Bawelnya Penumpang Bus Kopayu hingga Dilema Pandemi

Bawelnya Penumpang Bus Kopayu hingga Dilema Pandemi

Sudedi Rasmadi - detikJabar
Senin, 12 Sep 2022 15:00 WIB
Bus Kopayu.
Bus Kopayu. (Foto: Sudedi Rasmadi/detikJabar)
Indramayu -

Perjuangan kru bus tiga perempat trayek Cirebon-Pamanukan Subang via Jalan Pantura dirasakan semakin berat. Bukan hanya sepi penumpang, mahalnya harga BBM jenis Solar semakin menghambat operasional.

Sopir bus Kopayu di Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu, Ardisela (52), mengaku penghasilan narik bus eks Kopayu menurun tajam. Terkadang, penghasilan hanya cukup membeli bahan bakar setelah harga BBM naik.

"Cuma Rp 100.000 per hari sudah bagus, seringnya di bawah itu dan hanya cukup untuk membeli Solar saja," keluhan Ardisela , Senin (12/9/2022).


Kru bus tiga perempat saat mengoperasikan armadanya harus lebih ulet dan bersabar. Pelayanan prima juga harus tetap dilakukan untuk menjaga eksistensi dan menghindari konsekuensi sepi penumpang yang bisa berimbas pada setoran.

Permintaan naik tarif setelah harga Solar naik sulit disampaikan kepada penumpang. Bahkan, banyak penumpang yang masih menolak kenaikan tarif harga.

"Minta tarif naik Rp 2000 saja kadang harus bertengkar dulu sama penumpang. Misal dari Arjawinangun Cirebon sampai Jatibarang Indramayu, tarifnya Rp 7000 sampai Rp 8000 tapi saat diminta naik malah ngomel," cerita Mang Kanan, sopir PO Putri Tunggal.

Pantauan detikJabar di jalur Pantura, bus tiga perempat atau Kopayu itu mulai sepi dari peredaran. Bahkan pada momen tertentu, banyak sopir yang memilih istirahat dan tidak mengoperasikan bus.

Bus Kopayu Semakin Lesu

Imbas BBM naik sangat dirasakan moda transportasi umum. Seperti di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, eksistensi pelayanan bus tiga perempat Kopayu semakin terlihat kendor.

Namun masih ada beberapa kru bus tiga perempat yang tetap optimis mencari penumpang di jalur trayek Cirebon-Pamanukan. Itu pun akhir perjalanan terkadang hanya sampai Arjawinangun Cirebon dan sekitar wilayah Lohbener Indramayu.

Sopir Kopayu, Mang Kanan (42) yang sudah belasan tahun menggeluti bus tiga perempat itu, menceritakan eksistensi Kopayu sangat luar biasa sebelum maraknya kendaraan pribadi atau persaingan transportasi umum lainnya. Sehingga, Kopayu bisa dibilang sebagai primadona di kalangan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP).

"Sudah lama nyopir Kopayu, dan enak, dulu masih bisa setor ke majikan sampai Rp.200.000 perhari, bahkan masih lebih untuk dibawa pulang," cerita Mang Kanan sang sopir Kopayu, Senin (12/9/2022).

Setelah maraknya kendaraan, pada tahun 2015-an, eksistensi bus tiga perempat mulai kendor. Sepi penumpang pun menjadi satu konsekuensi yang harus dihadapi pengemudi armada Kopayu.

Belum selesai masalah persaingan, wabah pandemi COVID-19 pada Tahun 2019 justru menjadi awal redupnya primadona bus Kopayu.

"Sering rebutan penumpang dengan angkutan lain di sekitar Arjawinangun sampai terminal Cirebon dan Lohbener Indramayu. Nah 2016 mulai sepi penumpang ditambah wabah Corona," seru Mang Kanan.

Salah seorang pemilik Kopayu, Madi (47), mengaku baru dua tahun mencoba bergelut dengan bus tiga perempat itu. Namun, masalah utama yang umum dihadapi para pemilik bus Kopayu justru lebih terhadap dokumen atau surat kendaraan. Terlebih untuk kendaraan yang berusia di bawah tahun 2010.

"Kalah tahun, sehingga sulit ngurusin uji KIR, izin trayek hingga STNK. Pemilik mah pengenya bus tetap jalan," imbuh Madi.

(orb/orb)