Kritik Ekologis dari Gua Cigintung Lewat Pulo Megalodon

Kritik Ekologis dari Gua Cigintung Lewat Pulo Megalodon

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Sabtu, 30 Mei 2026 13:00 WIB
Teater Imersif di Pajampangan Gugatan Ekologis melalui karya seni
Teater Imersif di Pajampangan Gugatan Ekologis melalui karya seni (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Lebih dari sepuluh juta tahun silam, kawasan yang kini menjadi daratan Sukabumi Selatan adalah sebuah teluk raksasa tempat penguasa laut purba, Megalodon, bertakhta.

Fosil gigi raksasanya, yang oleh masyarakat lokal dinamai huntu gelap, tertimbun rapat dalam lapisan sedimen Formasi Cibodas sebagai warisan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.

Namun hari ini, lanskap purba yang dikenal sebagai Pulo Megalodon itu tengah didera petaka berlapis, mulai dari penambangan liar, pembabatan hutan, pembuangan limbah, hingga perdagangan fosil gelap yang merusak ekosistem dan memicu wabah penyakit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegelisahan ekologis inilah yang memantik lahirnya sebuah pertunjukan teater gim imersif bertajuk Pulo Megalodon Jampang: Saat Fosil Berbicara tentang Bumi yang Sakit.

ADVERTISEMENT

Pentas unik yang digelar di Gua Cigintung, Desa Gunungsungging, Surade, Sukabumi, ini berlangsung sepanjang 30-31 Mei hingga 1 Juni 2026. Pertunjukan ini dengan sengaja mengawinkan disiplin ilmu paleontologi, mitologi Sunda, dan kritik mendalam terhadap krisis iklim global.

"Melalui pertunjukan ini, kami ingin mempertemukan ilmu pengetahuan kebumian dengan kearifan kosmologi Sunda," ujar S. Sophiyah K, Sutradara sekaligus Pencetus Konsep pementasan tersebut kepada detikJabar, Sabtu (30/5/2026).

Sophiyah menjelaskan bahwa di balik petualangan interaktif ini, tersemat pesan mendesak tentang ekosistem yang runtuh serta ancaman virus-virus baru yang muncul akibat perusakan alam.

"Kami ingin mengajak publik merenungkan kembali tanggung jawab manusia atas bumi yang telah diwariskan selama jutaan tahun ini," katanya menambahkan.

Dalam jalinan naskah gim yang disusun oleh Rizal Sofyan, jangkar moral dari seluruh cerita bersandar pada sosok Nyai Endang Sungging, seorang konservator adat dari Gunung Sungging.

Perempuan yang mewarisi darah seni dan kecintaan pada fosil dari leluhurnya ini dikisahkan berjuang sendirian menjaga sisa-sisa keseimbangan alam yang kian porak-poranda.

Melalui dialog dalam naskah drama tersebut, tokoh Nyai Endang menyuarakan kepedihan bahwa tanah dan batuan di buana tengah tak lagi mampu menyerap energi jahat manusia, seiring dengan banyaknya warga yang meninggal akibat bencana ekologis dan eksploitasi liar.

Narasi ini pun menjadi kian hidup dan kolosal berkat keterlibatan deretan penampil seperti Jampang Warrior Dance, Amerta, Bunga Antika (Bu'on), Jamus Kalimasada, Drumband Indera Pakca Lokananta, Cepet Pasebanrasi, Babab, hingga Arif RH.

Di dalam ruang teater imersif ini, penonton tidak ditempatkan sebagai saksi yang pasif, melainkan bertransformasi menjadi paleontolog dan geolog yang mengemban misi menyelamatkan huntu gelap yang raib dikeruk para pemburu ilegal.

Alur dramaturgi bergerak secara organik menembus tiga babak utama. Perjalanan dimulai di halaman depan gua lewat Babak I, yang menyajikan fakta laut purba, ritual penyembuhan Nyai Endang Sungging, serta petuah dari Utusan Sanghyang Batara Surya.

Memasuki Babak II, penonton yang telah mengenakan kostum geolog akan merangsek ke dalam kegelapan gua sungguhan dengan berbekal lampu kepala untuk berburu fosil, bertempur melawan Geng Bandar Fosil lewat permainan fisik Sumpit Ngajoak, dan berdialog langsung dengan penguasa laut purba, Ratu Kidul.

Petualangan berakhir pada Babak III di mana para peserta ditantang menyusun teka-teki sedimentasi batuan demi mengembalikan fosil ke lapisan yang tepat, sebuah akhir cerita yang kemudian dirayakan oleh kemunculan makhluk-makhluk laut purba rekan sejawat Megalodon.

Pengalaman interaktif yang intens ini dirancang cermat bersama penata geo-dramaturgi M. Teguh, penata skenografi Pita Tjokronegoro dan Ujer, serta dukungan lanskap audio-visual dari desainer bunyi Rangga Purnama Aji dan teknologi visual mapping oleh Louis Marcellino.

Demi menjaga akurasi ilmiah di tengah balutan mitos, tim artistik merangkul Unggul Prasetyo dari Museum Geologi Bandung sebagai kontributor data paleontologi.

Kolaborasi lintas disiplin ini dapat terwujud berkat sokongan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana - LPDP, yang bekerja sama dengan Yayasan Sri Manggala Nusantara, Pakidoelan Eco Art & Cultural Laboratory, serta ekosistem pariwisata Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark.

Karena medannya yang menantang di dalam gua sungguhan, pihak penyelenggara membatasi kapasitas penonton secara ketat, yakni hanya 20 peserta untuk setiap sesi pementasan.

Pertunjukan ini digelar dalam tiga sesi harian masing-masing pada pukul 10.00 WIB, 14.00 WIB, dan 16.00 WIB bagi publik yang ingin merasakan langsung pengalaman teatrikal yang intens sekaligus menguji kepedulian terhadap bumi.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads