Indonesia dikenal sebagai negara tropis dengan curah hujan yang tinggi. Namun, banjir saat musim hujan dan kekeringan ketika kemarau masih menjadi persoalan yang kerap terjadi di berbagai daerah.
Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya pohon-pohon besar yang berfungsi menyerap air hujan dan menyimpannya ke dalam tanah. Menariknya, jauh sebelum ilmu konservasi berkembang, masyarakat Nusantara telah mengenal pentingnya pohon-pohon tersebut melalui mitos dan cerita rakyat.
Tak sedikit pohon yang dipercaya sebagai tempat bersemayam makhluk halus atau memiliki aura keramat. Di balik cerita mistis itu, ternyata tersimpan fungsi ekologis yang sangat penting. Kepercayaan tersebut secara tidak langsung membuat masyarakat enggan menebangnya, sehingga pohon tetap lestari dan mampu menjaga sumber-sumber air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mitos Pohon Angker
Kata 'angker' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sesuatu yang 'tampak seram dan tidak semua orang dapat menjamahnya'. Demikian pula jika kata angker disandingkan dengan pohon angker. Maksudnya, ada mitos tertentu yang menyelimuti pohon-pohon tersebut. Selain menggunakan kata angker, orang Indonesia juga sering menyebut 'keramat' atau 'memiliki kemampuan di luar nalar manusia biasa'.
Sebagai contoh, dikutip dari laman ldr.uin-antasari.ac.id, bahwa di Desa Labuan Tabu ada mitos pohon keramat. Hal ini di antaranya karena kisah yang melatarinya, ada 'kerajaan yang berada tepat di bawah pohon keramat sebagai penunggu wilayah tersebut'.
Keangkeran yang 'Menyelamatkan'
Angker identik dengan hantu. Tapi, keangkeran dalam hal ini sejatinya 'menyelamatkan'. Sebuah penelitian oleh Rawinda Fitrotul Mualafina, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang berjudul 'Penafsiran di Balik Penamaan Hantu di Majalengka Jawa Barat', mengaitkan mitos-mitos keangkeran itu dengan kesetimbangan lingkungan.
Penamaan hantu di daerah Majalengka, menurut Rawinda memang mengandung sebuah kearifan lokal berupa sejumlah nasihat dan peringatan bagi masyarakatnya.
"Peringatan ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Majalengka terhadap sosok hantu yang selalu muncul di pohon pohon besar, seperti pohon beringin dan pohon kiara. Dari pengamatan yang dilakukan, ternyata pemilihan tempat kemunculan hantu ini tidak diberikan secara manasuka. Di dalamnya ditemukan maksud tertentu berkaitan dengan kelestarian alam,"
"Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa pemikiran masyarakat yang tradisional membuat mereka lebih menyerap peringatan itu dalam bentuk yang tradisional pula. Demikian juga pada pemberian peringatan ini. Disebutkan bahwa pengetahuan mereka mengenai alam semesta didasarkan pada kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat magis," tulisnya.
Hubungan Pohon dengan Air
Bagaimanakah hubungan pohon dengan air? Laman Arbor Day Foundation mengungkapkan bagaimana pepohonan, apalagi hutan, menjadi bagian dari siklus pemenuhan air untuk kebutuhan hidup manusia.
"Akar pohon menahan tanah di sekitarnya agar tidak longsor. Saat hujan, ini berarti tanah cenderung tidak mudah terkikis dan melepaskan sedimen ke perairan terdekat. Sebaliknya, curah hujan melambat dan terserap ke dalam tanah, secara alami mengisi kembali akuifer jauh di dalam Bumi. Polutan seperti nitrat, fosfat, dan pestisida semuanya tersaring selama proses ini. Penyaringan air di sumbernya membantu menjaga kesehatan manusia dan satwa liar," tulis laman itu.
5 Pohon Angker yang Menjaga Air
1. Pohon Beringin
Pohon beringin (Ficus benjamina) hampir selalu identik dengan cerita mistis. Melihat pohon ini dari kejauhan saja, sudah muncul kesan angker. Di berbagai daerah di Jawa dan Bali, pohon berukuran raksasa ini dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk gaib atau penunggu desa.
Padahal, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, di balik mitos tersebut, beringin memiliki fungsi ekologis yang luar biasa. Sistem akar gantung dan akar lateralnya menyebar sangat luas sehingga mampu menyerap, menahan, dan menyimpan air hujan dalam jumlah besar.
