Analis: Rupiah Bisa Tembus Rp 18.000 Pekan Depan

Ignacio Geordi Oswaldo - detikJabar
Jumat, 29 Mei 2026 19:30 WIB
Ilustrasi Dolar AS (Foto: Colin Watts/Unsplash).
Bandung -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan. Kondisi tersebut menyebabkan mata uang Garuda berpotensi terdepresiasi hingga melampaui angka Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan.

"Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200," kata analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi kepada detikcom, Jumat (29/5/2026).

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah tidak hanya dipicu oleh faktor teknis maupun kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), tetapi juga disebabkan oleh persoalan struktural pada perekonomian nasional. Salah satu poin yang ia soroti adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada impor energi, khususnya minyak mentah.

"Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini," tutur Ibrahim.

Selain itu, dari sektor pasar modal, sejumlah perusahaan asing di Indonesia perlu melakukan pembagian dividen atau bagi hasil keuntungan kepada para pemegang saham. Fenomena ini meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri, yang kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

"Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen yang harus dibagikan terhadap para investor, terutama investor asing di perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membuat satu kegaduhan tersendiri," ucap Ibrahim.

Sementara itu, pada pasar logam mulia, Ibrahim menyebutkan bahwa harga emas dunia masih bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Di sisi lain, penguatan nilai dolar AS terhadap rupiah mendorong investor untuk mengalihkan aset mereka dari emas ke dolar AS guna memanfaatkan momentum pelemahan mata uang Garuda tersebut.

"Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia," ujarnya.

Simak Video "Video: Gubernur BI Siapkan 7 Jurus Agar Rupiah Menguat"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork