Di antara deretan kota besar di Indonesia yang sarat dengan hiruk-pikuk sejarah, mengapa bangunan kuno nan estetik Museum Pegadaian justru kokoh berdiri di Kota Sukabumi? Pertanyaan ini kerap membayangi langkah para pelancong luar daerah yang menginjakkan kaki di museum yang terletak di Jalan Pelabuhan II, Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi tersebut.
Teka-teki mengenai alasan di balik pemilihan lokasi ini akhirnya terjawab. Langkah melintasi waktu di museum ini tidak sekadar menyajikan deretan barang antik, melainkan membuka lembaran sakral di mana tanah Sukabumi rupanya menjadi tempat lahirnya sejarah panjang pergadaian di tanah air.
Koordinator Museum Pegadaian, Fauziah Toyiba, menceritakan bahwa berdirinya museum ini merupakan bentuk penghormatan terhadap akar sejarah. Bangunan yang saat ini tertata rapi dan dipenuhi instalasi modern tersebut, pada mulanya merupakan Rumah Dinas Kepala Cabang Pegadaian Sukabumi yang telah berdiri sejak fajar pegadaian menyingsing pada tahun 1901.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bangunan Museum Pegadaian ini kan memang sudah ada sejak 1901. Hanya saja dulunya bukan museum, tapi Rumah Dinas Kepala Cabang Pegadaian Sukabumi saat itu sampai tahun 2010," tutur Fauziah mengawali kisah saat berbincang hangat dengan detikJabar, Minggu (12/6/2026).
Tepat pada 10 April 2010, rumah dinas sarat sejarah itu bertransformasi menjadi sebuah museum. Kendati di masa awal penampilannya masih sangat sederhana yaitu hanya berupa pajangan barang-barang kuno di dalam etalase, kini pihak Pegadaian terus berbenah.
Hingga akhirnya pada 13 December 2021, setelah melalui proses revitalisasi besar-besaran dan penyematan berbagai teknologi digital, museum ini dibuka kembali dengan wajah baru yang jauh lebih menawan.
Namun, satu pertanyaan besar yang paling krusial adalah mengapa Pemerintah Hindia Belanda kala itu justru memilih kota kecil seperti Sukabumi untuk membuka kantor perdana mereka pada 1 April 1901? Mengapa bukan Batavia yang merupakan pusat pemerintahan dan pusaran ekonomi utama kolonial?
Fauziah mengungkapkan, alasan mendasar keputusan itu murni lahir dari potret sosial-ekonomi masyarakat Sukabumi tempo dulu. Berbeda dengan Batavia yang denyut perekonomiannya sudah jauh lebih maju berkat aktivitas pelabuhan dan perdagangan internasional, Sukabumi kala itu dikenal sebagai daerah pedalaman terpencil yang mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai petani pribumi.
Kondisi geografis dan keterbatasan akses ini kerap menjebak para petani pribumi ke dalam situasi pelik. Ketika badai gagal panen melanda atau ketika musim tanam tiba dan mereka kehabisan modal kerja, para petani ini kerap dilanda kebingungan.
Museum Pegadaian pertama di Indonesia ada di Sukabumi Foto: Siti Fatimah |
Secara materi, mereka sejatinya memiliki aset berharga di dalam rumah seperti perabotan dan kain batik. Namun, mereka tidak tahu bagaimana cara cepat mencairkan barang-barang tersebut menjadi sekeping uang tunai tanpa harus kehilangan hak miliknya.
Celah kemiskinan dan keputusasaan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para lintah darat. Praktik rentenir pun tumbuh subur dan menjamur di Sukabumi, menjerat leher perekonomian masyarakat kecil dengan bunga yang mencekik.
"Tujuan utama pendirian Pegadaian saat itu, selain untuk membantu modal masyarakat, juga untuk memberantas rentenir yang waktu itu menjamur di mana-mana. Dan kebetulan memang di Sukabumi saat itu mungkin cukup banyak praktiknya, sehingga dipilihlah Kota Sukabumi," jelas Fauziah.
Langkah strategis dari lembaga bentukan Pemerintah Hindia Belanda ini terbukti ampuh menjadi penyelamat. Alih-alih kehilangan harta benda akibat jeratan rentenir, para petani saat itu bisa membawa peralatan rumah tangga mereka ke kantor Pegadaian untuk ditukar dengan uang pinjaman yang aman.
Sifatnya pun adil. Ketika mereka sudah memanen hasil bumi atau kembali memiliki uang, barang perabotan yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup itu bisa ditebus kembali.
Mengingat nilai historisnya yang begitu sakral sebagai cabang tertua sekaligus menjadi tonggak awal runtuhnya cengkeraman lintah darat di tanah Sunda, maka di sinilah Museum Pegadaian satu-satunya di Indonesia berdiri tegak. Menjaga ingatan generasi hari ini tentang bagaimana sebuah lembaga keuangan kecil di sudut Sukabumi pernah menjadi sandaran hidup masyarakat kecil lebih dari satu abad yang lalu.
(sud/sud)

