Di sebuah ruko di kawasan Pasir Kaliki, Bandung, cerita bisnis makanan Rasa Juara Indonesia dimulai tanpa banyak rencana besar. Christ Abraham (35) kala itu tengah mengelola perusahaan IT, sebuah software house yang berjalan cukup stabil.
Lantai bawah ruko perusahaannya yang tidak terpakai kemudian memantik ide sederhana. Daripada kosong, ruang tersebut disulap menjadi dapur kantin kecil yang menjual menu seadanya.
Tahun 2015 menjadi titik awal. Ia dan istrinya menjual aneka masakan sederhana yang dekat dengan keseharian pekerja kantoran di sekitar lokasi. Namun dari dapur sederhana itu, satu menu justru mencuri perhatian dan mengubah arah bisnis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan di sana banyak orang kantoran, jadi coba bikin yang sederhana aja. Ada nasi goreng Rp15 ribuan, setelah itu nambah seblak. Kebetulan istri saya suka seblak, disuruh cobain. Dia bilang itu makanan sampah karena segala macam dicampur," kenang Christ ketika ditemui di kantornya di bilangan Kopo belum lama ini.
Christ yang sebelumnya belum pernah mencobaseblak pun sempat merasa skeptis. Hingga akhirnya ia mencoba sendiri camilan favorit khas Sunda tersebut. Dari situ,seblak mulai masuk ke menu kedai kecilnya tersebut.
Sang Juragan (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar) |
"Pertama kali melihat juga saya merasa ini apaan kan, kerupuk dibasahin. Tapi ternyata lumayan juga ya rasanya, sangat kaya," ungkapnya.
Tiga tahun berselang, bisnis makanannya pun tanpa disangka-sangka terus berkembang pesat. Alih-alih memilih untuk membuka kafe, ia menjajakan dagangannya dengan cara berbeda, yakni membuka gerai di berbagai food court supermarket. Fokusnya tetap pada makanan cepat saji yang mudah diterima pasar.
Di tahun 2018, titik balik datang. Christ kala itu mengikuti program Food Startup yang digelar oleh Badan Ekonomi Kreatif di Surabaya. Agar bisa mengikuti proses pitching, ia pun harus memutar otak. Bagaimana cara menyajikan produk seperti seblak tanpa harus repot membawa kompor dan bahan segar dari Bandung.
"Jadi kita mencoba, bisa nggak ya dibikin kemasan seperti model bumbu mie instan. Kemasannya juga sederhana, cuma pakai stiker. Kita pikirnya karena hanya untuk sampel, malas bawa kompor. Alhasil dikritik habis-habisan. Dibilang brandingnya jelek," kenangnya seraya tertawa.
Siapa sangka, keputusan untuk membuat seblak versi kemasan tersebut membawa bisnis mereka meroket lebih jauh. Dua tahun berselang, pandemi Covid-19 melanda. Masyarakat dan pebisnis beramai-ramai bermigrasi ke marketplace.
Rasa Juara Indonesia sebenarnya sudah mulai coba-coba merambah Shopee sejak 2018. Namun, hal tersebut belum terlalu ditekuni. Saat pasar online semakin ramai, Christ pun mulai menemukan grafik pertumbuhan penjualan dari etalase toko onlinenya.
Namun, ada pendekatan berbeda yang diambil Christ. Bila bisnis lainnya di era pandemi mulai mengandalkan online secara masif, ia tetap menjadikan tokonya di Shopee sebagai hal yang berjalan beriringan dengan bisnis luringnya.
Ketika kala itu banyak pelaku usaha ragu masuk ke ritel modern, Rasa Juara Indonesia justru mengambil langkah sebaliknya. Mereka mulai masuk ke jaringan minimarket dan toko modern.
"Kita ngambil momentum waktu itu. Ketika orang enggak berani masuk offline, kita hajar masukin barang di Borma. Justru saat pandemi, kita masuk ke MT (Modern Trade-toko retail). Ternyata di sana kita tumbuh terus sampai sekarang," paparnya.
