Kecemasan Petani Indramayu Kala Pemerintah Impor Beras

Kecemasan Petani Indramayu Kala Pemerintah Impor Beras

Sudedi Rasmadi - detikJabar
Rabu, 25 Jan 2023 02:30 WIB
rice
Ilustrasi beras (Foto: iStock).
Indramayu -

Tingginya harga gabah kering giling (GKG) tengah dirasakan petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Naiknya harga jadi harapan sebagian petani kala musim paceklik saat ini. Namun, petani cemas jika harga gabah akan anjlok ketika beras impor mulai beredar.

Dihubungi detikJabar, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Sutatang menjelaskan bahwa sesuai hukum pasar kenaikan harga gabah kering giling (GKG) dipengaruhi ketersediaan barang. Di musim tanam pertama (MT 1) ini, sebagian petani sedang merasakan tingginya harga jual gabah yang mencapai Rp 7.500 per kilogram.

"Ini kan lagi musim paceklik, memang kalau berbicara stok per desa di angka 50 ton sih ada. Karena masih banyak di gudang petani yang belum terjual," kata Sutatang perkiraan stok padi di Indramayu, Selasa (24/1/2023).


Namun, di tengah kesempatan itu, para petani justru dibuat cemas dengan adanya kabar beras impor yang bakal beredar di pasaran. Sebab, kata Sutatang, petani khawatir bulog tidak bisa menyerap gabah dari petani karena dipenuhi beras impor.

Petani Indramayu pun sangat menolak dengan kebijakan impor beras tersebut. Karena dalam waktu dekat sebagian wilayah di Daerah berjuluk lumbung padi ini akan melaksanakan panen padi.

"Akan berdampak pada petani tatkala bulog penuh beras impor nanti kan tidak bisa menyerap gabah petani makanya kemarin saya tolak. Sebentar lagi Indramayu kan mau panen sekitar akhir Februari di beberapa spot mulai panen. Jadi kalau gudang bulog terpenuhi beras impor nanti harga akan jatuh pas panen," jelas Sutatang kepada detikJabar.

Menurutnya, produksi padi di Kabupaten Indramayu yang keceluk sebagai lumbung padi ini memang selalu surplus. Sehingga, kalau pun pemerintah tetap lakukan impor beras agar tidak mengedarkan ke wilayah Kabupaten Indramayu.

"Produksi nya kan surplus itu kan bisa mencakup kebutuhan nasional. Kalau bisa impor jangan masuk ke Indramayu lah. Lebih ke daerah yang lahan persawahan nya minim saja," kata Sutatang.

Lanjut Sutatang, harga gabah yang berangsur naik sempat terkendala dengan adanya kabar impor beras pada beberapa bulan lalu. Hal itu justru terjadi ketika sudah melewati masa panen padi.

"Harga gabah ini berangsur naik habis panen Rp 6.000 per kilogram terus bulan Sebelas tahun kemarin naik lagi di angka Rp 7.000 per kilogram. Waktu itu sempat turun lagi di angka Rp 6.800 per kilogram ketika ramai impor 500 Ton itu turun lagi tek sekarang naik lagi di angka lebih dari Rp 7.000 lagi," kata Sutatang jelaskan kenaikan harga gabah.

Petani berharap Pemerintah bisa menetapkan harga eceran tertinggi (HET) gabah kering giling dari tangan petani. Yaitu petani bisa menjual dengan harga Rp. 7.000 per kilogram di setiap musimnya.

"Iya jadi gini artinya harapan saya juga harga di angka Rp 7.000 ya per kilogram, nggak panen nggak musim paceklik. Itu harusnya pemerintah menargetkan harga segitu kalau mau mengangkat kesejahteraan petani ya," ujarnya.

Ketetapan harga pun diharapkan bisa meminimalisir kebutuhan biaya produksi padi. Sebab, tahun ini biaya produksi pun naik mencapai sekitar sepuluh juta per hektar.

Perkara penyaluran pupuk bersubsidi pun dianggap petani cukup rumit. Sehingga membuat petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya tinggi.

"Karena biaya produksi itu kan lumayan tinggi ya dari biaya tenaga kerja, tanam, traktor kan tinggi apalagi sekarang di tambah pupuk subsidi aturannya terlalu ruwet jadi banyak petani yang kadang kebingungan. Jadi ada yang punya kartu tani tapi pin nya ga ingat, kartu nya hilang, petani dibingungkan dengan penggunaan kartu tani itu mas, ujung ujungnya petani membeli pupuk yang mahal gitu," pungkasnya.

(mso/mso)