Pernahkah kamu membayangkan sebuah robot beroda yang terinspirasi dari origami mendarat di Bulan? Kini, Korea Selatan tengah bersiap untuk meluncurkan robot ini untuk menjelajahi Bulan!
Korea Selatan menciptakan sebuah robot beroda yang terbuat dari baja karbon tinggi tahan api, sehingga memungkinkan untuk menekuk dan melentur lebih mudah dibandingkan dengan roda konvensional. Roda ini juga kabarnya resisten terhadap perubahan suhu ekstrem di Bulan yang mencapai 500° Fahrenheit atau setara dengan 260° Celsius.
Roda ini dapat menyusut hingga berdiameter 9 inci, yang membuatnya muat dalam wahana pendarat bulan. Namun, saat mendarat dan digunakan di Bulan, rodanya bisa 'mengembang' hingga lebih dari dua kali lipat ukuran awalnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terinspirasi dari Origami
Bersama dengan timnya, Lee Seong-bin menghabiskan tiga tahun untuk mengembangkan robot ini bekerja sama dengan Unmanned Exploration Laboratory (UEL), sebuah perusahaan robotika luar angkasa swasta. Mereka terinspirasi oleh origami yang bisa berubah bentuk.
"Roda-roda tersebut terbuat dari beberapa strip fleksibel yang saling terjalin. Inti dari origami adalah kemampuannya untuk berubah bentuk," kata seorang kandidat PhD, Lee Seong-bin, dikutip dari CNN Science, Kamis (22/10/2026).
Lee Dae-young, yang merupakan profesor madya dan pengawas proyek ini, menjelaskan mekanisme roda yang terinspirasi dari origami tersebut. Pengubah bentuk konvensional biasanya membutuhkan volume, massa, dan kompleksitas yang jauh lebih besar, namun tetap tidak bisa diandalkan.
Menurutnya, sistem origami bisa menghilangkan kompleksitas tersebut sekaligus mencapai kemampuan untuk 'mengembang'. Roda-roda ini sudah diuji di gua maupun di lorong lava di Pulau Jeju, Korea Selatan.
Menggunakan prototipe yang lebih kecil, tim penelitian juga menguji roda ini di laboratorium dengan berbagai kondisi lingkungan, termasuk regolit Bulan, suhu ekstrem, dan lumpur.
Penggunaan AI
Setelah berhasil dengan sejumlah pengujian, robot penjelajah kemudian dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Yun Yi-seub, seorang mahasiswa jenjang magister di KAIST. Ia menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan desain robot penjelajah dan mengajarkannya cara bergerak, dengan memanfaatkan kemampuan AI yang belajar melalui uji coba dan kesalahan.
"Saya pikir kemampuan adaptasi AI dapat membantu eksplorasi ruang angkasa," katanya.
Intinya, Yun bersama tim peneliti ingin membangun kerangka kerja yang dapat mengidentifikasi bentuk optimal robot beserta jumlah roda yang ideal, supaya dapat digunakan dengan baik untuk melewati rintangan di Bulan.
Harapannya, kombinasi robot dan roda yang terinspirasi dari origami ini dapat menjelajahi terowongan bawah tanah yang terbentuk oleh aktivitas vulkanik purba di Bulan.
Berdasarkan laporan CNN Science, terowongan ini nantinya dapat melindungi koloni manusia dari radiasi kosmik dan suhu ekstrem. Namun, tantangan utamanya adalah akses yang sulit akibat lereng yang curam dan jurang yang dalam.
Baca juga: Korsel Resmikan 33 Kampus Fokus ke AI |
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
