓ©k, lilitan salawe teukteuk, kΓ©rΓ© salawΓ©, pakasem salawΓ© ruas, boΓ©h warna sakayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

(From Lewa to Pakuan: 25 pieces of white cloth, 25 jars of salt, 25 cigarettes, 25 pieces of Dendeng, 25 pieces of pekasam, and sekayu cloth).

ADVERTISEMENT

Jika terjemahan yang menarik itu benar, yakni, jika benar sebelum abad ke-16 ketika naskah Fragmen Carita Parahyangan ditulis, dan sebelum Roro Mendut berjualan lintingan tembakau pada masa Kesultanan Mataram, di Sunda sudah ada aktivitas merokok sebagaimana dikenal rokok seperti sekarang ini, maka orang Sunda punya perbendaharaan kata yang 'buhun' untuk merujuk lintingan tembakau: Lilitan.

Dalam carita pantun 'Badak Pamalang' memang dikisahkan masyarakat di Sunda di silam masa sudah punya aktivitas 'hisap'. Namun, bukan tembakau yang dililit daun kawung, melainkan candu. Di kemudian hari, Lilitan Kawung menjadi identitas yang melekat kepada orang Sunda.

Apa itu Lilitan Kawung?

Lilitan Kawung atau lintingan tembakau menggunakan daun kawung, adalah tembakau rajangan yang dibungkus dengan daun pohon enau. Yang dipakai, bukan sembarangan daun. Ada proses yang telaten dalam pemrosesan daun enau sehingga bisa dipakai sebagai lilitan (papir).

Namun, sebelum membahas soal proses maud (meraut) daun kawung muda, elok kiranya kita mengenal bagaimana daun kawung punya peran penting di dalam kebudayaan 'hisap' di Sunda.

Di dalam kebudayaan Sunda, rokok kawung bukan hanya sebagai sarana komunikasi yang merekatkan masing-masing anggota masyarakat, melainkan punya khasiat kesehatan.

Dikutip dari artikel berjudul 'Rokok Daun Kawung Dianjurkan karena Menyehatkan', dikisahkan bahwa di Kampung Adat Ciptagelar rokok daun kawung digunakan sebagai sarana pengobatan sakit jantung.

Dengan syarat, rokok itu terususun atas tembakau yang murni (mole) tanpa campuran bahan kimia, dan menggunakan daun kawung sebagai lilitannya. Artikel ini menyebutkan, ada perbedaan khusus daun kawung yang digunakan dengan tujuan obat ini, yaitu kadar lilin pada daun kawung tidak dihilangkan.

'Maud Kawung'

Tidak sembarangan daun pohon enau bisa dijadikan lilitan. Yang diambil adalah daun muda sebagaimana daun yang biasa dipakai untuk riasan janur perkawinan. Nah, janur kawung ini diambil, lalu diproses agar menjadikannya tipis dan lentur ketika kering dan digunakan.

Proses ini disebut 'maud', yaitu semacam aktivitas meraut menggunakan pisau. Pertama-tama, daun dilepaskan dari batangnya. Lalu, lidi yang mempertemukan dua daun juga dilepaskan.

Satu lembar daun, diletakkan di paha. Atau kalau sudah profesional, salah satu ujung daun cukup dikepit ibu jari kaki saja dalam posisi duduk. Kalau sudah terbentang, tetajam pisau ditekankan tanpa tenaga terlalu keras pada sisi daun yang mengilat. Bagian yang mengilat itu adalah lapisan lilin.

Lapisan lilin itu seperti latex alami. Bagian itu dibuang dan karenanya, daun kawung menjadi lebih tipis dan lebih lentur. Jika tuntas, sepanjang daun itu dililitkan membentuk sebuah linkaran seperti saat kita menggulung tapi mainan yoyo. Hal ini dilakukan agar bentuk daun tetap lebar saat dijemur.

Jika telah mengering, artinya daun kawung itu telah siap untuk dipakai. Daun kawung ini biasanya dipakai untuk 'melilit' tembakau yang kadar nikotinnya tinggi. Tembakau yang rasanya 'banget' (nyegrak) akan lebih pulen dengan lilitan daun kawung ini.

'Teukteuk'

Orang Sunda kini menyebut sebuah sebuah lilitan kawung atu satu buah rokok dengan sebutan 'batang'. Satu batang atau dalam Sunda 'sabatang'. Namun, jika terjemahan Fragmen Carita Parahyangan di atas dapat diterapkan dalam kebudayaan tembakau, ada kata lain yang bisa digunakan selain batang: Teukteuk.

Dan kenyataannya, daun kawung yang telah kering itu 'diteukteuk' atau dipotong supaya pas sebagai sebuah sarana untuk lilitan tembakau. Kita kini akan berkata untuk satu lilitan tembakau, atau satu rokok: Sateukteuk. Dan bagi kalangan muda Sunda yang biasa mengatakan 'Sebat heula!' alias sebatang dulu, boleh menggunakan ungkapan: Sateukteuk heula!

Di Mana Daun Kawung Bisa Didapat?

Toko-toko tembakau di Sunda biasanya menyediakan daun kawung yang telah dikemas dengan ukuran panjang yang sama. Sebuah jenama dari Tasikmalaya mendominasi percaturan daun kawung dalam dunia tembakau. Namun, karakter daun yang dihasilkan jenama ini terbilang kaku (heuras) dan lumayan tebal.

Sementara daun kawung yang 'dipaud' dengan telaten, telah sangat jarang ditemukan di pasaran. Kepiawaian bergaul dengan petan-petani tembakau akan memudahkan anda mendapatkan daun kawung yang 'eksklusif' ini.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads