Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak kembali menuntaskan perjalanan akademiknya. Ia berhasil menyelesaikan Pendidikan Profesi Insinyur di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan meraih predikat lulusan terbaik pada Subprogram Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.
Emil menjalani sidang pada 21 Mei 2026. Capaian tersebut menjadi pengalaman tersendiri karena ia harus membagi waktu antara tanggung jawab pemerintahan dan kewajiban sebagai peserta pendidikan profesi.
Dalam Pelantikan Lulusan Pendidikan Profesi di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, Rabu (28/10/2026), Emil menyampaikan apresiasinya kepada ITB yang dinilainya berperan penting dalam mendukung pengembangan pendidikan profesi di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingin berterima kasih kepada Pak Rektor karena ITB sebagai kampus yang sangat dikagumi kualitasnya, telah ikut mensukseskan ekosistem pendidikan profesi, ujar Emil dalam Pelantikan Lulusan Pendidikan Profesi di Sasana Budaya Ganesa, Bandung.
Bagi Emil, mengikuti pendidikan profesi bukan sekadar menambah gelar akademik. Ia harus menjalani proses pembelajaran sebagaimana peserta lainnya, mulai dari mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas kelompok, hingga menghadapi ujian. Jabatannya sebagai wakil gubernur tidak membuatnya mendapat perlakuan khusus.
"Di sini tidak peduli Anda wakil gubernur, di kelas reguler itu harus datang seperti teman-teman kelas reguler lainnya, datang ke kelas seperti biasa," jelasnya.
Proses belajar itu juga menuntut keterlibatan aktif setiap peserta. Emil mengatakan, perkuliahan tidak hanya diisi dengan mendengarkan materi dari dosen, tetapi juga mengharuskan peserta mengerjakan tugas dan mempresentasikan hasilnya. Bahkan, ujian masih dilakukan dengan menulis tangan.
"Kami harus ikut tugas kelompok, dan saat ujian harus menulis pakai bolpoin. Tida boleh diketik," kenangnya seraya tertawa.
Belajar Egaliter Tanpa Membawa Jabatan
Salah satu pengalaman yang membekas bagi Emil adalah ketika harus bekerja dalam kelompok bersama peserta yang usianya jauh lebih muda. Di ruang kelas, perbedaan usia maupun jabatan tidak menjadi alasan untuk mendominasi anggota kelompok lain.
Setiap peserta dituntut mengambil bagian dalam pekerjaan dan menunjukkan kontribusinya, baik saat menyelesaikan tugas maupun mempresentasikan hasilnya.
"Saya satu kelompok dengan teman-teman yang jauh di bawah saya usianya. Kita harus egaliter bagi tugasnya, enggak bisa kemudian bossy. Semua akan dilihat perannya, bagaimana dia saat mengerjakan dan saat memaparkan," katanya.
Pengalaman tersebut memberi Emil kesempatan untuk kembali merasakan dinamika pembelajaran akademik sekaligus memperluas pemahamannya mengenai bidang keinsinyuran. Menurutnya, pendidikan yang mempertemukan perspektif akademisi dan praktisi memberikan penyegaran yang relevan dengan pekerjaannya saat ini.
"Jadi ini pengalaman yang sangat bermanfaat buat saya. Saya merasa dapat penyegaran lagi, karena dalam pekerjaan saya saat ini ada aspek-aspek insinyuran yang harus saya jalankan juga," ungkapnya.
Sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil terlibat dalam berbagai persoalan pembangunan yang membutuhkan pemahaman teknis. Mulai dari perencanaan tata ruang dan pembangunan jalan hingga upaya mitigasi banjir, seluruhnya memerlukan pertimbangan yang matang.
"Karena saya harus menyusun rencana penataan ruang. Saya merancang program pembangunan jalan di Jawa Timur, juga merancang mitigasi banjir di Jawa Timur," ungkapnya.
Pendidikan Profesi untuk Menjawab Persoalan Nyata
Emil menilai pendidikan profesi memiliki peran penting dalam menjembatani pengetahuan akademik dengan penerapannya di dunia kerja. Menurutnya, persoalan di lapangan sering kali lebih kompleks daripada sekadar perhitungan teknis karena keputusan juga harus mempertimbangkan kondisi sosial dan politik.
Bagi seorang profesional, kemampuan menerapkan ilmu secara tepat menjadi hal penting, terutama ketika keputusan yang diambil berdampak langsung terhadap kepentingan masyarakat.
"Kita bisa tahu tantangan nyata seseorang saat membuat keputusan teknis yang kadang tidak sesederhana hitungan satu tambah satu sama dengan dua. Ada hitungan sosial, ada hitungan politik yang tidak boleh mengkhianati integritas teknik itu sendiri," paparnya.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan profesi berkaitan erat dengan upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi insinyur. Keahlian teknis perlu disertai tanggung jawab profesional karena pekerjaan di bidang keinsinyuran dapat memengaruhi keselamatan, pembangunan, dan kehidupan masyarakat.
"Memang pendidikan profesi ini bagian dari upaya untuk mewujudkan kepercayaan pada profesi-profesi penting di bidang keinsinyuran," tuturnya.
Karena itu, Emil berharap semakin banyak profesional dari berbagai bidang yang menempuh pendidikan profesi. Langkah tersebut dinilainya dapat mendorong para profesional terus memperbarui pengetahuan sekaligus meningkatkan tanggung jawab dalam menerapkan keahliannya.
"Kalau semua bidang profesi mau menempuh pendidikan profesi, mereka akan lebih bertanggung jawab lagi secara profesional dalam menerapkan keilmuannya," pungkasnya.
Simak Video "Video Respons soal OTT Bupati Tulungagung, Wagub Jatim Bicara Pembenahan"
[Gambas:Video 20detik] (bba/dir)