Bila awalnya sekadar coba-coba, kini ia mulai mengambil insight lebih banyak dari penjualannya di online. Marketplace memungkinkan ia melihat siapa saja konsumen yang membeli berdasarkan review di kolom komentar, dan dari mana saja konsumen tersebut muncul berdasarkan alamat pengiriman.
Data-data itulah yang ia manfaatkan untuk kemudian melakukan ekspansi luring ke daerah-daerah yang banyak meminati produknya. Bila awalnya ia hanya bisa menjangkau pasar Bandung dan sekitarnya, kini seblaknya dapat dinikmati konsumen di luar pulau.
"Jualan di marketplace juga bikin kita harus pasang strategi. Produk kita dijual Rp19.000, dan harus bersaing dengan produk yang Rp30.000 bisa dapat tiga buah. Kita bukan cuma saingan soal rasa, tapi harus juga membangun image dan kepercayaan ke konsumen," terangnya.
Ia kemudian mulai mengemas produk-produk Rasa Juara Indonesia dengan kemasan menarik dan warna-warna menyala. Ia juga membuat maskot "Cemil" sebagai bagian dari branding perusahaan. Seiring dengan hal tersebut, penjualan produknya secara luring juga terus dikembangkan.
"Toko online jadi jembatan buat orang yang belum punya akses ke produk kita. Toko offline untuk membantu agar orang-orang yang tidak belanja online juga bisa membeli. Jadi saling melengkapi lah," ujarnya.
Eksperimen produk juga menjadi bagian dari perjalanan. Seiring waktu, ia tak hanya menjual seblak. Melainkan juga cuanki, hingga berbagai makanan khas dari daerah lainnya di Indonesia yang dikemas instan. Ada bakmi dengan cita rasa cakalang rica-rica Manado, bakmi godog Jawa, hingga produk nasi praktis.
"Makanya dinamai Rasa Juara Indonesia. Jadi kita ingin membawa kultur Indonesia dalam satu tempat. Kita mengkurasi masakan Indonesia dan membuatnya jadi lebih aksesibel. Jadi orang luar Bandung bisa cobain seblak khas Bandung. Bakmi Jawa bisa dicoba tanpa harus ke Jogja. Karena seblak di Jakarta mungkin rasanya akan berbeda dengan yang asli Bandung," paparnya.
Empat tahun setelah pandemi, bisnisnya terus bertumbuh. Produk Rasa Juara kini tersebar luas, tidak hanya di Bandung. Jaringan distribusinya mencapai lebih dari lima ribu titik toko luring di berbagai daerah. Mulai dari Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi.
Ekspansi tersebut membuat Christ melihat ada perubahan dalam perilaku konsumen. Pandemi tidak hanya mendorong digitalisasi, tetapi juga memunculkan gelombang baru. Selain Korean wave, ia melihat munculnya local wave, di mana masyarakat mulai kembali melirik makanan tradisional Indonesia.
"Jadi Covid-19 itu bikin local wave tumbuh cukup kuat, orang jadi lebih cinta dengan budaya Indonesia, lebih senang dengan makanan-makanannya. Di Jakarta pun mulai banyak kan resto Indonesia yang konsepnya mewah," terangnya.
Hal tersebut pulalah yang membuatnya mulai mencoba untuk merambah konsep baru dalam berjualan luring. Tak hanya dititipkan pada MT, ia saat ini tengah membangun kedai serupa convenience store yang di dalamnya menjual produk-produk Rasa Juara Indonesia siap saji. Toko tersebut saat ini baru dicoba di kawasan kantornya di bilangan Kopo, Bandung.
"Store ini mau dibuat ala-ala Family Mart gitu, semacam concept store. Baru ada di Bandung dan satu di Jakarta. Kita mau lihat dulu seperti apa ke depannya," katanya.
Nantinya, ia mengatakan, model toko tersebut direncanakan akan dibuka untuk kemitraan, dengan integrasi ke sistem e-commerce agar distribusi lebih efisien. Pada akhirnya, integrasi antara berjualan daring dan luring menjadi salah satu kunci terbesar kemajuan pesat bisnis kuliner miliknya.
Simak Video "Video: Digitalisasi dan Masa Depan Ekonomi Takalar"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