Tak heran jika pohon beringin banyak ditemukan di sekitar mata air, bantaran sungai, hingga kawasan resapan air. Kepercayaan masyarakat untuk tidak sembarangan menebang beringin secara tidak langsung membantu menjaga keberadaan sumber air hingga sekarang.
2. Trembesi
Orang Sunda mengenalnya sebagai Ki Hujan. Ya, trembesi (Samanea saman) dikenal sebagai salah satu pohon peneduh terbesar dengan tajuk yang sangat lebar. Di sejumlah daerah, pohon trembesi tua yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun sering dianggap keramat dan tidak boleh ditebang.
Dari sisi lingkungan, trembesi memiliki akar yang dalam dan kuat sehingga mampu menyerap air hujan dalam jumlah besar. Pohon ini juga membantu mengurangi limpasan air permukaan yang berpotensi menyebabkan banjir serta meningkatkan cadangan air tanah.
3. Hutan Bambu
Jika masuk ke wilayah hutan Serewen, Nagreg, di bagian kompleks Pegunungan Kareumbi akan ditemukan hutan bambu yang lembap. Tanah yang diinjak, nyaris merupakan dedaunan lapuk yang tebal lapisannya. Sangat gembur. Tetapi, nuansa yang dirasakan juga sangat angker.
Banyak orang mengaitkan rumpun apalagi hutan bambu dengan suasana menyeramkan. Suara gesekan batang bambu saat tertiup angin sering melahirkan cerita tentang bisikan makhluk gaib atau penampakan misterius.
Di balik kisah tersebut, bambu justru merupakan salah satu tanaman terbaik dalam menjaga ketersediaan air tanah. Sistem akar rimpangnya sangat rapat sehingga mampu menyerap air hujan, mengurangi erosi, sekaligus menjaga lereng agar tidak mudah longsor. Tak sedikit mata air di pedesaan yang tetap mengalir sepanjang tahun karena berada di sekitar hutan bambu yang masih terjaga.
4. Pohon Aren
Kawung, enau, atau lebih umum dikenal sebagai pohon aren (Arenga pinnata) juga kerap dikaitkan dengan cerita mistis, terutama karena banyak tumbuh di kawasan hutan, lereng pegunungan, dan dekat sumber mata air.
Di sejumlah daerah, masyarakat percaya pohon aren memiliki penunggu sehingga tidak boleh ditebang sembarangan. Kepercayaan tersebut membuat populasi aren tetap terjaga.
Bahkan, para penyadap nira di Tanah Sunda punya kepercayaan bahwa pohon aren adalah entitas perempuan yang dipanggil sebagai 'Nyai'. Sebelum mulai menyadap, biasanya para petani akan mendendangkan kidung pendek yang memuat luapan perasaan kepada Sang 'Nyai', dan agar pohon itu tidak marah (pundung) jika suatu saat petani itu meminta tolong orang lain untuk menyadap.
Secara ekologis, akar pohon aren mampu memperkuat struktur tanah, meningkatkan daya resap air, serta membantu menjaga debit mata air agar tetap stabil, terutama saat musim kemarau.
5. Kiara
Di Sunda, pohon kiara tak kurang angkernya dibandingkan pohon-pohon lain. Kiara bahkan sering menjadi penanda bahwa di bawahnya ada kompleks pemakaman. Memang, di berbagai daerah di Indonesia, pohon ini dipercaya menjadi tempat bersemayam makhluk halus atau penunggu.
Maka, tidak mengherankan jika pohon kiara yang tumbuh besar di tengah hutan, dekat mata air, atau di persimpangan jalan sering dianggap angker dan dihindari masyarakat, terutama saat malam hari.
Anggapan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Secara fisik, pohon kiara memang memiliki ukuran yang sangat besar dengan tajuk yang rimbun sehingga menciptakan area yang teduh bahkan cenderung gelap. Suasana di bawah pohon menjadi lembap dan minim cahaya, sehingga mudah memunculkan kesan angker.
Ditambah lagi, akar-akar udaranya yang menjuntai hingga menyentuh tanah sering kali menyerupai tirai alami. Dalam berbagai cerita rakyat, akar-akar tersebut kerap dikaitkan dengan tempat bersembunyi makhluk gaib.
Di balik citra angkernya, pohon kiara justru memiliki manfaat ekologis yang sangat besar. Sistem perakarannya yang luas mampu menyerap dan menyimpan air hujan dalam jumlah besar, menjaga cadangan air tanah, mengurangi risiko erosi, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai satwa liar.
(iqk/iqk)
