Curhat Pedagang Nagreg, Omzet Anjlok Meski Lalin Arus Balik Padat

Curhat Pedagang Nagreg, Omzet Anjlok Meski Lalin Arus Balik Padat

Yuga Hassani - detikJabar
Kamis, 26 Mar 2026 14:00 WIB
Pedagang Toko Gini atau Istiqomah Fayyola, Gini Raina (34), saat ditemui detikJabar, di Jalan Raya Lingkar Barat Nagreg, Kabupaten Bandung, Kamis (26/3/2026).
Pedagang Toko Gini atau Istiqomah Fayyola, Gini Raina (34), saat ditemui detikJabar, di Jalan Raya Lingkar Barat Nagreg, Kabupaten Bandung, Kamis (26/3/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Deru mesin saling bersahutan di tengah padatnya lalu lintas arus balik 2026. Panas terik tak menyurutkan ribuan pasang mata untuk menempuh perjalanan demi bertemu keluarga di rumah.

Kepadatan kendaraan berbanding lurus dengan riuhnya transaksi di pinggir jalan. Deretan oleh-oleh khas seolah memanggil untuk segera diborong para pemudik.

Di antara padatnya lalu lintas, sejumlah pengendara memilih menepi untuk sekadar beristirahat dan membeli buah tangan. Tawar-menawar harga terdengar di sela-sela kesepakatan transaksi yang dilakukan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deretan pedagang oleh-oleh itu berada di Jalan Raya Lingkar Barat Nagreg, Kabupaten Bandung. Beberapa pengendara memilih menepi sejenak untuk sekadar membeli buah tangan atau makanan ringan.

ADVERTISEMENT

Para pedagang ini telah mencari peruntungan di wilayah tersebut sejak beberapa tahun silam. Berada di jalur menuju Bandung, deretan kios itu kerap dipadati pembeli saat momen arus balik Lebaran.

"Iya saya memang asli orang sini. Sudah jualan oleh-oleh dari 10 tahun yang lalu dan jualannya sudah di sini dari dulu," ujar salah satu pedagang Toko Gini atau Istiqomah Fayyola, Gini Raina (34) saat ditemui detikJabar, Kamis (26/3/2026).

Gini mengaku omzet oleh-oleh dan makanan ringannya menurun dibandingkan tahun 2025 lalu. Padahal, kondisi lalu lintas di depan tokonya terpantau padat merayap.

"Kalau penjualan turun kayaknya, dibanding tahun kemarin. Tahun kemarin bisa sampai Rp10 juta sehari semalam. Sekarang paling rata-rata Rp2 juta sampai Rp3 juta per malam," katanya.

Menurutnya, meski banyak pengendara yang melintas, jumlah mereka yang berhenti untuk berbelanja relatif sedikit. Hal itu membuat pendapatannya merosot dibanding tahun sebelumnya.

"Iya rata-rata segitu (Rp2 juta sampai Rp3 juta per malam) per harinya kita dapet. Tapi sekarang juga belum dapat segitu. Penyebabnya kurang tahu juga sih, padahal mobilnya banyak, tapi yang berhenti sedikit," jelasnya.

"Kalau hari-hari biasa mah ah pendapatan Rp1 juta kurang. Nah kalau akhir pekan biasanya dapet lah Rp1 juta. Ini teh pas BBM pada naik, jadi warga juga jarang beli oleh-oleh, mungkin yah," tambahnya.

Toko milik Gini berdiri berderet dengan kios lainnya tepat di jalur yang mengarah ke Bandung dan Jakarta. Para pembeli biasanya menepi setelah menempuh perjalanan dari wilayah Jawa Barat bagian selatan.

"Kalau di sini lebih ramai pembeli pas arus balik. Kalau H- Lebaran biasanya di jalur sana (Lingkar Timur Nagreg).

Oleh-oleh yang dijajakan para pedagang tersebut meliputi peuyeum, dodol, ubi cilembu, hingga makanan ringan. Produk tersebut dijual dengan harga mulai Rp15 ribu hingga Rp55 ribu.

"Jualannya iya oleh-oleh seperti dodol Garut, tempe, ubi, peuyeum (tape), macam-macam," kata Gini.

Minat masyarakat untuk membeli oleh-oleh secara langsung kini mulai tergerus digitalisasi. Menurutnya, masyarakat saat ini lebih gemar berbelanja secara daring.

"Kalau saya tidak jualan online. Beberapa pedagang di sini ada sih yang jualan online, kalau saya mah belum kayanya," ungkapnya.

Selama arus balik, Gini mengaku ketar-ketir lantaran modal yang dikeluarkannya belum sepenuhnya kembali. Namun, ia tetap berharap lonjakan pembelian terjadi pada akhir pekan, Sabtu (28/3/2026) dan Minggu (29/3/2026) mendatang.

"Lumayan ada lah yang beli mah, tapi belum balik modal sampai hari ini. Mudah-mudahan sampai hari Minggu bisa. Kalau pembeli banyaknya dari Jakarta, Banten, dan daerah lain," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads