Bayangkan sebuah robot yang mendarat di permukaan Bulan yang sunyi, lalu perlahan meregangkan rodanya layaknya seni melipat kertas dari Asia Timur. Di Korea Selatan, imajinasi ini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Para peneliti sedang mematangkan teknologi robot beroda origami yang dirancang khusus untuk menaklukkan medan paling ekstrem di satelit alami Bumi tersebut.
Alih-alih menggunakan roda kaku konvensional, robot ini mengandalkan material baja karbon tinggi yang tahan api namun tetap fleksibel. Desain unik ini memungkinkan roda menekuk dan beradaptasi dengan kontur tanah yang tak menentu. Ketangguhannya pun tak main-main, melansir detikEdu, roda ini diproyeksikan mampu bertahan di bawah guyuran suhu ekstrem Bulan yang bisa melonjak hingga 260 derajat Celsius.
Keunggulan utamanya terletak pada efisiensi ruang. Saat masih berada di dalam wahana pendarat, roda ini bisa dilipat hingga hanya berdiameter 9 inci. Begitu menyentuh daratan Bulan, ia akan mengembang hingga ukurannya menjadi dua kali lipat lebih besar, siap untuk mulai menjelajah.
Sentuhan Seni dalam Teknologi Luar Angkasa
Proyek ambisius ini merupakan buah kerja keras Lee Seong-bin dan timnya selama tiga tahun terakhir. Berkolaborasi dengan Unmanned Exploration Laboratory (UEL), sebuah perusahaan robotika luar angkasa swasta, mereka mencoba memindahkan filosofi origami ke dalam mekanika robotika.
Roda tersebut tersusun dari bilah-bilah fleksibel yang saling bertautan. Struktur ini memungkinkan perubahan bentuk terjadi secara organik tanpa memerlukan sistem mekanis yang rumit dan berat.
"Inti dari origami adalah kemampuannya untuk berubah bentuk," kata seorang kandidat PhD, Lee Seong-bin.
Lee Dae-young, profesor madya yang mengawasi proyek ini, menekankan bahwa mekanisme perubahan bentuk tradisional biasanya memakan banyak ruang dan menambah beban robot. Selain itu, sistem yang kompleks sering kali rentan mengalami kegagalan di lingkungan yang keras. Dengan pendekatan origami, kerumitan tersebut bisa dipangkas tanpa mengurangi keandalan robot di lapangan.
Ketangguhan desain ini telah diuji di berbagai medan sulit di Bumi, mulai dari laboratorium simulasi hingga lorong-lorong lava di Pulau Jeju. Para peneliti memaparkan prototipe mereka pada material yang menyerupai debu Bulan (regolit), suhu panas yang menyengat, hingga kubangan lumpur untuk memastikan roda tersebut tidak akan menyerah saat menghadapi rintangan nyata.
Optimalisasi Lewat Kecerdasan Buatan
Inovasi ini semakin lengkap dengan integrasi Kecerdasan Buatan (AI). Yun Yi-seub, mahasiswa magister di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), memimpin pengembangan sistem yang melatih robot ini untuk bergerak lebih cerdas.
Melalui metode trial and error yang dilakukan oleh AI, tim dapat mengevaluasi ribuan kemungkinan desain dan pola pergerakan. Tujuannya adalah menemukan konfigurasi robot yang paling efisien, termasuk menentukan berapa jumlah roda yang paling ideal untuk melewati rintangan tertentu.
"Saya pikir kemampuan adaptasi AI dapat membantu eksplorasi ruang angkasa," katanya.
Baca juga: Benarkah Ini Lokasi Terakhir Bahtera Nuh? |
Misi Mencari Rumah di Bawah Tanah Bulan
Target jangka panjang dari pengembangan robot origami ini sangat krusial bagi masa depan manusia: menjelajahi terowongan bawah tanah Bulan. Terowongan yang terbentuk dari aktivitas vulkanik purba ini diyakini bisa menjadi tempat perlindungan terbaik bagi koloni manusia di masa depan.
Di dalam terowongan tersebut, manusia bisa terlindung dari radiasi kosmik yang mematikan dan fluktuasi suhu permukaan yang sangat liar. Namun, akses menuju sana sangat berbahaya karena lerengnya yang curam dan jurang yang dalam.
Di sinilah peran vital robot beroda origami. Dengan kemampuan berubah bentuk dan kecerdasan navigasi AI, kendaraan ini diharapkan mampu merayap masuk ke wilayah-wilayah yang mustahil dijangkau oleh robot penjelajah biasa. Meski masih dalam tahap penyempurnaan, perpaduan antara seni kuno origami dan teknologi masa depan ini membuka lembaran baru dalam ambisi manusia menetap di luar angkasa.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
Simak Video "Video Misi Artemis II: Jelajah Terjauh, Kini Pulang ke Bumi"
(dir/dir)