Menilik Napas Industri Sepatu Rumahan di Cibaduyut Bandung

Menilik Napas Industri Sepatu Rumahan di Cibaduyut Bandung

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Sabtu, 17 Okt 2026 13:30 WIB
Sepatu produksi Cibaduyut Bandung.
Sepatu produksi Cibaduyut Bandung. (Foto: Siti Nurhaliza Safitri)
Bandung -

Di pelosok gang kawasan Cibaduyut tersimpan sejarah panjang produksi alas kaki yang dirawat secara turun-temurun. Tak ayal, sejak lama daerah tersebut memang dikenal sebagai sentra perajin sepatu di Kota Bandung.

Hingga kini, tradisi membuat alas kaki buatan tangan rupanya masih menjadi mata pencaharian utama bagi sejumlah masyarakat Cibaduyut.

Bau lem yang khas seakan menjadi sapaan selamat datang saat menapakkan kaki di rumah perajin sepatu berlabel Gianina di kawasan Cibaduyut, tepatnya di belakang Lapas Banceuy. Dawi Jaelani merupakan wajah di balik merek sepatu wanita tersebut. Ia bercerita keluarganya memang telah menggeluti bidang sepatu buatan tangan sejak lama, walau saat ini Dawi telah melakukan rebranding dan menjalankan bisnis secara mandiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gianina sendiri berdiri sejak 2017 dan berfokus pada produksi alas kaki khusus wanita. Jenis yang ditawarkan pun beragam, seperti flat shoes, loafers, hingga heels dengan berbagai pilihan warna yang dapat menarik minat perempuan. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, pembeli bisa mendapatkan sepasang sepatu mulai dari Rp149.000 hingga Rp199.000.

ADVERTISEMENT

Walau dijual dengan harga murah, Dawi tetap mengedepankan kualitas produk dan kenyamanan pelanggan. Dawi bercerita sepatu buatannya menggunakan material utama kulit sintetis dan brokat.

Terkadang ia juga menggunakan kain Jepang dengan mengombinasikannya dengan bahan jaring pada bagian tertentu. Untuk mempercantik penampilan sepatu, Dawi menambahkan beberapa aksesori seperti mote atau manik-manik.

Dengan bantuan istri dan tim, Dawi dapat memproduksi maksimal 40 pasang sepatu dalam satu hari. Hingga saat ini, Gianina telah memproduksi lebih dari 100 model sepatu wanita yang dijual melalui situs belanja daring.

"Awalnya usaha sepatu kami masih sebagai vendor dari beberapa brand seperti Fladeo. Namun ketika ada momen pandemi COVID-19, kami melihat peluang marketplace yang beralih menjadi daring, setelah itu baru kami coba membuat brand Gianina," ujar Dawi saat diwawancarai di kediamannya, Selasa (13/10/2026).

Berjualan secara daring diakui Dawi memang lebih menguntungkan sebab seluruh pendapatan akan masuk ke kantong mereka tanpa perlu berbagi hasil dengan pihak luar. Walau begitu, segala usaha tentu ada rintangannya sendiri. Dawi bercerita bahwa saat ini regulasi marketplace online tengah menjadi tantangan bagi usahanya.

"Misalnya, harga jual sepatu kami sekitar Rp180.000, tetapi setelah dipotong biaya, yang kami terima hanya sekitar Rp130.000. Kalau ada pengembalian barang, kami juga harus menanggung ongkos kirim sehingga semakin mengurangi pendapatan. Bahkan, untuk pengembalian dari daerah di luar Pulau Jawa, kami pernah menanggung ongkos kirim hingga hampir Rp90.000," ucap Dawi dengan getir.

Pengembalian juga sering terjadi pada pesanan COD (cash on delivery), terutama di TikTok. Misalnya, ketika paket telah diantar tetapi pelanggan sedang tidak berada di rumah untuk menerima barang. Alhasil, paket harus dikembalikan kepada penjual dan Dawi perlu menanggung biaya pengiriman baliknya.

Untuk mengatasi problematika tersebut, Dawi sempat memiliki situs belanja daring garapan sendiri. Ia bahkan menyebutkan situs tersebut telah dilengkapi dengan fitur pelacakan barang pesanan. Tetapi, usahanya ini perlu diiringi dengan langkah edukatif agar masyarakat luas bisa menggunakan situsnya. Hal ini ia nilai sebagai usaha yang sukar dilakukan sebab masyarakat sudah terlanjur familiar dengan kegiatan belanja daring melalui platform terkenal.

Hanya berjarak beberapa rumah, terdapat pula perajin alas kaki lain yang telah menekuni bisnis di bidang ini sejak tahun 1990-an. Helmi Muntahal merupakan pria di balik suksesnya CV Halim Cipta Kreasi.

Helmi menjelaskan bahwa usahanya merupakan bisnis keluarga yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ia sendiri sudah mengenal dan terlibat dalam lingkungan usaha tersebut sejak kecil.

Saat ini, Helmi menerima pesanan dari berbagai pelanggan, termasuk pelanggan dari Malaysia, pemilik merek sepatu, serta sejumlah instansi. Meskipun telah lama beroperasi, usaha tersebut masih tergolong UMKM dan belum menggunakan sistem pabrik modern.

"Keunikannya itu handmade barangnya lebih cantik. Lebih variatif. Yang kedua, kelebihan kita bisa ngikutin desain kemauan konsumen," ucap Helmi saat diwawancarai di hari yang sama.

Dalam satu minggu, Helmi dapat memproduksi sebanyak 600-700 pasang sepatu. Hal ini disebabkan berkat dukungan pegawainya yang berjumlah cukup banyak. Saat tengah dikunjungi oleh detikJabar, perusahaan sepatunya tengah mengemas sepatu kulit untuk wanita bertumit tinggi.

Di tengah arus digital ketika jarak tak lagi menjadi hambatan, Helmi mengaku tantangannya berasal dari negeri Cina yang kerap mengeluarkan produk dengan harga miring. Untuk menghadapi problematika ini, Helmi optimistis dengan kualitas barang dagangannya yang mampu bersaing dengan produk impor.

"Tantangan yang dihadapi meningkatnya biaya administrasi penjualan online dan persaingan dengan produk impor. Untuk menyiasatinya, saya biasanya mengarahkan konsumen agar memesan dalam jumlah besar atau meningkatkan minimum order quantity (MOQ). Dengan begitu, saya bisa membeli bahan baku dalam jumlah lebih banyak sehingga harganya lebih murah," ungkap Helmi.

Baik Helmi maupun Dawi berharap besar pada pemerintah agar bisa membuat regulasi yang menguntungkan penjual, mulai dari sertifikasi hingga kebijakan dalam platform belanja daring. Dengan begitu, penjual dan pembeli dapat sama-sama menjalin ekosistem yang menguntungkan bagi satu sama lain.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads