Sempat Memudar, Seni Badud Kembali Bergairah di Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Sabtu, 13 Agu 2022 09:00 WIB
Kampung Badud Pangandaran.
Kampung Badud Pangandaran. (Foto: Istimewa)
Pangandaran -

H Adwidi (69) turunan ke-6 penerus Kampung Badud di Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Di usianya yang tak muda ia masih aktif berkegiatan dalam memainkan kesenian tradisional Badud.

Kesenian Badud sudah berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi ini digelar untuk menyambut musim panen padi.

Kata Badud berasal dari beberapa kalimat yang mengandung siloka, yakni budaya asli dekeut urang dulur (Badud), artinya kesenian Badud selalu mendekatkan saudara-saudara di sekeliling kita.


"Badud sudah ada sejak tahun 1867, tetapi tidak tahu pasti tanggal berdirinya, karena disampaikan secara tutur oleh orang tua saya," kata Adwidi saat ditemui detikJabar, Sabtu (13/8/2022).

Menurutnya, kesenian Badud berkembang dari hanya sebuah alat musik dog-dog, atau alat musik dari kulit sapi mirip seperti bedug dengan ukuran kecil.

Kemudian berkembang dan dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lainnya menjadi semakin beragam, yaitu terdiri dari 8 angklung dan 6 dogdog.

Pada awalnya, pergelaran seni Badud menjadi bagian dari ritual saat panen tiba, yaitu pada sesi iringan masyarakat membawa hasil panen ke lumbung yang ada di desa.

Seiring berkembangnya waktu pada tahun 1975 kesenian Badud menjadi seni pertunjukan. "Tahun 1975 saya dipercaya orang tua untuk meneruskan kesenian Badud ini untuk tetap dimainkan dan lestari," katanya.

Puncaknya tahun 1990-an kesenian Badud mulai luntur karena kalah saing dengan kesenian daerah lainnya. Tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat Adwidi yang waktu itu percaya diri sewaktu-waktu Badud naik kembali dan populer bahkan menjadi kesenian khas daerah Pangandaran.

Tepat pada pemekaran Kabupaten Pangandaran sekitar tahun 2013 kesenian Badud kembali dikenalkan dan direvitalisasi menjadi kesenian khas murni daerah.

Selama mengembangkan kesenian Badud, Adwidi bersyukur karena seni Badud selalu dipakai dalam prosesi acara syukuran, hajatan dan event budaya daerah.

"Alhamdulillah setiap bulan selalu ada yang order tim kesenian Badud di Pengandaran dari daerah ke daerah," katanya.

Topeng yang digunakan untuk pagelaran seni Badud PangandaranH Adwidi (69) penerus ke-6 seni tradisi Badud Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Memainkan Kesenian Badud

Kesenian Badud biasanya dimainkan sebanyak 20 orang yang terdiri dari 8 pemain angklung, 6 pemain Dogdog, kemudian yang berperan mengenakan atribut topeng binatang seperti lutung, kera, anjing hutan, harimau, dan babi hutan yang dibuat dengan bahan seadanya.

Dengan gerak tari menirukan gerak binatang sesuai dengan topeng yang mereka kenakan, rombongan seni badud berjalan mengiringi rombongan petani yang membawa hasil panennya ke lumbung di desa mereka.

Topeng yang digunakan untuk pagelaran seni Badud PangandaranTopeng yang digunakan untuk pagelaran seni Badud Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Selain itu, seni Badud juga menjadi bagian dari salah satu cara mengusir hama padi. Sebelum bermain ada prosesi ritual membaca doa, dengan sesajen (rujak bunga ros, rujak pisang, telur, daging mentah, gula batu, rokok cerutu, rokok bangjo, rokok (berwarna) coklat masing-masing dua batang, dan lain-lain) yang diyakini memberikan kelancaran.

Untuk menambah ketertarikan masyarakat, seni Badud kemudian disandingkan dengan seni debus yang menggunakan gerakan silat.

Sandingan Debus tidak bertahan lama, namun unsur mistis dalam bentuk transenden (kesurupan) masih tetap dipertahankan.

Ada cerita di dalamnya berikut tambahan pemeran, yaitu dua barongsai ditambah dengan sepasang kakek nenek serta beberapa orang yang mengenakan kostum hewan.

Kampung Badud Pangandaran.Kampung Badud Pangandaran. Foto: Istimewa

Biasanya peran kakek dan nenek berfungsi sebagai selingan yang memancing gelak tawa penonton. Oleh karena itu, saat adegan tersebut, ada interaksi antara pemain dan penonton.

Adapun unsur tari yang ada dalam seni Badud hanyalah penyesuaian gerak yang tidak diatur dalam sebuah pedoman baku. Hanya tiruan gerak binatang atau pun gerak tari yang dilakukan dengan spontan tanpa ada pelatihan terlebih dahulu.

Mengenal Kampung Badud

Menurut Adwidi Kampung Badud hanya sebuah julukan di suatu Dusun Margajaya, Desa Margacinta.

"Tak ada ciri khusus pada kampung Badud, namun jika anda melewati sasak Pongpet yang panjangnya 300 meteran dengan bahan kayu, berarti sudah sampai di kampung Badud," kata Adiwidi.

Penduduk di Kampung Badud hanya 40 Kartu Keluarga atau sekitar 80 orang. Adwidi mengatakan penduduk di kampung Badud mayoritas hanya bercocok tanam atau sebagai petani. Selama hidup sampai saat ini penduduknya tidak merasa kekurangan.

Selain itu penduduk di kampung Badud sangat mengikuti perkembangan zaman, listrik, tv dan internet sangat baik. "Kita hidup sama seperti penduduk lainnya di desa Margacinta tidak ada penyekat," katanya.

Namun ada satu pantangan yang dihindari masyarakat kampung Badud, yakni melakukan perbuatan jahat. "Jika ada yang berniat jahat di kampung Badud maka pelakunya akan tiba-tiba linglung dan itu pernah terjadi," ucapnya.

Sewaktu ada maling yang kabur ke kampung Badud pasti ketemu dan pasti dibikin linglung. "Dulu kata orang tua, bahwa kampung badud ini akan jaya, secara keamanan, kesejahteraan dan terntram. Karenannya tidak pernah ditemukan kesulitan dan kesusahan. Karena warga Kampung Badud tingkat gotong-royongnya sangat tinggi," katanya.

Adwidi mengatakan, dahulu orang tuanya melakukan puasa 40 hari 40 malak dan menaman beberapa keinginan di wilayah tersebut, untuk meminta keturunannya aman dari segala petaka.

"Alhamdulillah selama penjajahan di Indonesia, kampung Badud belum pernah terjamah para penjajah, bahkan dikunjungi orang asing sekali pun belum pernah," ucapnya.

Pantangan lainnya dilarang keluar di waktu Sandekala atau menjelang magrib. "Saya luruskan dalam waktu tersebut sebaiknya melakukan shalat atau beribadah sampai datang isya kemudian baru bisa makan malam," katanya.

Penduduk kampung Badud sangat memegang erat budaya dan tradisi leluhurnya. Sehingga para pemain kesenian Badud juga usianya sudah di atas kepala 60. "Ya betul para pemain Badud saat ini sudah sampai usianya 60 tahun, karena penerusnya masih minim. Alhamdulillah anak saya turunan ke 7 sudah mulai belajar dan mempelajari Badud," ucapnya.

(yum/yum)