Mentan Ungkap Penyebab Harga Cabai Naik Turun di Masa Pandemi

Nur Azis - detikJabar
Minggu, 03 Jul 2022 08:15 WIB
Pedagang cabai di Pasar Sumedang.
Cabai di Pasar Sumedang (Foto: Nur Azis)
Sumedang -

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut tingginya permintaan dari industri horeca menjadi salah satu penyebab harga komoditas cabai-cabaian menjadi dinamis (naik-turun). Hal itu terjadi pasca pandemi COVID-19 yang mulai melandai.

"Dengan covid mulai hilang setelah dua tahun, industri horeca seperti hotel, restoran, catering, cafe dan tempat-tempat makan lainnya yang mulai dibuka, cabai pun menjadi dinamis (harganya)," ujar Syahrul saat mengunjungi perkebunan cabai di wilayah Desa Sukawangi, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/7/2022).

Pernyataan itu, Syahrul kemukakan saat ditanya detikJabar terkait kesesuaian harga cabai di pasaran dibandingkan dengan jumlah produksi atau jumlah ketersediaan cabai dari para petani saat ini.


Syahrul mengatakan, penyebab lain dari tinggi rendahnya harga cabai saat ini lantaran faktor cuaca yang berpengaruh pada tingkat produksi. Hal itu sebagaimana diketahui bahwa untuk curah hujan di beberapa daerah masih cukup tinggi.

"Produksi cabai saat ini belum masuk pada peak season (panen tertinggi), jadi panennya datar-datar saja, di tambah iklim dengan musim hujannya masih sangat tinggi bahkan di beberapa daerah curah hujannya mencapai 115 mililiter per detik," terangnya.

Kendati demikian, sambung Syahrul, ketersedian untuk komoditas cabai saat ini semestinya tidak terganggu. Hal itu jika dilihat dari tingkat produksi cabai di sentra-sentra perkebunan di sejumlah daerah.

"Neraca ketersedian dan panen yang ada di setiap sentra-sentra perkebunan cabai seperti di Brebes, Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi dan berbagai tempat, saat ditanya untuk ketersediaannya kalau pun turun neracanya kebutuhan dan ketersediaannya seharusnya tidak terganggu," terang Syahrul.

Menurut Syahrul, keterbatasan terkait ketersediaan komoditas cabai di daerah-daerah disebabkan oleh kendala biaya distribusi dari sentra-sentra penghasil cabai yang ada.

"Tapi memang ada persoalan seperti yang kita cek di sini (di Desa Sukawangi), biaya logistiknya dari sini ke pasar termasuk antar daerah ini yang banyak terganggu," ucapnya.

Terkait hal itu, kata Syahrul, pihaknya akan berupaya mengintervensi dengan cara memobilisasi daerah-daerah dengan tingkat komoditas cabainya tinggi ke daerah-daerah dengan tingkat komoditas cabainya rendah.

"Sebagaimana perintah bapak presiden, saya sedang mencoba untuk mendekatkan sentra-sentra produksi cabai ke daerah-daerah dan pasar-pasar yang membutuhkan komoditas cabai ini," ucapnya.

Salah satu ketua kelompok tani di Desa Sukawangi, Aceng mengatakan, saat ini untuk harga cabai rawit dari petani di angka Rp 75 ribu per kilogram. Sementara cabai keriting di angka Rp 65 ribu perkilogramnya.

"Harga tersebut mengalami kenaikan dari harga biasanya pada kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu per kilogramnya," ungkap Aceng saat berbincang dengan Menteri Pertanian Syahul Yasin Limpo.

Ia pun mengaku cukup senang dengan kenaikan harga ini setelah sebelumnya pernah mengalami penurunan harga sangat drastis hingga Rp 3 ribu per kilogramnya.

"Senang sekali karena kita juga pernah mengalami penurunan harga hingga Rp 3 ribu per kilogramnya," ucapnya.

(yum/yum)