Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS Diprediksi Terus Melemah, Bisa Rp 18 Ribu

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS Diprediksi Terus Melemah, Bisa Rp 18 Ribu

Ignacio Geordi Oswaldo - detikSumut
Sabtu, 30 Mei 2026 14:30 WIB
Ilustrasi Dolar AS
Foto: Colin Watts/Unsplash
Medan -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Bahkan, nilai tukar mata uang Paman Sam ini diperkirakan bisa tembus level Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

"Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200," kata Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, dikutip detikFinance, Sabtu (30/5/2026).

Pelemahan rupiah, kata dia, tidak hanya dipicu faktor teknikal maupun kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), melainkan persoalan struktural pada perekonomian nasional. Salah satunya ia menyoroti defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini," tutur Ibrahim.

ADVERTISEMENT

Belum lagi dari sisi pasar modal, banyak perusahaan-perusahaan asing di Tanah Air perlu membagikan dividen atau bagi hasil keuntungan perusahaan terhadap pemilik saham. Hal itu membuat permintaan dolar dalam negeri ikut naik yang kemudian mendorong pelemahan rupiah lebih jauh.

"Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen yang harus dibagikan terhadap para investor, terutama investor asing di perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membuat satu kegaduhan tersendiri," ucap Ibrahim.

Sementara itu, dari pasar logam mulia, Ibrahim menyebut harga emas dunia masih bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sementara nilai dolar terhadap rupiah terus menguat, mendorong investor memindahkan aset mereka dari emas ke dolar untuk mencari keuntungan dari momentum pelemahan mata uang Garuda ini.

"Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia," ujarnya.

Masih belum cukup, kebijakan pemerintah terbaru terkait rencana ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI, membuat investor asing banyak meragukan kepastian regulasi di Indonesia. Pada akhirnya membuat mereka banyak beralih ke negara lain.

"Ekspor satu pintu melalui DSI ini membuat kegaduhan. Memang secara jangka panjang bagus, karena pemerintahan di luar negeri pun sama, di Eropa juga sama seperti itu. Tapi karena dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini ekonomi, ini membuat kegaduhan tersendiri," jelas Ibrahim.

"Pemerintah benar bahwa dengan satu pintu ini kemungkinan besar tidak akan ada kebocoran untuk ekspor ilegal. Karena selalu tidak sesuai secara kertas dan secara teknis itu berbeda. Tetapi ini pun juga menjadi beban tersendiri, terutama bagi perusahaan-perusahaan tambang yang sudah melakukan kontrak kerja jangka pendek maupun jangka menengah, jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri," sambungnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video " Video: Gubernur BI Ungkap Faktor Penyebab Rupiah Undervalued"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads