Harga BBM Naik, Nelayan Bandung Barat Kian Terjepit

Harga BBM Naik, Nelayan Bandung Barat Kian Terjepit

Whisnu Pradana - detikJabar
Sabtu, 24 Sep 2022 21:00 WIB
Penyewaan Perahu di Dermaga Sayuran Saguling, KBB
Penyewaan Perahu di Dermaga Sayuran Saguling, KBB (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung -

Nelayan tradisional di perairan Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian terhimpit oleh keadaan usai naiknya harga BBM bersubsidi.

Salah satunya dirasakan Mamat (60), nelayan tradisional dan petambak ikan jaring apung di perairan Waduk Saguling, blok Sayuran, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, KBB.

Kondisi yang dialami Mamat menjadi gambaran umum nasib nelayan di perairan Waduk Saguling. Mereka dihadapkan pada fenomena kenaikan ongkos produksi tambak ikan jaring apung imbas kenaikan BBM.


"Kenaikan harga BBM ini bukan saja membuat ongkos transportasi naik termasuk juga buat pakan," ungkap Mamat kepada wartawan, Jumat (23/9/2022).

Imbas kenaikan BBM turut mengerek harga pakan ikan. Saat ini pakan ikan mencapai 10.500 per kilogram. Belum lagi dengan ongkos angkut maka per kilogramnya bisa mencapai Rp 15.000.

"Sementara kebutuhan kita 70 karung per bulan. Otomatis biaya produksi makin membengkak," kata Mamat.

Namun di sisi lain, kata Mamat, harga jual ikan dari nelayan tetap rendah. Beberapa hari lalu ia baru saja memanen 3 kwintal ikan nila dari kolam jaring apung miliknya. Ia menjual dengan harga Rp18.500 per kilogram kepada pengepul.

"Ya (harga) jauh dari ongkos produksi, tapi harus tetap dijual karena kan butuh untuk biaya sehari-hari," ujar Mamat.

Untuk menutupi ongkos produksi dan kerugian yang dialami nelayan serta petambak, idealnya pemerintah bisa mengendalikan harga ikan dari nelayan. Misalnya memberlakukan standar harga Rp 24 ribu per kilogram untuk ikan mas dan Rp 22 ribu per kilogram untuk ikan nila.

"Kalau nggak diatur begitu, kami nelayan yang akan terus rugi. Paling banter hasil tambak hanya untuk makan sehari-hari," ucap Mamat.

Hal senada dikeluhkan Deden, pemilih perahu di Dermaga Sayuran, Saguling. Ia yang mengandalkan bahan bakar Pertalite dan Solar untuk aktivitas perahunya, kini sangat terjepit dengan kondisi yang dialami.

"Solar dengan Pertalite naik, ditambah belinya susah karena harus antre dan pakai surat. Jadi ini sebetulnya menyulitkan masyarakat kecil seperti kita," tutur Deden.

(yum/yum)