Sang Juragan

Haji Isan dan Kisah Tak Terduga di Balik Lahirnya Batagor Bandung

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 29 Agu 2026 19:00 WIB
Fakhri Hidayat, generasi ketiga pemilik Batagor H.Isan Bandung (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar).
Bandung -

Barangkali Isan tak pernah menyangka, kepindahannya ke Kota Bandung hampir enam dekade lalu jadi momen paling menentukan dalam hidupnya. Bukan hanya hidupnya, tetapi juga dunia kuliner tanah perantauannya tersebut hingga puluhan tahun kemudian.

Tanpa sengaja, Isan menjadi founding father kudapan yang saat ini masih terus digadang-gadang jadi jajanan nikmat khas Kota Kembang, yakni Batagor.

Semua bermula dari Gang Situsaeur, kawasan Bojongloa Kidul, di mana pria asal Purwokerto tersebut memutuskan untuk menjajakan bakso tahu pada 1968.

Kala itu, bakso tahu merupakan jajanan yang sudah cukup familiar bagi banyak orang.

Setiap hari, Isan berjualan tahu isi dan siomay kukus tersebut di atas gerobak sederhana, berharap menukar porsi demi porsi menjadi rupiah.

Namun, uji peruntungan tak melulu berbuah hasil. Bakso tahu dagangannya lebih sering sepi, menyisakan makanan matang yang menumpuk dalam dandangnya.

Bila sudah demikian, Isan tak lagi menghitung untung. Isi kepalanya kala itu adalah bagaimana caranya membuat bakso tahu tersebut tidak basi dan terbuang sia-sia.

Agar lebih tahan lama, ia kemudian menggoreng butir demi butir tahu isi dan siomay miliknya. Bila sudah digoreng, makanan tersebut akan lebih mudah bertahan di suhu ruang.

Batagor H Isan (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar).

Setelah digoreng, dagangannya tersebut ia bagikan kepada para tetangga.

"Besoknya tetangga datang dan malah mencari bakso tahu yang digoreng itu. Padahal Haji Isan nggak menjual itu," tutur Fakhri Hidayat, generasi ketiga pemilik merek batagor legendaris Bandung, Batagor H. Isan.

Dari sanalah batagor lahir, di salah satu sudut Gang Situsaeur, Kota Bandung.

Isan, yang kini dikenal dengan nama dagang Haji Isan, mulai secara khusus menjual bakso tahu goreng hasil inovasinya. Versi yang tanpa disangka malah mengundang pembeli demi pembeli menuju gerobak dagangnya.

Istilah batagor pun perlahan mulai dikenal masyarakat, akronim dari "bakso tahu goreng".

"Sampai sekarang, menu aslinya yang dikukus itu malah sudah tidak ada lagi," kata Fakhri saat ditemui di Bandung belum lama ini.

Lima puluh delapan tahun kemudian, Batagor H. Isan masih terus diserbu pembeli. Tenant-nya di Festival Kuliner Bandung 2026 yang digelar di Summarecon Mall tak pernah sepi.

Bahkan, setiap harinya batagor yang dijual selalu ludes sebelum acara selesai.

"Sebelum festival tutup biasanya sudah sold out, lebih dari 500 pcs per-hari," ungkap Fakhri.

Membuka tenant di festival kuliner menjadi salah satu siasat Fakhri untuk mengenalkan resep sang kakek kepada khalayak yang lebih muda. Ia juga berinovasi dengan menghadirkan versi kemasan vakum agar lebih leluasa untuk dibawa.

"Soalnya pelanggan setia Batagor H.Isan kan memang banyak orang-orang tua ya, kita hadir di festival untuk menunjang generasi muda," paparnya.

Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork