Pedagang Sukabumi: Kita Mau Pakai Aplikasi, yang Beli Belum Tentu

Pedagang Sukabumi: Kita Mau Pakai Aplikasi, yang Beli Belum Tentu

Siti Fatimah - detikJabar
Rabu, 29 Jun 2022 21:00 WIB
Salah satu kios yang menjual minyak goreng.
Salah satu kios yang menjual minyak goreng. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Sistem pembelian minyak goreng curah rakyat (MCGR) saat ini akan diatur pemerintah melalui pengggunaan aplikasi PeduliLindungi. Langkah tersebut diambil untuk mengawasi distribusi, serta memberikan kepastian kesediaan dan terjangkaunya harga minyak goreng curah.

Kebijakan tersebut mengundang perhatian masyarakat sebagai konsumen dan pedagang pasar. Mereka menilai kebijakan itu lebih sulit dibandingkan menggunakan kartu tanda penduduk (KTP).

"Kemarin juga ada yang beli seliter pakai KTP juga nggak mau. Ribet. Banyak yang beli, jadi harus sat set sat set. Di-scan ribet lah, pakai KTP juga ribet," kata Iwan (26), salah seorang pedagang saat ditemui detikJabar di Pasar Gudang, Kota Sukabumi, Rabu (29/6/2022).


Iwan mengungkapkan, sampai hari ini ia masih berlakukan jual-beli migor curah pakai KTP. Warga diminta menunjukkan KTP ketika akan membeli migor curah dan dibatasi hanya dua liter per orang.

Meski dinilai menyulitkan, ia siap-siap saja jika diminta menerapkan aplikasi PeduliLindungi di warung sembako miliknya. Hanya saja, ia masih ragu penerapannya di masyarakat.

"Siap-siap aja, cuman penerapannya nih nanti nggak tahu. Pakai KTP juga nggak mau. Kita bisa mengikuti (aturan yang diterapkan pemerintah), cuman yang belinya belum tentu," ujarnya.

Hal senada diungkapkan, Ningsih (40), warga Kecamatan Kadudampit. Ia mengaku kesulitan jika harus menggunakan PeduliLindungi. Dia menginginkan proses yang cepat saat membeli migor curah di pasar.

"Iya suka beli migor curah. Ribet ih pengennya biasa we (aja) lah. Pakai KTP ge (juga) sama, hayangna mah capcus (inginnya mah cepat)," tutur Ningsih.

Sekedar diketahui, Penasihat Khusus Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bidang Pengembangan Teknologi Berkelanjutan, Rachmat Kaimuddin menjelaskan penggunaan PeduliLindungi dapat memudahkan pelacakan dan pengawasan pendistribusian minyak goreng curah.

Pemerintah juga bisa memastikan jika alokasi minyak goreng curah tepat sasaran. Sementara, jika hanya menggunakan KTP, masih ada celah penyalahgunaan. KTP bisa dipalsukan sehingga kurang efektif dalam mencegah aksi penimbunan.

"Saat ini kita sudah ada teknologi yang matang, PeduliLindungi telah dipakai 90 juta. Setiap penggunanya telah mendapatkan data Disdukcapil NIK nya," kata Rachmat saat konferensi pers, Selasa (28/6/2022).

(ors/ors)