Owa Jawa Hilang dari Ciremai Sejak 2008, Kini 4 Primata Tersisa

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Sabtu, 24 Okt 2026 17:23 WIB
Bayi surlili yang ditemukan oleh Dodo saat memadamkan api kebakaran di Gunung Ciremai (Foto: Istimewa)
Kuningan -

Seekor bayi surili endemik Jawa yang nyaris terpanggang dalam kebakaran hutan di Gunung Ciremai berhasil diselamatkan oleh seorang anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) bernama Dodo di Padabeunghar pada Kamis (22/10) malam. Bayi surili yang bulunya masih dominan putih itu ditemukan dalam kondisi lemas dan terjebak sendirian di tengah kobaran api.

Pemerhati Primata Jawa Barat sekaligus Kader Konservasi Madya BBKSDA Jabar Sigit Ibrahim mengatakan, Gunung Ciremai merupakan habitat surili. Selain Surili, di gunung itu juga ada lutung, monyet ekor panjang dan kukang.

Sigit sebut, Surili bisa berkembang biak dengan baik di gunung itu, bahkan kawasan tersebut kerap dijadikan sebagai tempat lokasi pelepasliaran Surili yang sebelumnya dilakukan rehabilitasi di pusat konservasi.

"Surili ini perkembangbiakannya cukup baiklah di wilayah tersebut," kata Sigit dihubungi detikJabar, Sabtu (24/10/2026).

Sigit mengungkapkan, jika anak surili itu terpisah dari koloninya, seharusnya dibawa ke pusat konservasi, agar nyawanya tertolong.

"Karena ya selayaknya bayi lah ya, baik itu primata seperti layaknya bayi manusia di mana mereka tentunya belum belum mandiri dan kalau lihat dari sekilas dari foto kan warna rambutnya masih sangat putih, berarti kan ini bisa dikategorikan sangat muda gitu ya dan muda ini akan ada kebutuhan untuk menyusui di induknya, ada kebutuhan juga mendapat kehangatan di malam hari, mereka tidur harus dipeluk, dan ketika tidak bersama induk atau tidak bersama kawanan ini sangat membahayakan sekali," ungkapnya.

"Jadi, memang sebaiknya kalau memang kawanannya masih terlihat di sana dikembalikan, kalau memang tidak harus ada penanganan di ruangan khusus dan perlakuan khusus. Karena kalau memang masih membutuhkan susu tidak bisa diberikan sembarangan," tambahnya.

Sigit menyebut, dia belum mengetahui penyebab anak surili itu ditinggal induknya. Seharusnya, menurut Sigit, bayi-bayi primata akan menempel di fase bayi sampai nanti pradewasa dengan induknya. Pradewasa menurut Sigit yakni bermain, bersosialisasi atau beraktivitas kemudian balik lagi ke induknya.

"Nah yang perlu diperhatikan juga adalah porsi pakan atau kondisi perut si Surili ini, kondisi metabolismenya atau kondisi pakannya memang berbeda dengan monyet ekor panjang yang bisa menerima segala bentuk makanan. Sedangkan si surili ini dia lebih banyak porsinya makan pucuk atau daun, jadi dia tidak bisa makan buah atau makanan lain," jelas Sigit.

Selain surili, lutung Jawa, monyet ekor panjang dan kukang, predator yang memakan empat jenis primata ini masih ada di Gunung Ciremai.

"Predatornya sih macan tutul, memang masih banyak, masih ditemukan di wilayah tersebut. Kemudian BKSDA dan Taman Nasional juga pernah melepasliarkan macan tutul di wilayah Bukit 1000 Bintang sebagai salah satu lokasi pelepasan liaran. Jadi, selain yang liar ada juga yang hasil translokasi atau hasil pelepasliaran juga di wilayah tersebut untuk jenis macan tutul," terangnya.

Owa Jawa Sudah Pergi di Gunung Ciremai

Surili, lutung Jawa, monyet ekor panjang dan kukang masih dapat berkembang biak dengan baik di Gunung Ciremai. Namun sayang, tidak ada owa Jawa yang hidup di gunung itu. Menurut Sigit owa Jawa sudah pergi dari Gunung Ciremai 20 tahunan lalu.

"Ciremai sebetulnya itu pernah menjadi salah satu lokasi penelitian untuk jenis primata endemik. Dari mulai owa Jawa, lutung Jawa, surili, kukang, termasuk monyet ekor panjang. Nah, sayangnya dulu ketika diteliti si owa Jawanya sudah hilang. Jadi, kemungkinan tinggal tersisa empat jenis primata Jawa di sana," ujar Sigit.

"Owa Jawa itu yang data terakhir itu ada yang pernah lihat di tahun 2003. Ada yang masih lihat 2003. Kemudian ketika melakukan survei di penghujung 2007 sampai 2008, ternyata sudah tidak terlihat tuh di Blok Apuy dulu. Jadi informasi melihat secara langsung di Blok Apuy, namun belum terdokumentasikan. Kemudian wawancara ke masyarakat waktu itu di daerah sana juga ada yang pernah melihat, tapi ketika 2008 itu sudah tidak tampak lagi si owa Jawa.

"Kemungkinan karena pada saat itu tempat lokasi yang diduga tempat hidupnya untuk khusus yang owa Jawa sudah beralih fungsi jadi kebun pada saat itu. Berarti kan di ketinggian kurang lebih sekitar berapa ya? 1.000, 1.600 sampai 1.800-an lah pada saat itu sudah ada area kebun juga. Kemudian berbatasan dengan hutan pinus," tuturnya.

Dengan adanya kejadian karhutla di Gunung Ciremai, Sigit berharap kehadiran empat jenis primata itu dapat terjaga dengan baik dan terus berkembang biak dengan baik. Dia juga minta perhatian khusus dari pemerintah dan minta kesadaran dari masyarakat agar ikut menjaga kelestarian empat primata di gunung itu.




(yum/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork